PTIS, Tuju Calon Rektor Unisba Urut Dua

Calon Rektor Unisba nomor urut dua Edi Setiadi menjelaskan visi dan misinya dalam membangun Unisba menjadi Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) yang unggul saat diwawancarai yang bertempat di ruangannya Kampus Ranggagading Unisba, pada Jumat (14/7/2017). Guru Besar Ahli Kriminologi Unisba ini menginginkan nantinya Unisba serta menjadi centre of excellent.

Suaramahasiswa.info, Unisba – Periode kepemimpinan Thaufiq Boesoirie telah menuju batas akhir jabatannya. Peran pengganti calon rektor yang baru perlu diisi untuk meneruskan tongkat estafet Thaufiq untuk memimpin kampus biru ini. Salah satu calonnya ini, tentunya tak asing lagi bagi sebagian civitas akademika Universitas Islam Bandung (Unisba). Penasaran dengan calon nomor urut dua yang satu ini? Mari simak ulasannya.

Edi Setiadi, pria kelahiran Tasikmalaya 10 November 1959 ini ingin mewujudkan Unisba sebagai Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) yang unggul, bermartabat, mandiri dan berdayasaing global. Hal ini menjadikan trek derivasi visi yang akan dijalankan oleh calon rektor, Edi Setiadi. Mengedepankan ‘HARMONY’ menjadi landasan program dari Edi Setiadi. HARMONY sendiri memiliki singkatannya yaitu humble, agile, respect, motivated, outstanding school, nation, integrity, dan sustainability.

Menjadikan Unisba sebagai perguruan tinggi swasta terkemuka dalam tingkat Association South East Asian Nation (ASEAN) dengan jati diri kampus Islam juga merupakan keinginan Edi. “Saya ingin menekankan Unisba menjadi PTIS yang maju. Dan juga sesuai dengan koridornya memegang teguh nilai-nilai Islam serta menjadi centre of excellent,” ucapnya saat ditemui di ruangannya pada Jumat (14/7).

Kendati ingin menjadikan Unisba menjadi perguruan tinggi swasta terkemuka, Unisba masih memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki. Menurut Edi yang sekarang menjabat selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), diantaranya permasalahan Unisba saat ini memiliki tiga poin mendasar yaitu dari Sumber Daya Manusia (SDM), publikasi ilmiah, dan kemahasiswaan.

  1. Sumber Daya Manusia (SDM)

Nama Unisba yang sudah cukup besar di Indonesia nyatanya tidak sebanding dengan standing akademik dosen. Nyatanya, saat ini Unisba hanya memiliki 10 guru besar yang masih aktif. “Ciri sebuah perguruan tinggi maju itu dilihat dari kualifikasi dosen yang menyandang doktor,” ungkapnya.

  1. Publikasi ilmiah

Kelemahan Unisba saat ini memang ada pada publikasi karya tulis ilmiah dari dosen juga mahasiswa. Langkah insentif menjadi antisipasi dosen yang minim melakukan penelitian. “Di samping itu menyediakan anggaran penelitian yang banyak sehingga dosennya semua meneliti, masih banyak dosen yang belum menulis jurnal internasional.”

  1. Kemahasiswaan

Seperti yang diketahui nilai mahasiswa itu hanya 0,01. Hal itu diiyakan oleh Edi yang menuturkan  aktivitas mahasiswa dibidang akademik tidak dapat tercover dengan baik. Ia juga ingin mendorong kehidupan mahasiswa dalam beraktifitas mahasiswa daripada aktifitas akademik lainnya yang bisa menyalurkan bakatnya.

*

Kesibukannya menjadi seorang profesor tidak menghalangi Edi untuk berbuat hal lebih. Salah satu dosen yang kenal dekat dengan beliau, Septiawan Santana mengatakan ahli hukum pidana ini merupakan sosok yang ia kagumi. “Bayangkan ia bisa menulis tulisan opini atau artikel di tengah rapat, setelahnya tulisan yang rampung lalu dipublikasikan dan naik di media online. Ia juga seringkali menjadi narasumber diberbagai media,” ucapnya.

Menurut Septi, ia juga sering mengajar anak SMP mengaji di lingkunga rumahnya sekaligus menjadi ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Berlabel profesor, kegiatan sosial yang dilakukan tidak perlu diragukan lagi. Di Unisba, beliau juga telah menjadi Guru Besar Hukum Kriminologi Unisba.

Salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Irman Kurniawan merasakan sosok Edi selama mengajar. “Prof Edi banyak lah pengalamannya di bidang hukum. Jadi wawasannya juga luas berhubung ia profesor. Terus pas ngajarnya juga enak mudah dimengerti,” jelas mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 14 tersebut.

Sosoknya begitu dikenal luas dengan masyarakat kampus biru. Menjadikan world class university menjadi ujung tombaknya dalam mengiringi perjuangannya membuat Unisba baik. Ia juga mengakui Khalifah Umar menjadi tokoh yang dikaguminya.  Prinsip dalam hidupnya adalah menjadi orang yang paling keras di dunia, dan orang yang paling lembut di dunia. Artinya keras kepada kebatilan dan lembut kepada kebenaran. (Fadhis/SM)