
Bandung, SM – Setelah seminggu lebih para Pedagang Kaki Lima (PKL) Dayang Sumbi ITB memperjuangkan haknya untuk tetap berdagang, akhirnya mereka mendapat pencerahan. Seperti yang terlihat di sekitaran gerbang utama Institut Teknologi Bandung, Selasa (22/1), para pedagang mulai mendirikan kios sementara disana untuk dipakai berjualan kembali, sampai dilakukannya relokasi ke Jln. Gelapnyawang. Walaupun hanya kios sementara, tapi setidaknya ini solusi agar mereka berjualan kembali dan dapat menafkahi kehidupannya masing-masing.
Dede, pedagang nasi ayam yang menjadi wakil ketua dari Ketua PKL ITB, mengaku bahwa pengalihan tempat ini belum jelas. “Kita juga masih belum jelas mengenai kapan relokasi ke Gelapnyawang. Sambil menunggu, ya kita bikin kios sementara dulu disini. Buat menafkahi keluarga,” ujarnya. Penggusuran yang terjadi 10 Januari lalu atas persetujuan Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, membuat para pedagang berhenti berjualan selama satu minggu lebih.
Reza Mutaqin, mahasiswa Fisika ITB, berpendapat bahwa penggusuran ini merupakan tindakan yang bagus. Menurutnya, selain para pedagang menyempitkan akses pejalan kaki di trotoar, konsumen PKL non-ITB pun banyak yang parkir di depan kios dan berujung pada kemacetan. “Itu yang menyebabkan Tamansari macet,” tegasnya.
