Cyberbullying saat Pandemi Covid-19

Ilustrasi cyberbullying. (Foto/Russia Beyond)

Suaramahasiswa.info – Selama pandemi Covid-19, survei dari Firma Konsultan Kantar mencatat terjadi lonjakan tajam dari penggunaan aplikasi media sosial. Whatsapp dan Instagram merupakan platform yang mengalami lonjakan paling tinggi, yaitu sebesar 40 persen. Penyebabnya, kebutuhan komunikasi yang teralihkan akibat karantina. Hal itu dikutip dari katadata.com di beritanya pada tanggal 27 Maret lalu.

Tingginya pengguna internet berpotensi menciptakan cyberbullying atau perundungan dunia maya. Perundungan di dunia maya dapat diartikan sebagai bentuk agresi seorang manusia di dunia maya. Bentuknya berisi ancaman dan penyudutan, dilakukan secara berulang-ulang dan bermaksud membuat target merasa tidak nyaman. Di Indonesia, pada 2019 lalu Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan jika sebanyak 49 persen warga internet di Indonesia pernah menjadi sasaran perundungan.

Perilaku seorang youtuber, Ferdian Pelaka yang memberikan donasi berisikan sampah dan batu ke transpuan di masa pandemi Covid-19 berbuntut pada perundungan yang meluas di berbagai media, hingga berakhir pada hukuman jeruji besi bagi si pelaku.

Penelitian memperlihatkan, rasa malu memliki peran dalam perundungan. Semakin malu individu, maka akan semakin kuat keinginan individu untuk menarik diri dari dunia nyata, bahkan dalam sejumlah kasus akan memunculkan ide untuk bunuh diri. Artinya rasa malu dapat mejauhkan seseorang dari kehidupan sosial dan perundungan (Ramdhani, 2016:76).

Terkait dengan ide bunuh diri korban perundungan dunia maya, Januari 2020 lalu terdapat peristiwa bunuh dirinya seorang siswi SMP akibat perundungan di dunia maya.

Dikutip dari jurnal milik Ramdhani (2016:77), penelitian memperlihatkan jika semakin tinggi pemahaman seseorang terhadap perasaan orang lain maka kecenderungan untuk melakukan perundungan dunia maya akan semakin tinggi. Perundungan dunia maya akan semakin kuat jika individu tersebut memiliki rasa bersalah.

Hal lainnya yang mempengaruhi ialah tipe kepribadian. Dikutip dalam penelitian Satalina (2014:306), tipe kepribadian ekstrovert cenderung lebih tinggi untuk melakukan perundungan dunia maya ketimbang seseorang yang memiliki kepribadian introvert.

Perundungan didominasi oleh gender laki-laki ketimbang perempuan jika dilihat dari jurnal Ramdhani (2016:77). Walaupun, dalam jurnal milik Satalina (2014:308) gender perempuan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi karena lebih mudah untuk mengirimkan sebuah isu dunia maya tentang orang lain untuk menyakiti mereka.

Dalam dunia maya, perundungan dapat terjadi di antara pihak yang tidak saling mengenal, dikutip dari jurnal Ramdhani (2016:76). Faktor terpenting munculna perundungan di dunia maya ialah anonimitas pengguna. Dalam dunia maya, pengguna akun dapat menyamarkan identitasnya sehingga dapat memudahkan permusuhan dan tindakan agresif pengguna, dikutip dari jurnal milik Mawardan dan Adiyanti (2014:62). Mengutip dari katadata.co.id, Kepala Kemitraan Konten Hiburan Facebook, Revie Sylvana mengatakan jika perundungan dunia maya terjadi akibat belum matangnya emosi pengguna media sosial.

Penulis: Fadil Muhammad

Editor: Febrian Hafizh Muchtamar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *