Menertawakan Politik Kampus Biru

oleh: Bobby Agung Prasetyo*

“Kita membicarakan kenyataan dalam dunia yang tak kumengerti, kita membicarakan kepasrahan dalam spektrum yang hitam dan putih” ­Kenyataan Dalam Dunia Fantasi (Koil, Blacklight Shines On, 2007).

Dewasa ini…

Maaf ralat, tidak ada yang bisa ‘dewasa’ dalam permasalahan ini.

Pada lembaran baru 2015 ini, setidaknya kita telah melihat pesta demokrasi yang cukup banyak. Mulai dari pemilihan Ketua Himpunan, BEM Fakultas, pelantikan anggota baru UKM/LKM ini dan itu—termasuk Pers Suara Mahasiswa sendiri—dan lain-lain, menghiasi kampus kita tercinta. Semuanya dilakukan demi satu hal: menjaga ritme. Ya, apapun itu. Mulai dari ritme dinamika, ritme kaderisasi, sampai ritme menetesnya air bocor di Sekre ELC yang berada tepat di samping sekre kami, sudut belakang Unisba.

Merupakan hal yang sudah biasa bagi kami selaku media mahasiswa terbesar di Kampus Biru, dalam menyoroti segala problematika yang ada dalam miniatur negara ini. Mulai dari gontok-gontokan antar warna, disfungsi peran organisasi, keapatisan yang merajalela, sampai gosip ‘kondom bekas’ yang tak pernah kami gubris. Namun kali ini, saya merasa gamang dalam mega-mega tangga batu. Ini penyebabnya:

Sila lihat Suara Mahasiswa Selembar edisi terbaru Maret 2015. Ya, pemberitaan di media dinding kali ini adalah salah satu untaian elegi paling hakiki yang mungkin pernah saya baca perihal pergerakan Mahasiswa. Dalam rubrik New Message, isinya kurang lebih menggambarkan soal carut marut dalam internal BEM-Unisba. Satu hal yang tak perlu terjadi.

Kekacauan awak dalam kapal tersebut, terindikasi pasca pembacaan Sidang Tengah Periode (STP) sekitar pertengahan tahun lalu, dimana para pengurusnya (entah terpaksa atau disengaja) pergi meninggalkan kepengurusan; komitmen dan loyalitas yang entah dimana. Singkat kata, konflik internal membuat sang wakil lebih dianggap sebagai pemimpin daripada presidennya. Hal tersebut menyebabkan—atau mungkin sudah terjadi dari awal—beberapa program kerja terlambat, meski banyak yang sudah dituntaskan.

Keburukan terjadi pada faktor lain. Mau kemana diri ini mengadu, jika sosok pemegang amanat hilang ke entah berantah? Ya, yang saya maksud adalah DAM-U. Dalam rubrik Inbox di Suara Mahasiswa Selembar, digamblangkan bahwasanya sang Ketua berhasil meraih gelar S-1 sebelum masa jabatannya tuntas. Kelimpungan pun terjadi setelahnya, demi mencari pejabat sementara. Hal ini berimbas kepada koordinasi antar DAM-U dengan lembaga lain, sehingga kurang terangkul. Kasus ini sama saja dengan tahun lalu, dimana ketuanya sama-sama lulus sebelum kepengurusan berakhir.

Kabinet Insan Kamil BEM-Unisba seharusnya sudah berakhir pada 11 Maret lalu. Tersiar kabar, konon sudah ada beberapa calon yang katanya siap mengganti posisi Presiden Mahasiswa. Apa yang mau dikata, lantas, selain berharap akan kondisi yang lebih menjanjikan lagi di tangan kepengurusan selanjutnya? Meski begitu, namun tak dipungkiri bahwa progres BEM-U kepengurusan 2014-2015 ini memiliki kesan positifnya tersendiri, selain karena sekrenya yang selalu buka dari pagi hingga malam. Terima kasih, semoga bisa berakhir dengan baik.

“Idealisme adalah keistimewaan terakhir yang dimiliki pemuda,” begitu kurang lebih kata Tan Malaka. Semoga Wi-Fi dengan koneksinya yang sangat ‘manja’, foyanya jajanan sekitar Unisba, cozy-nya pelataran fakultas, dan manisnya ciki-ciki Kampus Biru, tak urung menghapus tekad kita selaku pejuang, pemikir, dan pembaharu, dalam menciptakan kondisiyang lebih progresif lagi. Urungkan kombinasi kata “disitu kadang saya merasa sedih”, karena tak ada yang lebih menyedihkan selain menjadi apatis. Dalam untaian doa yang shahih adanya, mari kita berbenah dan melawan.

 

*penulis adalah Pemimpin Umum Pers Suara Mahasiswa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *