Ramdhan (15) penjual Yoyo balon lampu sedang menjajakan dagangannya di halaman Mesjid Agung yang terletak di Alun-alun Kota Bandung pada Sabtu (4/1). (Vina Fauziah Utami/Job)
Ramdhan (15) penjual Yoyo balon lampu sedang menjajakan dagangannya di halaman Mesjid Agung yang terletak di Alun-alun Kota Bandung pada Sabtu (4/1). (Vina Fauziah Utami/Job)
PAGI itu pada permulaan Januari 2014. Sinar matahari masih belum mampu menembus pagar awan di langit Kota Bandung, Sabtu (4/1). Cuaca cerah berawan. Puluhan pengunjung duduk santai di atas marmer teras mesjid agung –menikmati sajian berkelas karya arsitekur pribumi. Beberapa anak dengan wajah polosnya memperhatikan kakek tuna netra yang tengah memainkan kecapi sambil melantunkan tembang tanah pasundan, berpadu dengan lantunan ayat suci dari dalam mesjid agung. Suasana yang ramai tapi senyap tidak membuat Ramdhan, bocah berusia 15 tahun yang menjajakan Yoyo balon lampu kelelahan mengitari area Alun-alun Kota Bandung. 
Yoyo balon lampu yang dijajakan itu ia tenteng di dalam kantung plastik bening berukuran besar dengan jumlah yang lumayan banyak dan warna yang beraneka ragam. Bola-bola yang ia jual, dibelinya dari penjual di pinggiran jalan untuk kemudian dijual kembali. Seperti biasa, barang yang dijajakan Ramdhan kurang peminat padahal, pengunjung Mesjid Agung tampak sedang duduk santai di pelataran Mesjid, beberapa pria sedang berbincang, ada juga yang hanya duduk memperhatikan pedagang di sekitar Mesjid dan para Ibu bersama anaknya tengah tertidur.
Ramdhan sudah putus sekolah sejak ia lulus dari bangku Sekolah Dasar, kini ia tinggal dan menetap di Mesjid Agung hanya bersama ayahnya, Uwen yang bekerja sebagai buruh bangunan. Mereka bukan warga asli Kota Bandung, Ia pindah dari Kota kelahirannya di Pelabuhan Ratu, Sukabumi karena rumahnya terendam banjir dan harus mencari nafkah untuk adik beserta ibunya yang menetap bersama saudaranya disana.
Banjir di Pelabuhan Ratu menyebabkan Ramdhan harus kehilangan peralatan sekolahnya dan putus sekolah karena tak ada biaya untuk membeli peralatan baru “Saya udah teu sakola, terakhir sakola teh kelas 6 SD we da rumahna kabanjiran jadi teu boga buku terus teu punya uang jang beli bukuna deui teh, jadi we ikut bapak ke Bandung jang cari kerja,” tutur Ramdhan.
Penghasilan perhari Ramdhan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan sekolah, dalam sehari ia hanya mendapat keutungan sebesar 4000 Rupiah saja, itupun pendapatan yang maksimal dalam sehari. Namun, meski uang Ramdhan dan ayahnya tidak cukup untuk mereka berpergian, tetapi mereka selalu mengusahakan untuk pulang ke Sukabumi saat Idul Fitri tiba untuk sekedar berkumpul bersama keluarganya.
Dalam kesehariannya, Ramdhan berjualan hanya mengenakan topi berwarna hitam putih dengan baju hijau tua lusuh dengan warna yang pudar, celana alakadarnya dan alas kaki berupa sandal jepit biru tua, “Boro-boro beli baju seragam, beli baju kaos biasa ge teu cukup uangna, jadi tiap hari teh saya pake baju ini we enggak ganti-ganti, tapi pengen beli baju baru kayak yang lain,” ucapnya.
Di sudut pelataran Mesjid, di tengah Alun-alun tak sedikit yang berjualan mainan anak-anak, mulai dari balon dengan motif emoticon, boneka, bahkan adapula wanita setengah baya yang membuka lapak permainan memancing ikan plastik. Hal itu menyebabkan Ramdhan kesulitan untuk mencari pembeli, “Ya, ngeliat anaknya mah ibu kasihan, cuma kan kebutuhan rumah sama anak banyak jadi kalau beli balon karet kayak gitu mah, sayang aja. Takutnya suami bilang buang-buang uang,” tutur Nani Rahmaeni, salah satu pengunjung Mesjid Agung.
Beberapa petugas Satpol PP dengan seragam hijau dan “pentungan” di tangannya tengah duduk di tangga gerbang depan, adapula beberapa pedagang seperti pedagang donat, minuman dan wanita lansia yang menjajakan cemilan, namun saat itu petugas sedang tidak mengadakan razia. Mereka pun mengenal Ramdhan, “Bapak mah kenal sama Ramdhan udah lama da dia juga , kadang bapak juga suka kasian ya mau kasih uang da bapak juga lagi seret keuangannya,” ucap Dedi Junaedi, salah satu petugas Satpol PP.
Ramdhan dikenal pendiam oleh para penjual di sana, dikalangan anak-anak seusianya Ramdhan termasuk salah satu yang paling tua, “Ramdhan mah bisanya ngan katawa hungkul,” ujar Nisa, teman Ramdhan. Walau seperti itu, saat duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, Ramdhan termasuk anak yang berkompeten dalam mata pelajaran IPS, Saat ia menunggu pembeli Yoyo bola lampunya, terkadang ia menghabiskan waktu sambil bermain-main dengan burung merpati atau tidur di pelataran tanpa beralaskan apapun. Jika sebagian teman Ramdhan sedang berjualan, sesekali Ramdhan menghampiri temannya dan berkeliling Plaza Parahyangan untuk mencuci matanya dengan melihat beberapa pakaian disana. (Litta Meliawati/job)
