Potret wilayah lampu lalu lintas Balubur Town Square (Baltos) tepatnya di Jl. Tamansari, Lb. Siliwangi, Kota Bandung sebagai tempat pemberhentian AR secara paksa oleh orang tidak dikenal, pada Kamis (4/9). (Foto: Muhammad Chaidar Syaddad/SM).
Peringatan: Tulisan ini mengandung unsur kekerasan yang dapat memicu trauma, khususnya bagi para penyintas kekerasan. Berhentilah sejenak jika pembaca merasa tidak nyaman, hubungi layanan konseling psikologis jika kondisi tersebut sekiranya dapat membahayakan diri.
Suaramahasiswa.info, Unisba- Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Islam Bandung (Unisba) berinisial AR menjadi korban tindakan represifitas pada Selasa, (2/9). Mahasiswa tersebut diduga ditangkap secara sewenang-wenang oleh sosok tidak dikenal yang terindikasi sebagai aparat di sekitar lampu merah Balubur Town Square (Baltos) Kota Bandung.
Adapun kakak kandung korban, Iqbal Syen mewakili adiknya yang belum siap memberikan pernyataan secara langsung, memaparkan bahwa AR sedang dalam perjalanan pulang dari tempat magang daerah Surapati ketika diberhentikan oleh orang tidak dikenal di lampu lalu lintas Baltos. Saat diperiksa, identitas AR menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) Unisba sehingga ia dibawa ke Komando Rayon Militer (Koramil) 1812 Bandung Wetan.
“Jadi posisinya dari stopan balubur itu kan ada segitiga ya, ada taman kecil, yang sambungan jalan dari arah pelesiran. Nah, diberhentikan entah sama aparat atau siapa, terus jalan ke Koramil, tapi posisinya sambil ngedorong motor karena kunci motornya diambil.” Jelas Iqbal saat diwawancara pada Kamis, (4/9).
Lebih lanjut, Iqbal menjelaskan sesampainya di Koramil, AR diminta berjalan jongkok sebelum dibawa ke sebuah ruangan yang dipenuhi banyak orang. Di dalam ruangan tersebut terdapat sejumlah orang lain dengan kondisi luka beragam, mulai dari kaki yang berlubang hingga ada yang disiram air panas.
“Itu posisinya AR lagi jalan jongkok jadi di bawah, tengkurap lah, setelah itu dijenggut ke atas, lutut masuk ke perutnya setelah itu AR gak sadar apa-apa tapi sambil teriak saya pulang magang, saya pulang magang. Akhirnya tasnya digeledah, alhamdulillah AR bawa surat persetujuan magang terus kedengaran juga sama AR, lain nu eta, lain nu eta (Bukan yang itu-Red),” jelas Iqbal.
Iqbal melanjutkan, surat magang milik AR dirobek dan dibuang, lalu KTM serta Surat Izin Mengemudi (SIM) ditekuk hingga terlipat. Tidak hanya itu, uang sebesar Rp120.000 milik AR juga diambil.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fikom sekaligus sahabat AR, Rian Juniar Syah menanggapi bahwa tindakan aparat terhadap mahasiswa berinisial AR merupakan bentuk represif. Rian menegaskan, AR baru saja selesai magang dan tidak mengetahui apa-apa terkait kericuhan aksi demonstrasi.
“Ini udah jadi bentuk represif dari aparat sendiri. Mungkin memang dia (Aparat-Red) tidak memakai seragam, tapi anak ini (Mahasiswa inisial AR-Red), dia tidak tahu apa-apa atas kejadian ini, juga kenapa gitu orang yang nggak salah sampai dipukuli sampai dibawa ke Koramilnya, jelas-jelas dia (Mahasiswa inisial AR-Red) sudah bilang bahwasanya dia baru selesai magang,” tuturnya pada Rabu, (3/9).
Sementara itu, Iqbal ungkap kondisi AR saat ini sudah membaik meski masih mengalami kesulitan berjalan. “Lebih baik dari kemarin, tapi emang rada kesulitan, masih sakit di area perut karena otot ya. Kemarin beneran gak bisa jalan, harus digotong, dari rumah ke garasi mobil juga itu diangkut. Turun dari mobil ke IGD pun itu sama pakai kursi roda,” ungkapnya.
Di sisi lain, Tresna Wiwitan selaku Wakil Dekan III Fikom Unisba menyampaikan telah mendatangi rumah AR dan melihat kondisinya setelah insiden tersebut. Ia menuturkan, AR baru pulang magang saat kejadian dan kini hasil visum dari rumah sakit sudah diterima.
Meskipun begitu, Wiwit melanjutkan jika pihaknya belum bisa memberikan pernyataan lebih lanjut terkait situasi yang dialami AR. “Kita bicara public relation ya, ketika menyampaikan informasi harus tell the truth gitu sesuai data dan fakta di lapangan, karena prinsipnya seperti itu, data kita belum lengkap jadi kita belum bisa berani menanggapi. Belum bisa memberikan statement lengkap karena kita harus based on data,” kata Wiwit saat ditemui pada Kamis, (4/9).
Wiwit berharap peristiwa serupa tidak kembali menimpa mahasiswa Fikom. Sama dengan itu, Iqbal juga berharap tidak ada terjadi lagi kekerasan terhadap warga sipil dalam bentuk apa pun. Ia juga meminta agar jika dilakukan sweeping, aparat cukup memeriksa identitas tanpa menggunakan kekerasan.
Selain itu, Rian menghimbau mahasiswa untuk tetap waspada dan menjaga keselamatan mengingat situasi di lapangan tidak dapat diprediksi serta adanya potensi tindakan represif dari aparat. Ia juga menegaskan, agar mahasiswa tidak takut dalam menyuarakan pendapat karena perlawanan tidak selalu harus dilakukan di lapangan.
“Pokoknya untuk kawan-kawan jangan takut karena memang perlawanan belum cukup sampai di sini aja. Mungkin perlawanan itu nggak harus langsung terjun ke lapangan. Jadi ya, mungkin harapannya kalian juga selalu aware lah atau bantu melalui media sosial,” tutupnya.
Reporter: Muhammad Chaidar Syaddad/SM
Penulis: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
Editor: Adelia Nanda Maulana/SM
