Ilustrasi beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas bersama di sebuah cafe dengan ditemani beberapa jenis kuliner olahan Matcha. (Ilustrasi: Nabila Siti/SM)
Suaramahasiswa.info, Unisba- Aroma manis dan warna hijau lembut matcha kini menjadi gaya hidup baru di kalangan mahasiswa. Bubuk hijau asal Jepang ini bukan hanya minuman kekinian, melainkan citra dari tren hidup sehat, estetika, dan penengah di kala padatnya dunia perkuliahan.
Sejak pertama kali ditemukan pada abad ke-12, matcha merupakan medium spiritual bagi para Biksu Zen untuk menjaga fokus dalam heningnya meditasi panjang. Hingga pada Upacara Chanoyu di Jepang pun, teh hijau bubuk ini perlahan menjelma menjadi simbol penting untuk tradisi spiritual.
Adapun sebelum dipanen, tanaman matcha ditanam di bawah naungan khusus agar terhindar dari sinar matahari langsung untuk menjaga kadar klorofil dan L-theanine agar tetap tinggi. Dari proses tersebut, tercipta bubuk hijau yang tak hanya menenangkan, tetapi juga membantu para penikmatnya agar tetap terjaga konsentrasinya.
Di kalangan mahasiswa, popularitas matcha kian melejit berkat derasnya arus konten berupa study vlog, morning routine, hingga make matcha with me yang menampilkan gaya hidup produktif dan estetik. Akibatnya, matcha dipandang sebagai simbol keseimbangan diri dan citra hidup sehat yang dibangun pada layar digital.
Bagi kaum milenial dan generasi Z, matcha menjadi minuman yang sejalan dengan tujuan kesehatan, selera estetika, dan identitas digital mereka. Tren ini tumbuh subur berkat peran media sosial yang menjadikan matcha sebagai bagian dari gaya hidup modern di kalangan mahasiswa.
Seiring dengan popularitasnya yang terus melejit, kini matcha merambah ke berbagai olahan makanan ringan hingga hidangan utama. Di Jepang, kreativitas kuliner melahirkan menu unik seperti ramen dengan kuah matcha yang memadukan cita rasa tradisional dengan sentuhan modern.
Sementara dari sisi kesehatan, matcha dikenal mampu meningkatkan fokus, meredakan stres, dan mendukung mekanisme gut-brain axis. Dibalik manfaatnya. kandungan kafein dalam matcha bila dikonsumsi berlebihan justru berpotensi mengganggu siklus tidur. Selain itu, kadar tanin yang tinggi dalam matcha pun dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh manusia.
Pada akhirnya, tren matcha di kalangan mahasiswa bukan sekadar rasa atau warna yang menenangkan tetapi sebagai bentuk ekspresi diri melalui pilihan gaya hidup. Di tengah hiruk pikuk dunia digital dan tuntutan produktivitas, matcha menjadi simbol keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan estetika.
Penulis: Nabila Siti Nurfadilah/SM
Editor: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
