Keluarga Mahasiswa Seni Rupa ITB sedang mengerjakan re-murral dinding Babakan Siliwangi , selasa (17/6)
Suaramahasiswa.info, Bandung – Kota Kembang, dimana kreatifitas terus menerus berkembang. Ibu kota Jawa Barat ini tak pernah bosan unjuk kebolehan. Bandung, menjadi salah satu tujuan utama para pendatang untuk belanja atau sekedar cuci mata. Sayangnya, para pecandu wisata melahirkan pula petaka. Bandung yang mulanya sejuk, sekejap berubah menjadi hiruk pikuk dengan antrean mobil berplat B yang terus bertambah.
Kemacetan jalan dan polusi tidak menyurutkan semangat para mahasiswa seni rupa ITB. Mereka terlihat asyik menggoreskan celupan cat diatas dinding. Tak jarang, para pengendara melambatkan lajunya untuk sekedar melihat-lihat kesibukan para penuntut ilmu ini.
Re-murral, itulah sebutan bagi karya mahasiswa yang menamai kelompok mereka sebagai Keluarga Mahasiswa Seni Rupa. Tak hanya mereka, pihak lain pun seperti Arsitektur ITB, komunikasi pajajaran, ikut serta dalam mengindahkan dinding Babakan Siliwangi. “Sebenernya kita diminta tolong sama Pemkot Bandung buat re-murral kawasan sini, lumayan lah ajang eksistensi juga karya kita bisa dinikmati sama seantero kota bandung,” ujar Iqbal Haidar (20) dan Hani Putri (19) mahasiswa angkatan 2013 FSRD ITB.
Dinding sepanjang 475 meter ini dibagi menjadi 30 panel, dan bertemakan “Historikal Bandung”. Di setiap panel mempunyai ceritanya masing-masing mulai dari fase bandung purba sampai bandung masa depan. Hari pertama proses mural ini jatuh pada Jumat kemarin (13/6) dan ditargetkan selesai dalam kurun waktu 2 minggu.
Selain ajang berseni dan menyalurkan kemampuan, ternyata mural dinding ini bertujuan untuk menarik perhatian warga kota Bandung sendiri. Hal ini diperuntukan agar mereka mau berjalan kaki sambil melihat-lihat karya seni yang disuguhkan. Sebenarnya pada tahun 2007, unjuk kebolehan yang sama dilakukan juga oleh mahasiswa FSRD ITB. Namun, seiring berjalannya waktu gambar-gambar indah mereka pudar dan dihinggapi para lumut.
Segala kegiatan tak luput dari hambatan, itu pula yang dirasakan para seniman muda ini. Mulai dari liburan kuliah yang dikorbankan sampai dengan guyuran hujan yang memperlambat proses pengerjaan. Mulai dari angkatan 2010 hingga 2013 turut berpatisipasi, seharusnya ada sekitar 200 kepala namun libur kuliah memaksa sisanya untuk pulang ke kampung halaman.
Menurut Muhammad Adnan Garibaldi selaku penanggung jawab, sebelum adanya tawaran dari Pemkot, terlebih dahulu mereka sudah memiliki niatan untuk bekerja mandiri. Namun, pada akhirnya mereka bekerja sama dengan yang lainnya, untuk mengerjakan proyek ini. “Risih juga kan, udah bertahun-tahun tempatnya gelap dan serem kenapa gak kita coba perbaiki,” tutur laki-laki jangkung berkaus hitam itu.
Sang surya berpamitan, temaram senja mengiringi langkah kaki. Kota Bandung, kaya akan mahasiswa kreatif. Semoga kedepannya lahir dan tumbuh semakin banyak para generasi penerus yang mau dan bergerak demi Bandung yang lebih baik. Selamat berkarya, dan sampai jumpa! (Raisha/SM)
