Unisba Kampus Anti-Kritik

Oleh : M Fajar Siddiq Permana

Salah satu ciri umat Muslim adalah bersikap kritis dengan cara memberi dan menerima kritik. Hal itu dimaksudkan agar terhindar dari taqlid buta (mengikuti tanpa pengetahuan), juga agar kita terhindar dari sikap sombong dan egoisme. Kritik adalah simbol kecerdasan dan kepedulian, jika kritik diibaratkan dengan diagnosa ia adalah awal dari penyembuhannya.

Sikap kritis itu harus dihargai, karena kemampuan ini menimbulkan adanya nilai  usaha-usaha yang tidak mudah. Salah satu nilai tersebut adalah empiris. Bukan sekedar mendengar lalu melupakan. Atau mungkin mendengar lalu mengingat saja. Tetapi harus disertai pemahaman dan tanggung jawab dalam berbuat atau bersikap. Paling tidak jika kritik dilakukan dengan tulisan atau  perbuatan yang sopan, akan menjadi perbuatan nahyi mungkar amar ma’ruf, bil-lisanatau bil-qalbi.

Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan”. Maknanya, kita harus bisa bersikap terbuka menerima kritik dari siapa saja, karena kebenaran bisa datang dari mana saja. Bahkan seorang anak kecil atau mungkin dari seekor binatang.

Menyoroti  Kampus Unisba yang masih jauh dari harapan kami selaku mahasiswa. Institusi Rektorat  dinilai masih birokratis. Kurang peduli pada aspirasi mahasiswa, dalam segi perkuliahan, sosialisasi tentang Surat Keputusab (SK). Wajib berkerudung yang tidak efektif, dan hak-hak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau Lembaga Kegiatan Mahasiswa (LKM) yang kurang. Bahkan tidak jarang dengan sengaja mereka bungkam ketika mahasiswa meberikan kritikan tentang transparansi dana.

Kondisi ini telah menimbulkan rasa tidak nyaman dan tidak aman bagi mahasiswa Unisba. Mahasiswa juga dipandangnya memiliki banyak dosa besar, karena  tidak membaca atau bertanya kepada teman. Selain itu mahasiswa pun di tuduh  Don’t make up excuses (kasus SKS di bulan Agustus), ini menjadi sorotan bagi mahasiswa bahwa bobroknya Rektorat yang bersifat senaknya sendiri.

Uang kerap kali membuat sensitif pihak Universitas dan Rektorat Unisba. Lebih tidak menerima kritikan meski dari mahasiswanya sendiri. Biaya kuliah yang dibayarkan mahasiswa jarang sekali ditransparasikan oleh pihak rektorat. Mahalnya biaya perkuliahan yang mencapai langit tidak pernah disebutkan perinciannya secara detail kepada mahasiswa.
Dalam hal ini, pihak Rektorat Unisba yang anti kritik menjadi pemenang atas kasus tersebut. Kampus ibarat negara kecil, sama halnya seperti pemerintah yang berkuasa. Kampus lebih leluasa mengambil dan memutuskan kebijakan. Sementara mahasiswa, rakyat kecil yang tidak berhak mengutak-atik.

Mahasiswa selalu menghadirkan suasana dimana emosi mudah sekali bergejolak. Dinamika kampus Unisba yang sarat akan demokrasi memberi ruang bagi para mahasiswa untuk menegakkan keadilan sosial.  Sudah menjadi rahasia umum, ketika aspirasi mahasiswa tidak ditanggapi secara serius oleh Rektorat, aksi demonstrasi akan menjadi jalan terakhir.

Pihak Rektorat seharusnya menerima kritikan tersebut dengan lapang dada. Karena hal itu sebagai bentuk kepedulian mahasiswanya sendiri dalam sumbangsih memperbaiki kualitas perguruan tinggi dan Talk a sense. Selain itu, kontrol sosial ini juga bermanfaat sebagai upaya perbaikan kinerja akademisi kampus dan stop pretending me dihadapan mahasiswa.

Jangan remehkan Mahasiswa, karena sejarah telah mencatat gerakan reformasi pada 1998 yang berhasil dilakukan ribuan mahasiswa Indonesia. Dalam rangka untuk menumbangkan orde baru saat itu. Jadi, lebih memilih didemo mahasiswa atau menerima kritikan melalui tulisan? Bukankah mengkritik itu bagian dari demokrasi yang sehat?

Penulis merupakan Menteri Dalam Negeri BEM Unisba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *