Ilustrasi seseorang yang dibatasi hak menyuarakan pendapat oleh sosok 'Tikus Berdasi' (Ilustrasi: Siska Vania/SM).
Buku Bungkam Suara mengisahkan tentang masyarakat yang sering dipaksa untuk bungkam. Cerita ini berlatar di Negara Kesatuan Adat Lawaknesia (NKAL), sebuah negara fiktif dengan sistem pemerintahan yang unik, dimana rakyat hanya punya jatah satu hari dalam setahun untuk bisa bicara dengan bebas, yakni ketika “Hari Bebas Bicara” tiba.
Hari itu, semua orang bebas bicara blak-blakan tanpa takut hukum, niat awalnya untuk mencapai keadilan dan demokratis. Namun, berakhir menjadi boomerang untuk ajang menyebar aib, fitnah, dan ujaran kebencian.
Dari bagian cerita ini, kita bisa melihat betapa kacau dan rusuhnya kebebasan bicara tanpa konsekuensi hukum. Misalnya, ketika media sosial dipenuhi dengan orang-orang yang saling menuduh tanpa bukti, menyebarkan fitnah, dan menghina satu sama lain atas nama “kebebasan berpendapat”.
Penulis, yakni J.S.Khairen sukses menggambarkan bagaimana masyarakat yang mudah termakan hoaks dan propaganda dari oknum-oknum tertentu. Setiap Episode dalam buku ini mengajak kita untuk berpikir cermat, tidak asal dalam menyimpulkan dan percaya dengan orang lain.
Dibalik polemik propaganda yang beredar, hal lain yang membuat buku ini menarik adalah cara penulis menampilkan proses “pembungkaman” bagi rakyat yang bersuara dengan kritis. Pembungkaman tersebut tidak dilakukan secara terang-terangan. Kadang, membungkam suara orang lain bisa menggunakan aturan yang dibikin-bikin atau tekanan sosial yang membuat mereka berpikir dua kali untuk berbicara.
Buku ini juga menyoroti bagaimana orang-orang yang punya kuasa menyalahgunakan jabatannya untuk membungkam kritik dan mengintimidasi rakyat. Buku ini seolah menunjukkan, bagaimana suara rakyat bisa jadi pedang bermata dua, dalam menegakkan kebenaran atau malah saling menghancurkan.
Jujur Timur atau biasa dikenal dengan sebutan Timmy adalah karakter utama dalam cerita ini. Ia berjuang mati-matian untuk membongkar “Durian Busuk” (alias kebenaran yang ditutup-tutupi), sambil juga melawan ketakutannya sendiri untuk berbicara di tengah banyaknya kepalsuan.
Ia, berulang kali menggali informasi tersembunyi, mencari bukti-bukti, dan melawan intimidasi dari pihak-pihak yang ingin menutupi kebenaran tersebut. Berbagai ancaman dan tudingan terus menghantui Timmy saat ia mencoba membongkar “Durian Busuk“, semua demi memperjuangkan kejujuran di lingkungan yang menekan suara kritis.
Buku “Bungkam Suara” relevan dengan masalah pembungkaman rakyat yang berani bersuara di dunia nyata. Tingginya kasus kriminalisasi dan peraturan yang membatasi kebebasan berekspresi dan berpendapat menjadi salah dua cara dalam pembungkaman rakyat.
Karena, meskipun kebebasan bicara itu penting, tapi kalau tidak ada kontrol atau batasannya, justru bisa memecah belah rakyat dengan rakyat dan bisa bikin orang takut speak up karena khawatir diserang balik.
Contoh fenomena di Indonesia, saat ada yang berani bicara soal korupsi atau ketidakadilan di media sosial, tapi malah dibalas dengan serangan, fitnah, atau laporan balik karena dianggap mencemarkan nama baik. Karena inilah, banyak orang takut untuk menyampaikan sesuatu, sekalipun itu benar.
Buku ini bukan hanya menyajikan cerita fiksi yang seru untuk dibaca sampai habis. Tetapi, Bungkam Suara juga adalah bentuk sindiran keras yang mengajak kita untuk jadi pribadi yang lebih cerdas dalam bertindak, tidak mudah terprovokasi salah satu pihak, serta berani dalam menyuarakan kebenaran.
Penulis: Siska Vania/SM
Editor: Adelia Nanda Maulana/SM
