Kita tahu kilaunya glam rock bersinar terang dan guncangan dahsyat dari metal berdentum keras di akhir tahun 80-an. Tapi tiba-tiba semuanya disingkirkan oleh musik pop yang dibalut dengan distorsi berat berdurasi sekitar 3 menit. Dunia menyebutnya Grunge. Dan jika Grunge adalah agama, maka Kurt Cobain pantas dijadikan Tuhannya. Musisi kontroversial yang merupakan pentolan band Nirvana ini mengangkat Grunge sebagai musik yang dibalut nuansa keputus asaan, teriakan meronta-ronta, dan semuanya yang tertuang di buku Heavier Than Heaven. Mulai dari masa kecilnya yang dihiasi dengan noda-noda perceraian orang tuanya, masa remaja yang hangat bersama nikmatnya pergaulan bebas, jerih payahnya membangun sebuah band yang nantinya menggeser album Thriller milik Michael Jackson di Top Billboard International, hingga kematiannya di tahun 1994 yang sampai saat ini masih menjadi teka-teki dan masih dalam penyelidikan detektif. Buku menarik ini layak dibaca, sebagai referensi dan juga pengetahuan akan musik. Selain itu kita juga bisa mengetahui bahwa kehidupan seorang artis besar tidaklah selalu menyenangkan, bahkan cenderung membebani seperti yang dialami Kurt Cobain. Pelajaran hidup dan sebagainya bisa kita petik dari buku Heavier Than Heaven : Biography of Kurt Cobain ini.
