
Oleh: Sugiharto Purnama
Foto: Istimewa
Sore ini mentari tak sedikit pun menampakkan sinarnya. Mendung menyisir diantara celah-celah langit biru dan yang ada hanya sedikit awan merah melayang dalam buaian senja. Entah kenapa sore ini aku seketika teringat akan ia, sosok wanita bernama Fenia yang telah membuat aku terpaku terbalut cinta. Pilu bukan main hati mengingatnya, wanita yang aku cintai dan aku kasihi, tapi ia malah berbalik mencintai sahabatku sendiri. Termenung mengenang hal itu diiringi suara lantunan lagu-lagu bernunsa melow, membuat aku semakin tenggelam dalam perasaan yang tak mengenakkan hati.
“aku mencintainya dengan sepenuh hatiku, tapi ia tak sedikitpun meresponku.” ungkapnya lewat pesan singkat yang masuk ke daftar inbox dan segera menyadarkanku dalam lamunan yang membius.
“berusalah teman!! Tak ada yang tak bisa kita lakukan apabila kita bersungguh-sungguh dalam melakukannya, begitupun dalam mendapatkan cinta.”
“iya… tapi apakah aku harus selalu seperti ini mengharap sesuatu yang tak pasti?.”
“akh… santai sajalah melewati hari. Lewati hari-hari dengan senyuman.” tuturku berusaha untuk menghibur hatinya yang galau.
Hati ini terasa terbelah setelah membaca sms yang ia kirim kepadaku. Tapi apalah yang dapat aku lakukan? Mencintai orang yang sudah jelas tak mencintaiku. Angin seakan ikut bersedih, pohon terdunduk lesu mendengar keluh kesal yang memendam hati. Dulu pernah aku utarakan isi hatiku padanya, tapi ia hanya tersenyum kecil mendengar desusku yang seakan baginya adalah sebuah lelucon.
“Rhey… apa yang mesti aku perbuat lagi? ia sudah jelas tidak mencintaiku.”
“dunia tak selebar daun kelor, ada banyak laki-laki di luar sana jika kamu membuka mata.”
“maksud kamu???.”
“hmm… apa ya? Aku juga binggung dengan perkataanku tadi.”
Seketika cubitan kecilnya mendarat di lenganku. Walaupun terasa pedih, tapi aku cukup berbangga hati karena bisa melihat ia tersenyum.
“ekh, dari pada kamu mengharapkannya mendingan kamu pacaran dengan orang yang kini berada di hadapanmu.” dengan tersenyum dilanjutkan tawa aku menatapnya yang kebinggungan.
“maksudnya kita pacaran gitu??.”
Dengan raut muka bercanda aku menatapnya, tapi ia malah menatapku dengan serius. Kemudian terpancar senyuman di raut mukanya, diiringi dengan kata-kata yang tak enak diterima hati.
“maafkan aku ya, Rhey?? kamu adalah sahabatku dan sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi sahabatku. Bukankah dulu kita pernah berjanji untuk tidak saling mencintai lebih.”
“oooo… begitu ya.”
Raut muka tersenyum, tapi hati menangis mendengar perkataannya. Cinta bisa berubah menjadi sakit dan aku pun tak bisa menyalahkan cinta, seperti apa yang aku rasakan perih hatiku tinggal kehancuran. Maafkan aku setulus hatimu, aku mencintaimu dan menyayangimu. Cinta memang tak harus memiliki dan sepertinya aku harus berberat hati merelakan itu untuk hidupmu agar lebih baik, aku pun harus membuka otakku untuk segala kemungkinan. (Sugih)
