Suasana di depan Gedung Gedung Kartimi Kridhoharsojo Universitas Islam Bandung (Unisba) sebagai titik evakuasi korban massa aksi pada Jumat, (29/8). (Foto: Linda Puji Yanti/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba– Gedung Kartimi Kridhoharsojo Universitas Islam Bandung (Unisba) menjadi salah satu titik evakuasi korban massa aksi demonstrasi bertajuk “Rakyat Ingin Revolusi” yang diselenggarakan di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa barat pada Jumat, (29/8). Sebanyak 208 orang dievakuasi dengan sejumlah korban dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Salah satu dokter yang menangani di lapangan, Roswanda Hadi Surya Bahari, menjelaskan bahwa sebagian besar korban mengalami sesak napas akibat paparan gas air mata, bahkan beberapa di antaranya memiliki riwayat asma. Selain itu, terdapat beberapa korban dengan luka terbuka yang diduga akibat lemparan batu maupun pukulan serta yang memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit terdekat.
“Kebanyakan sesak nafas yang biasa dikarenakan dari gas air mata, ya, gas air mata itu, kan dari kandungannya bisa mempersempit saluran nafas, itu bisa menyebabkan kesulitan untuk bernafas, selain daripada itu juga bisa menyebabkan adanya perih pada mata,” ujar Roswanda pada Jumat, (29/8).
Ia melanjutkan, penanganan medis telah dilakukan dengan kolaborasi dari berbagai pihak, antara lain Fakultas Kedokteran (FK) Unisba dan Keperawatan Universitas Padjadjaran (Unpad). Selain itu, dibantu pula oleh relawan dari Palang Merah Indonesia dan paramedis jalanan yang ikut membantu evakuasi korban massa aksi.
Roswanda menilai, fasilitas dan tenaga medis yang tersedia terbilang sudah cukup memadai. Koordinasi tenaga medis dengan pihak Rektorat dan antar Fakultas pun berjalan dengan baik dan tidak mengalami kendala. “Alhamdulillah rektor juga langsung turun pada hari ini ke lokasi di evakuasi ataupun pos medis,“ tuturnya.
Salah satu korban, Yalda, mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung mengaku terkena tembakan gas air mata sebanyak dua kali. Pada kejadian kedua, ia merasa hampir kehilangan kesadaran dan sempat mengira tidak akan sadar kembali.
“Tadi juga sudah ada pak KDM (Kang Dedi Mulyadi-Red) kita bareng-bareng menuju ke gedung DPR (Dewan Perwakilan Rakyat-Red) tapi disiram lagi sama gas air mata dan itu parah banget. Saya juga gak nyangka orang gubernur dateng ke tempat aksi tapi tetap dilempar gas air mata.” jelas Yalda saat diwawancara pada Jumat, (29/8).
Yalda pun turut mengapresiasi kerja sama paramedis di lokasi evakuasi yang dinilai responsif. Terlebih mengingat aksi tersebut merupakan pengalaman pertamanya dan mengalami dirujuk ke pihak medis.
Sejalan dengan Yalda, Gunawan, salah satu mahasiswa dari Universitas Teknologi Bandung (UTB) turut dievakuasi dengan keluhan mata perih akibat gas air mata. “Aku nggak liat apa-apa, minta air, ternyata dari demonstran malah ngasihnya bensin, Aku coba bilas yang aku kira air itu malah makin memperparah mata aku, panas gitu, “ ucapnya pada Jumat, (29/8).
Lebih lanjut, Gunawan juga menilai jika penanganan medis yang dilakukan sudah cukup baik dan cepat tanggap. Ia berharap untuk aksi demonstrasi ke depannya dapat berlangsung lebih tertata sehingga tidak memicu provokasi yang berujung anarkis.
Terakhir, Roswanda ikut menyampaikan harapannya agar perjuangan dalam aksi tersebut tetap terjaga. “Semoga gerakan-gerakan ini terjaga, apinya tetap menyala, merangkul kanan kiri, dan jangan mudah terprovokasi.” Tutup Roswanda.
Reporter: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM
Penulis: Siska Vania/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
