Harga Baru BBM Bersubsidi (Fiksi)

“Gimana, lancar usahamu, To?

“Lancar oponyo, kang Usep…, meruntuhkan keputusan Dewan Senayan gagal, eh bisnis saya malah gulung tikar. Negeri ini sungguh tak bersahabat baik dengan pengusaha kecil menengah seperti saya iki loh mas,” tukasnya muram.

“Kamu sih masuk organisasi mahasiswa ecek-ecek, demo malah merusak fasilitas umum. Wajar, jika Anggota Dewan tak bergeming, ditambah lagi masyarakat jadi kian geram dengan aksi anarkis kalian. Terus kenapa dengan bisnismu?”

“Gagal total, kang. Pemerintahlah yang justru menghancurkan bisnis saya,” ujarnya serius.

Saya terkejut. Pemuda kurus kerempeng seperti Toto punya bisnis yang ada kaitannya dengan pemerintah. Wah, mungkinkah bisnisnya seberpengaruh itukah terhadap prekonomian bangsa ini?

“Jangan mabok sebelum minum, To, kamu itu siapa kok berani menyalahkan pemerintah. Memangnya apa bisnismu, To?”

“Saya bisnis pasokan BBM bersubsidi, kang,” katanya. “Akang kan tahu, saya punya sedikit uang dari hasil upah demo. Sisa uang itu saya gunakan untuk membeli Premium dengan bantuan mobil pinjaman dari rekan sekelas saya di kampus. Sejak seminggu lalu, saya sudah mengumpulkan Premium sebanyak enam drum penuh.”

Toto mulai berkhayal.

“Begitu pemerintah mulai menaikan harga Premium menjadi Rp 6.500 per liter, saya akan mendapatkan keuntungan besar, kang. Calon pembeli saya sudah ada, mereka rela membeli dengan harga Rp 6.000 per liter, lantaran lebih murah gopek ketimbang harga resmi di SPBU. Keuntungan Rp 1.500 per liter sudah pasti saya peroleh.”

Di tengah siang yang menyengat, Toto kembali melanjutkan rumus matematika-nya. Sontak, pembahasannya tentang dunia bisnis malah membuat migran saya kian parah.

“Satu drum isinya 200 liter. Saya punya enam drum. Jika ditotalkan saya punya 1200 liter Premium. Jika keuntungan saya pungut Rp 1.500 per liter, total keuntungan yang akan saya raup sebesar Rp 1.800.000, uang itu cukup membantu untuk menambahi tabungan saya agar nanti bisa membeli gadget baru. Selain itu, saya ikut berperan membantu pemerintah mengurangi kemiskinan karena harga Premium yang saya jual lebih murah gopek,” jelas Toto, menjabarkan ide busuknya -yang tak tahu juntrungannya.

Saya tak habis pikir, Toto yang beberapa hari lalu sibuk bergelut dengan debu jalanan, gas air mata, dan pentungan polisi dalam demonstrasi menolak kenaikan BBM, eh malamnya ia malah beraksi dengan menimbun BBM. Rencana gila itu sungguh tak masuk di akal. Jangan-jangan dia terinspirasi penyelundup BBM yang kini marak diberitakan media. Dalih mengurangi kemiskinan yang digemborkan Toto, es pisang ijo yang saya seruput siang itu mendadak hambar.

Setelah ia puas menceritakaan imajinasinya, wajahnya tampak malam. “Pemerintah di negeri ini tak memberi tempat untuk enterpreuner seperti saya, kang” keluhnya. “Pemerintah malah menyalahkan saya dan menuduh saya sebagai penyebab kelangkaan BBM, padahal BBM itu tak saya pakai untuk konsumsi pribadi, malah akan saya salurkan ke orang yang sangat membutuhkan. BBM yang sudah saya kumpulkan itu malah disita. Yang saya dapatkan bukannya untung, malah buntung. Mau pemerintah opo sih, kang?” tanyanya seakan tak paham.

Kepala saya jadi kian panas mendengar keluhannya. “Jelas pemerintah tak berpihak kepadamu, spekulan licik sepertimu memang harus dimusnahkan agar tak menyedot jatah bahan bakar fosil orang miskin untuk keuntungan pribadi. Meski, kamu kokoh dengan dalih penentasan kemiskinanmu itu!”.