Bila hal itu terjadi dapat dikatakan orang tersebut menganut Hedonisme. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Hal ini banyak terjadi dikalangan Mahasiswa yang masih memiliki kelabilan emosional.
Di Unisba sendiri mungkin cukup banyak Mahasiswa yang tanpa sadar ataupun tidak mereka sering hedonis dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti Andra salah satu Mahasiswa Fikom Unisba angkatan baru. Ia mengakui bahwa dirinya suka berbelanja lebih dari anggaran yang ada.
“Aku termasuk orang yang gak tahan. Jadi kalau ada barang yang bagus pengen dibeli jadi termaksud yang boros,” ungkap Mahasiswi yang berjilbab ini.
Untuk anggaran dalam berbelanja Andra tidak mematok, namun pengontrolan uangnya sendiri akan dilakukan oleh orang tuanya. “Enggak sih gak dibudget. Cuman kalau emang udah terlalu sering sama papah suka ditahan.” Ujarnya lagi.
Anca mahasiswa hukum 2009 menanggapi bahawa hedonisme tidak sesuai dengan ajaran islam.
“Hedonisme berarti melenceng dari ajaran-ajaran islam sedangkan kita sebagai mahasiswa unisba kurang pantas melakukan hedonisme.”. Paparnya ketika ditemui di perpustakaan Unisba.
Menanggapi perilaku hedonis dikalangan mahasiswa, Moch. Rohim, S.Sos., M. I.kom selaku Dosen Fikom mengatakan kita tidak bisa menilai seseorang itu berlaku hedonis sebab tingkah laku seseorang dilihat dari latar belakang kehidupannya. Mungkin saja lingkungan keluarganya berprilaku seperti itu dan hal tersebut sudah wajar mereka lakukan.
Kebutuhan dan cara pandang seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup jelas berbeda. Bila keluarga tersebut berpendapatan tinggi pasti pengeluaran mereka lebih besar dibandingkan dengan keluarga yang berpendapatan pas-pasan. Oleh karena itu, penilaian hedonis seseorang itu bernilai subjektif.
“Kita tidak bisa menilai seseorang itu hedonis bila dilihat dari sisi psikologi manusia berprilaku bisa karena lingkungannya yaitu behvioral, karena individu sendiri yaitu humanistik, cara berpikir yaitu kognitif dan tingkah laku yaitu psikoanalisis.” Ungkapnya.

