[Artikel] Apatisme Mahasiswa, Tak Sadar Akan Kebersihan

“Bersuci [thaharah] itu sebagian daripada iman.”(HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi)

Hadits tersebut tampaknya sudah tidak asing lagi kita dengar. Kesehatan dan kebersihan tentu menjadi perhatian besar dalam agama Islam. Salah satu contohnya adalah kita harus bersih saat hendak beribadah. Selain itu, dalam Islam kebersihan tak hanya menjadi suatu kebiasaan, namun menjadi ibadah.

Unisba sebagai kampus yang berlabel Islam tentu menjunjung nilai keislaman. Seperti dua poin dari misinya yaitu:  a. Menumbuhkan Kepeloporan, pembaharuan pemikiran, dan pelaksanaan kehidupan yang islami; b. Mengembangkan kehidupan kampus yang ilmiah dan Islami

Kalimat ‘pelaksanaan kehidupan yang islami’ bisa dilaksanakan dengan kebersihan yang ada di kampus itu sendiri. Itu hanya contoh kecilnya saja. Jika seperti itu, apakah Unisba telah menerapkannya?

Tahun 2013, suara mahasiswa pun pernah menyinggung soal kebersihan di Unisba (Baca:  http://suaramahasiswa.info/kebersihan-cerminan-iman-kampus-biru/). Saat itu, Iwan Hermawan, bagian kebersihan Kamtiber Unisba mengatakan jika mahasiswa memang masih kurang peka dengan kebersihan lingkungan.

Beberapa spot di kampus yang menjadi perhatian, seperti toilet wanita yang berbarengan dengan tempat wudhu. Tempat ini lumayan sering dan banyak orang yang menggunakannya. Namun, sangat miris ketika melihat banyak sekali sampah di area sana apalagi dekat cermin. Pernah suatu waktu sampah menumpuk lalu ada seorang ibu dari luar Unisba menyindir “Wah kalau di kampus saya meski ada mahasiswa baru juga tidak pernah sekotor ini”. Menjadi tamparan tentu saja.

Toilet di beberapa fakultas yang berada di Tamansari pun, dirasa masih ada yang kurang terjaga. Belum lagi di ruang perkuliah selalu saja ada sisa makanan.  Lalu sebenarnya siapa yang salah? Cleening Service kah? Atau malah kita sendiri?.

Tidak ada yang bisa disalahkan. Semua kembali pada kesadaran masing-masing. Puluhan CS pun tentu sudah memegang tugasnya masing-masing dan bekerja ‘sebaik mungkin’.  Mahasiswa pun beragam karakter. Ada yang sangat cinta kebersihan, ada juga yang cuek. Nah yang cuek itu yang jadi oknum kenapa semua ini terjadi.

Ayolah kita sudah MAHA-SISWA bukan lagi anak-anak yang hanya menunggu orang membersihkannya. Lakukan dari yang terkecil saja, saat melihat sampah berserakan dimana-mana langsung membuangnya ke tempatnya, bukan dibiarkan atau malah kita sendiri yang suka menyimpannya dimana saja.

Jika kita seorang muslim yang beriman akan suka dengan kebersihan kan? Bukankah Allah juga senang dengan keindahan? (Intan/SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *