Situasi peserta diskusi ketika pemutaran film “Wajah Lain Raja Ampat dan Potret Tanah Papua Terkini" di Gedung Akuarium Unisba, Jl. Tamansari No.1 Kota Bandung pada Selasa, (12/6). (Foto: Adelia Nanda Maulana/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Puluhan mahasiswa tampak antusias memadati Gedung Akuarium Universitas Islam Bandung (Unisba) dalam sebuah acara bertajuk “Papua Bukan Tanah Kosong” pada Kamis, (12/6). Melalui kegiatan ini, mereka menyuarakan keresahan atas eksploitasi Papua dan berbagai pelanggaran yang dialami masyarakat di balik keindahan alamnya.
Komite Sa Pu Alam, Fay mengatakan bahwa acara ini digelar sebagai respon atas kasus yang baru terjadi di Raja Ampat. Selain itu, bersamaan pula dengan bentuk kepedulian terhadap kerusakan lingkungan dan kekerasan yang terjadi di Papua.
“Kekerasan yang dilakukan pemerintah, oleh sistem hari ini menindas di tanah Papua. Sehingga teman-teman Unisba khususnya BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa-Red) Fakultas Dakwah dan juga disupport oleh teman-teman Suara Mahasiswa Unisba yang akhirnya bisa menggelar diskusi hari ini,” ujarnya saat diwawancara pada Kamis, (12/6).
Di samping itu, Ido salah satu komite Sa Pu Alam mengatakan, kegiatan ini bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk saling belajar dan memahami kondisi lingkungan yang kerap luput dari perhatian publik. “Jadi kita ngadain diskusi ini rencananya tur ke kampus-kampus untuk menjaring mahasiswa, kaum muda agar bisa aware terhadap isu Papua dan akhirnya akan datang untuk diskusi festival besar kita,” ucapnya.
Lebih lanjut Ido ungkap bahwa sejarah Papua yang dilihat sekarang tidak pernah terlepas dari sejarah penindasan yang panjang di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Ia menilai banyak kasus pelanggaran terhadap hak di tanah kelahiran mereka sendiri, seperti hilangnya budaya penduduk setempat, eksploitasi alam, hingga pembunuhan yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) yang belum terselesaikan sampai sekarang.
Menilik lebih dalam, bukan hanya tanah Papua saja yang merasakan hal seperti itu. Di Pulau Jawa sendiri pun sering terjadi pelanggaran serupa. “Sebenarnya yang terjadi di Papua juga banyak terjadi di wilayah Jawa. Bandung di Dago Elos, Smansa (SMA Negeri 1-Red), Cicalengka, Sukahaji. Bedanya dengan Papua, eskalasinya lebih tinggi karena di situ terlibat militer masif,” ungkapnya pada Kamis, (12/6).
Sementara itu, Pilamo salah satu mahasiswa asal Papua pun turut menyuarakan keprihatinannya terhadap tanah kelahirannya. Bagi masyarakat Papua, alam bukan hanya sekadar tempat tinggal atau sumber penghidupan namun bagian dari jati diri mereka sendiri. Ada ikatan yang tertanam kuat serta hubungan yang melekat antara manusia dan alam yang sudah terjalin turun-temurun.
Pilamo merasa, kehidupan masyarakat adat seakan dicabut dari akarnya. Seolah, hubungan manusia dan alam terpaksa harus dipisahkan. Kondisi yang sering disebut aktivis yaitu bentuk kolonialisme ekologis, yakni orang Papua yang tak hanya dihadapkan pada kekerasan fisik atau pembungkaman suara, tetapi juga pada perampasan ruang hidup secara sistematis oleh negara dan kepentingan oligarki.
“Dan tidak hanya terjadi di Papua, saya pikir di Indonesia juga mengalami hal sama soal perampasan ruang hidup. Karena ini mengalami sistem yang sama, sistem yang solid tidak berpihak kepada rakyat kecil, menjadi sumber kita untuk mencoba mendorong perlindungan lingkungan, perlindungan ruang hidup, perlindungan untuk masa depan manusia,” katanya.
Menurutnya, bentuk upaya yang dapat dilakukan ialah membuka ruang diskusi bersama mahasiswa di berbagai kampus agar dapat mengetahui kondisi kerusakan lingkungan di Papua. Melalui diskusi tersebut, mereka dapat berkampanye supaya publik lebih sadar serta peduli terhadap lingkungan dengan melindungi tanah, hutan, dan bumi demi masa depan bersama.
Mahasiswa asal Papua lainnya, Jess Yali mengatakan bahwa Papua tidak bisa dilepaskan dari persoalan yang kompleks. Dari sisi ekonomi, tanah Papua menyimpan kekayaan alam yang melimpah. Sayangnya, kekayaan ini kerap dipandang sumber daya yang siap dikeruk oleh negara dan korporasi. Padahal, kekayaan tersebut dapat dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat Papua sendiri untuk kesejahteraannya.
“Kami dari Papua sendiri, acara ini adalah bentuk kekecewaan dan keresahan kami. Kami ingin masyarakat luas mengetahui apa yang terjadi di Papua saat ini. Mengajak orang papua khusus nya di Indonesia untuk menyuarakan keadilan yang terjadi,” tuturnya pada Kamis, (12/6).
Fay pun berharap, agar seluruh persoalan yang terjadi di Papua menjadi perhatian bersama. “Tentunya persoalan Papua adalah persoalan yang saya rasa perlu menjadi sorotan bersama-sama karena ini bukan tanpa alasan. Pemerintah sendiri, negara sendiri, selalu menganggap Papua adalah lahan kosong sehingga bisa dilakukan berbagai eksploitasi tambang. Kemudian, hutan yang dibabat habis untuk dijadikan perkebunan sawit atau eksploitasi kekayaan alam lainnya yang masih terjadi hari ini,” pungkasnya.
Reporter: Kelvin Rizqi Pratama, Wiam Fadlul Rahman, & Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
Penulis: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
