Maimun (kiri) sedang menceritakan kabar yang beredar tentang keberadaan ayahnya kepada Gunarto. Dengan memasang wajah marah, Gunarto seakan tak suka dengan hal itu. (Intan/SM)
Dan jika kita mempunyai seorang ayah, maka ayah itulah musuhku yang sebesar-besarnya!
Kalimat di atas menjadi bagian dari pagelaran berjudul “Ayahku Pulang” yang dipersembahkan oleh Studi Teater Unisba, pada Selasa (30/6). Makna yang didapat dari pagelaran ini adalah keiklasan. Cerita dimulai dari suasana malam takbiran yang dirasakan oleh sebuah keluarga. Tak seperti yang lainnya, keluarga yang satu ini tidak menyambut malam takbiran dengan hati yang senang. Pasalnya sang ayah telah meninggalkan mereka dua puluh tahun lamanya.
Terjadi perbincangan antara Tina (ibu) dan Gunarto (anak sulung) di malam itu. Tina, dengan sedih menceritakan sosok Raden Salah (ayah). Namun, Gunarto tidak suka dengan obrolan itu. Tak lama, Maimun pulang kerja dan bilang bahwa dia mendapat kabar dari orang lain tentang keberadaan ayahnya. Dengan rasa penasaran Maimun terus bertanya pada ibunya tentang sang ayah. Namun di saat yang sama, Gunarto selalu saja mengalihkan pembicaraan.
Mintarsih yang merupakan anak bungsu pun datang dengan wajah ketakutan. Ia bercerita di dalam perjalanan pulang, bertemu seorang lelaki tua dengan pakaian lusuh yang terus melihat ke arah rumah mereka. Mendengar hal tersebut sang ibu kaget, sebab ciri-ciri yang dijelaskan anaknya serupa dengan suaminya yang telah lama menghilang.
Suasana saat itu mendadak menjadi menegangkan, dengan datangnya sosok yang diceritakan tersebut ke dalam rumah sederhana mereka. Wajah Tina berseri seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Raden Salah memasuki rumah, disambut oleh keluarganya. Tidak seperti dua saudaranya, Gunarto tampak berang melihat drama di rumahnya. Ia memaki ayahnya dengan perkataan yang menyakitkan.
Seakan kehadirannya tak diharapkan, Raden Saleh pergi meninggalkan keluarga yang dirindukannya. Dengan membawa dosa masa lalu, ia melangkah keluar rumah diikuti tangisan serta teriakan dua anak perempuan dan istrinya. Melihat hal tersebut, Gunarto hanya bisa terdiam dengan wajah puas.
Beberapa menit selang kepergian sang ayah, Gunarto mendapat protes keras dari sang adik. Maimun pergi meninggalkan rumah untuk mengejar ayahnya. Kembali ke rumah, mereka hanya mendapatkan sehelai baju dan kopiah di jembatan dekat rumahnya. Sontak teriakan Gunarto yang menyesali perbuatannya, disambung tangisan seluruh anggota keluarganya sebab ayah yang dirindukan sudah tiada.
Sejak saat itulah Gunarto menyesal, dan menyalahkan dirinya sebagai pembunuh dari ayahnya sendiri. (Intan&Muthia/SM)
