Aku yang buta…
Hitamkan bayanganku
Buramkan penglihatanku
Goyahkan pikiranku
Lengah…
Aku yang buta, hanya diam
Aku yang buta, tak pernah karam
Aku yang buta, selalu terpejam
Aku yang buta, hanya tahu malam
Tersadar…
Benar-benar! Hatiku hancur
Kini tak mau tertidur
Lagi… lagi… lagi…
Karena ku tahu negeri tlah mundur
Aku yang buta mulai rindu
Dengan senyuman manis yang slalu menegur
Walau kesumringahannya itu tersangkut di layar maya
Mempertontonkan ke elokan perannya
Sekarang, aku yang buta sudah bosan
Melihat tontonan yang semakin membual
Inginku menggerutu, tapi tak cukup
Dia yang melihat sudah terpesona, sebutan ‘si darah biru’ tak ingin dihapuskannya
Tak peduli! Aku yang buta, dia tetap asyik di singgahsana
Aku yang buta tak tahu apa-apa
Hanya bisa berdo’a, berharap, dan tertawa
Semua ini, bukti bahwa ‘Dia yang melihat’ tak selalu benar
(N.Nita/SM)
