Salah satu program yang dirancang oleh JaF adalah Festival Musik Keramik. Festival ini merupakan pertama di Indonesia, bahkan pada pembukaan yang melibatkan 1500 warga dengan menabeuh genting di lapangan ex. Pabrik Gula Jatiwangi merupakan yang pertama di dunia. Acara ini juga didaftarkan ke Musium Rekor Indonesia (Muri) yang pada pembukaan dihadiri oleh Wiwin Widyaningsih SH, notaries dari Muri. “Genting Jatiwangi itu budaya leluhur yang harus dilestarikan,” ujar Bupati Majalengka, H. Sutrisno, SE., M.Si, disela pembukaan Festival Musik Keramik, Sabtu (3/11).
Genting memang sudah menjadi satu-satunya identitas yang dimiliki Jatiwangi. Pengelolaan tanah yang tadinya hanya sebatas pada genting, diharapkan JaF dapat melahirkan inovasi baru dari tangan dingin warga Jatiwangi. “Tanah leluhur sudah menjadi sentral industri, bisa saja dieksplorasi selain genting,” tutur Beben Nurberi, ketua panitia Festival Musik Keramik.
Festival ini berlangsung selama dua minggu, 3-17 November dengan lokasi acara yang berbeda, namun masih di daerah Jatiwangi. Beragam alat musik berbahan dasar tanah Jatiwangi pun terlahir. Nantinya kolaborasi hasil karya seniman dan warga lokal tersebut akan dipamerkan pada puncak acara di penutupan Festival dan Pertunjukan yang mengambil lokasi Pabrik Genting Jatiwangi. “Alat musik petik, tiup, gesek, dan lainnya akan hadir di puncak acara,” ujar Tedi E.N, penggerak Festival Musik Keramik.

