Skip to content
Suaramahasiswa.info

Suaramahasiswa.info

Nakal, Tajam, Menggelitik

  • Berita
  • E-Magz
  • Varian
  • Alternatif
    • Artikel
    • Kontributor
    • Curhat
    • Opini
    • Sastra
    • Release
    • Review
    • Advertorial
  • Galeri
  • Editorial
  • Ketentuan Menulis
  • Tentang Kami
SMTV
  • Home
  • Berita
  • Berita Harian
  • Realita Orde Baru Dalam “Kekerasan Budaya Pasca 1965”
  • ALL POST
  • Berita Harian

Realita Orde Baru Dalam “Kekerasan Budaya Pasca 1965”

Suara Mahasiswa Maret 3, 2014

Diskusi buku "kekerasan budaya pasca 1965" yang dihadiri oleh Wijaya Herlambang sebagai penulis buku tersebut dan Martin suryajaya sebagai komentator pada hari Minggu (02/03) di gedung Indonesia menggugat, Bandung. dalam buku tersebut menjelaskan tentang kekerasan budaya di indonesia yang terjadi dari jaman dahulu hingga sekarang.

Diskusi buku “Kekerasan Budaya Pasca 1965” yang dihadiri oleh Wijaya Herlambang sebagai penulis buku tersebut dan Martin suryajaya sebagai komentator pada hari Minggu (02/03) di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. dalam buku tersebut menjelaskan tentang kekerasan budaya di Indonesia yang terjadi dari jaman dahulu hingga sekarang.

Suaramahasiswa.info, Bandung – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyelenggarakan sebuah acara peluncuran dan diskusi buku dengan tema “Kekerasan Budaya Pasca 1965.” Event ini membahas bagaimana orde baru melegitimasi anti komunisme melalui sastra dan film. Diskusi ini diselenggarakan pukul 15.30WIB di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, pada Minggu(2/3).

Acara ini sangat penting dikarenakan banyaknya generasi muda tidak mengetahui tentang sejarah. Apabila berbicara mengenai tahun 1965 yang teringat hanyalah peristiwanya bukan dampaknya. Hal ini diperjelas oleh Bilven selaku panitia, “saya rasa ini perlu disebarluaskan, karena dalam diskusi ini kita akan jadi tahu mana film yang dapat memotret kenyataan orde baru,” ujarnya.

Dalam diskusi ini tentunya hadir Wijaya Herlambang sebagai penulis buku “Kekerasan Budaya Pasca 1965”. Wijaya mengaku prihatin dengan kondisi masyarakat yang menganggap komunisme sebagai kekuatan yang jahat. Oleh sebab itu, ia tergelitik untuk membahas lebih jauh mengapa masyarakat membenci atau takut terhadap komunisme.

Namun, ada beberapa orang yang mengkritik isi dari buku tersebut. Mereka beranggapan bahwa ada konteks seperti kata ‘kebebasan’ itu kurang jelas dipahami. Salah satunya ditutukan oleh Martin Suryajaya yang turut hadir menjadi pembicara dalam acara tersebut, “kata kebebasan itu harus dijelaskan apakah itu bernilai positif atau negatif, memiliki nilai atau prasyart nilai-nilai,” ucapnya.

Menurut Wijaya dengan melihat kenyataan komunisme masih ditentang kuat, dan yang terjadi di negara ini adalah ekonomi krisis. Dasar pembangunan dari Orde Baru sampai sekarang adalah utang, dan bisa disebut negara ini sudah dijual. Ia pun menyebutkan bahwa kekerasan budaya dapat dialami oleh siapa saja, “saya harap setiap orang dapat mengontrol budaya mereka dengan sadar ,” paparnya.

Acara ini berlangsung dengan lancar dan bisa dikatakan sukses, karena antusias peserta sangat banyak. Bilven mengaku hal ini dikarenakan tema yang diambil, judul buku yang didiskusikan juga isu yang diangkat dalam diskusi ini. Ia juga berharap agar kedepannya generasi muda lebih banyak pengetahuan akan sejarah dan dapat melihat kenyataan di orde baru.

Senada dengan Bilven, salah satu peserta diskusi Mukhlis S mengaku tahu acara ini dari facebook. Ia sangat senang dapat hadir mengikuti rangkaian kegiatan yang sangat luar biasa. Menurutnya sebagai generasi muda, sejarah itu sangat penting—kita harus lebih hati-hati dalam memilih informasi, tidak terpaku pada internet yang mungkin menyediakan informasi yang salah. “Kita yang belum lahir di tahun 60-an harus dapat memilah informasi yang faktual mengenai realita yang terjadi jangan sampai kita dibodohi” ujarnya.(Intan/SM)

 

Tags: @suaramahasiswa gedung indonesia menggugat kebebasan kekerasan budaya pasca 1965 Ravi

Continue Reading

Previous: Penjualan Buku di Tengah Orasi Mahasiswa
Next: Si Manis, Malaikat Pemberi Kabar

Hal Terkait

JPU Hadirkan Enam Saksi dalam Sidang Lanjutan Aksi May Day 2026
  • Berita
  • Berita Harian

JPU Hadirkan Enam Saksi dalam Sidang Lanjutan Aksi May Day 2026

Agustus 7, 2026
Hanya Satu Saksi Hadir, Sidang Aksi May Day Bandung 2026 Ditunda
  • Berita
  • Berita Harian

Hanya Satu Saksi Hadir, Sidang Aksi May Day Bandung 2026 Ditunda

Juli 31, 2026
Warga Dago Elos Kembali Tegaskan Sengketa Lahan Belum Tuntas
  • Berita
  • Berita Harian

Warga Dago Elos Kembali Tegaskan Sengketa Lahan Belum Tuntas

Juli 11, 2026

Zine Lawan Edisi April 2025

You may have missed

Di Balik Karcis Parkir Unisba
  • In-Depth

Di Balik Karcis Parkir Unisba

Agustus 18, 2026
Aktivasi Semester Ganjil Unisba Kini Wajibkan NIK Orang Tua
  • Berita
  • Berita Kampus

Aktivasi Semester Ganjil Unisba Kini Wajibkan NIK Orang Tua

Agustus 16, 2026
Antara Lembar Buku dan Aroma Cilok
  • Feature

Antara Lembar Buku dan Aroma Cilok

Agustus 15, 2026
Krisis Keadilan di Indonesia dalam Bayang-Bayang Otoritarian
  • Alternatif
  • Artikel

Krisis Keadilan di Indonesia dalam Bayang-Bayang Otoritarian

Agustus 12, 2026
Copyright © 2025 Pers Suara Mahasiswa Unisba, All rights reserved. Dari Mahasiswa Untuk Kemanusiaan | DarkNews by AF themes.