Ilustrasi seorang ibu yang sedang memegang pan dan menghadapi para penggusur tanah di tengah reruntuhan bangunan rumah. (Ilustrasi: Atikah Tari Putri/Job).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Di tengah ancaman penggusuran paksa, para ibu berdiri di garda terdepan perlawanan. Tidak lagi ditempatkan semata dalam ruang domestik, mereka tampil sebagai pelindung utama ruang hidup keluarga, melawan ketidakadilan yang mengancam keberlangsungan hidup mereka.
Perlawanan yang dilakukan para ibu sejalan dengan pandangan ilmuwan politik James C. Scott, yang memaknai perlawanan sebagai tindakan yang tak menuntut pengorbanan besar, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Perlawanan ini kerap lahir dari posisi ketidakberdayaan dalam menghadapi relasi kuasa yang timpang, namun tetap menjadi bentuk penolakan terhadap ketidakadilan.
Perempuan dalam Gerakan Perlawanan
Keterlibatan perempuan dalam gerakan perlawanan sejatinya bukan hal baru. Sejarah mencatat bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai aktor pendukung, tetapi juga pelaku utama dalam berbagai bentuk perlawanan. Tokoh-tokoh seperti Cut Nyak Dhien dari Aceh dan R.A. Kartini dari Jawa Tengah menunjukkan keberanian, kesadaran kritis, serta sikap melawan penindasan.
Sementara dalam konteks agraria, perempuan memiliki peran dalam pengelolaan tanah dan sumber daya alam dengan harapan menjaga ruang hidup dari ancaman konflik perampasan lahan. Sayangnya, peran tersebut kerap terpinggirkan akibat sistem hukum dan budaya patriarki yang masih membatasi perempuan dalam kepemilikan serta penguasaan tanah.
Misalnya, melihat perlawanan perempuan yang terjadi di sengketa lahan Sukahaji. Warga, termasuk para ibu tidak gentar melakukan perlawanan terhadap ancaman pengosongan lahan secara paksa oleh pihak yang mengaku atas kepemilikan ruang hidup mereka.
Stigma Sosial Perempuan Ketika Melawan
Di ruang publik, perempuan acapkali dihadapkan pada standar ganda dari norma sosial. Terutama norma dalam hal mengatur ranah rumah tangga yang kerap membuat keterlibatan perempuan akan perlawanan dipandang menyimpang
Stigma negatif terhadap perempuan yang bekerja, berkarir, atau terlibat aktif di ruang publik masih sering muncul. Padahal, perlawanan yang dilakukan perempuan tidak hanya menentang kebijakan yang menindas, tetapi juga menantang pandangan sosial yang membatasi ruang gerak di ruang hidup.
Meski demikian, perlawanan tersebut perlahan memicu perubahan sosial. Kehadiran perempuan, khususnya para ibu di ruang publik turut menggeser cara pandang masyarakat terhadap peran gender sekaligus menantang norma patriarki yang selama ini membatasi ruang gerak mereka.
Penulis: Atikah Tari Putri/Job
Editor: Siska Vania/SM
