Dicuri Ratusan Juta: Bangkitnya Kopma dari Bayang-bayang Pailit

Ilustrasi pencurian. (Ifsani Ehsan Fachrezi/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – “Survive kita pas musibah datang, jual banyak aset. Hutang Rp60 juta di luar ke anggota, jual kamera, laptop, kita ngeluarin surat kesepakatan dengan mitra kopma, jual satu mesin fotocopy, sampe ngorbankan pengadaan gas untuk bayar utang.”

Itulah sepenggal kalimat yang dilontarkan Ketua Koperasi Mahasiswa (Kopma), Yogi Herlambang saat diwawancarai Suara Mahasiswa. Dengan sedikit memelankan nada suaranya, ia mengatakan bahwa Kopma saat itu sedang mengalami ketidakstabilan – bahkan dirundung pailit. Salah satu anggotanya diduga mencuri harta dan barang berharga milik Kopma.

Kronologis Pencurian

Kronologis pencurian berawal dari pelantikan Kopma pada April 2019, tepat hari Sabtu-Minggu. Yogi mengatakan, modus pelaku mulai terdengar pada Senin pagi setelah pelantikan. Saat itu pelaku menghubungi Yogi bahwa di kantor Kopma terdapat beberapa uang dan aset barang yang hilang.

Ketika mendengar hal tersebut, sontak Yogi langsung meninjau ke tempat kejadian. Daftar yang hilang antara lain, uang di berangkas, proyektor, dan komputer. Jika ditotalkan, Yogi menyebut sekitar ratusan juta.

Peristiwa itu terlihat mengganjal, karena pintu kantor terlihat baik-baik saja, proyektor yang hilang bekas, ATM, buku keuangan, dan CPU kantor. “Waktu dilihat ke Kopma, betul berangkas [digital] mati, pintu utama keliatan baik-baik aja, cuma kuncinya ada di luar. Terus kenapa harus CPU yang diambil, saya mikirnya karena didalemnya ada data keuangan berkas,” tuturnya.

Satu minggu kemudian, Yogi merasakan hal lain yang ganjil. Berangkas digital yang dibobol tidak terlihat lecet sedikit pun. Padahal berangkas hanya bisa terbuka jika menggunakan kata sandi dan kuncinya saja. Jika melihat lebih jauh, pelaku lah yang punya akses berangkas.

Pengurus Kopma awalnya tidak percaya pelaku sebagai pencuri, karena pelaku dinilai baik dan mempunyai banyak uang. Selain kepada pengurus, Yogi pun menceritakan hal ini kepada alumi Kopma.

Tidak menunggu berlarut lama, dua minggu setelah kasus, Kopma mulai menguliti kasus ini dengan meminta alumninya, antara lain Dekan Psikologi Dewi Sartika, Dosen Akuntasi Unjani, Anggi, dan beberapa alumni lain.

Langkah pertama, introgasi setiap pengurus Kopma.

“Tanya jawab, semua diintrogasi. Pihak psikologi melihat dari psikologis, apakah ada sesuatu yg berbeda dan melihat apa ada ciri-ciri kesalahan. Sedangkan dari akuntansi, jawaban pelaku dinilai enggak masuk akal.”

Saat diintrogasi, pelaku belum mengakui. Untuk membuktikan kecurigaan lebih jauh, Kopma langsung menggeledah kostan pelaku. Transparasi dana tidak dilakukan pelaku, dengan berdalih ATM, KTM, dan KTP-nya hilang.

Namun di kostannya ditemukan bukti pertama: rekening koran dari awal tahun 2018. Yogi mengungkap, pelaku sudah menarik uang hingga bulan November 2018. “Yang ditemukan mutasi rekening koran. Buku tabungan ternyata ada di kostannya,” sebutnya

Yogi menyebutkan total semua di rekening bank ada Rp60 juta ditambah Rp270 juta, setelah melakukan cek ke bank tersebut pada akhirnya di tahun 2019 sisa uang sebanyak Rp6 ribu per akhir Desember 2018.

Pelaku ditanya habis-habisan dari pagi sampai sore. Pada akhirnya pelaku mengakui uang yang diambil untuk keperluan pembangunan rumah keluarganya.

Berita Acara Perkara (BAP), mutasi rekening, dan pengakuan pelaku sudah dikumpulkan. Yogi pun mengeluarkan surat pemecatan tidak terhormat. “Pemecatan kita lakukan saat dia di kos-kosan. Reaksi dia nangis, minta tolong jangan sampai ada yang tahu, malu.”

Yogi dan pihaknya pun mendatangi keluarga pelaku untuk dimintai tanggung jawab. Orangtua pelaku sempat emosi, tidak terima dan tidak percaya atas apa yang menimpa anak semata wayangnya itu. Memakan waktu lama, hingga akhirnya keluarga sepakat untuk membawa kasus ini ke ranah kekeluargaan.

Pihak pelaku hingga tahun 2019 baru membayar Rp11 juta, dari kerugian ratusan juta rupiah. Padahal kesepakatan membayar per-tiap bulan. Jika hingga akhir tahun 2019 tidak lunas, maka kasus ini akan dibawa ke jalur hukum.

Dengan sabar Kopma berjuang hingga akhir tahun 2019 untuk mendapatkan tanda tangan pihak pelaku. Kopma meminta pelaku menyerahkan sertifikat tanah sebagai bentuk pembayaran utang.

Pergantian tahun ke 2020 progress kopma membuahkan hasil baik, keinginan Kopma agar rumah pelaku berpindah tangan, bisa tercapai. Hal tersebut didasari oleh kesepakatan awal surat pernyataan mengenai rumah jaminan jika tidak membayar.

Untuk mendapatkan tanda tangan dirasa sangat sulit. Orang tua pelaku tidak menyepakati hal itu. Mereka berdalih butuh waktu untuk diskusi lagi bersama keluarga lainnya. “Padahal sudah kita kasih waktu untuk musyawarah. Terus aja alesannya itu. Ke mana komitmennya,” ucap Yogi dengan nada tinggi.

“Kita terus memaksa mereka tanda tangan. Akhirnya mereka tandatangan, walaupun di dalam suratnya tidak kita dicantumkan termin waktu yang jelas.”

Perjalanan hingga tahap keberhasilan, Yogi bercerita membutuhkan waktu yang lama, dan perencanaan yang berubah. Awalnya, beberapa alumni Kopma menyepakati untuk membantu hingga kasus ini selesai. Namun pihak alumni tidak bisa dihubungi kembali, hingga akhirnya perjalanan pun dilakukan oleh kopma sendiri.

Yogi bersyukur utang-utang kopma akibat pencurian itu sudah lunas dari Januari 2020. Bukan hanya itu, Kopma pun berhasil menarik karyawan lagi. Fokus sekarang Yogi katakana hanya pada tahap penyelesaian kasus.

“Kopma sekarang udah bisa ditinggal karena udah ada karyawan, tinggal sayanya aja yang harus kiat-kiat menyelesaikan masalah. Sekarang tinggal nunggu notaris untuk penyelesaian surat menyurat tanah.”

Perihal sokongan dana, Yogi bercerita bahwa Unisba membantu dana transportasi hingga kasus selesai. Oleh karena itu terkait transportasi, Yogi menyebut tidak ada hambatan hingga kasus berhasil. “Ya universitas hanya membantu transpotrasi saja, dana-dana lainnya tetap kami [Kopma] yang menanggung.”

Wakil Rektor III, Asep Ramdan Hidayat membenarkan bahwa universitas mendukung dana transportasi. Sistem peminjaman pun sama halnya dengan kegiatan kemahasiswaan lainnya, bedanya hanya supir tidak ditanggung universitas, karena kegiatan yang tidak menentu.

“Kita enggak kasih supir, soalnya mereka itu kegiatannya tidak tentu, terus tujuannya tidak di satu titik saja, jadi kita beri keleluasaan berupa transportasi itu,” ujarnya pada Kamis (12/3).

Selain itu, Asep membuka diskusi terkait kasus tersebut, terutama solusi yang harus dilakukan Kopma nantinya.

Rencana Kopma

Kasus ini menjadi pelajaran besar bagi Kopma. Kopma akan melakukan penggemukan struktural, dan membuat SOP baru agar hal ini tidak terulang Kembali. “Mau nambahin struktur. ‘Kan biasanya dari tahun ke tahun 13 pengurus terus tuh, padahal dari sisi kemampuan menguasi bidang berat. Agar bisa lebih termonitoring juga bidang ke bidang lainnya,” ungkapnya di depan sekretariat Kopma.

Dalam ungkapannya, Yogi mengatakan semoga adanya kasus ini bisa dijadikan pembelajaran bagi orgsnisasi kampus lain. Setiap organisasi harus mempunyai pemimpin yang pintar dalam hal apapun agar di bawah pemimpinnya juga dapat berjalan dengan baik.

Reporter: Fadil Muhammad, Febrian Hafizh Muchtamar, Puspa Elissa Putri

Penulis: Puspa Elissa Putri

Editor: Febrian Hafizh Muchtamar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *