Para mahasiswa sedang berbincang di tangga batu setelah melaksanakan hari pertama Ujian Tengah Semester (UTS), Senin (6/4).
Para mahasiswa sedang berbincang di tangga batu setelah melaksanakan hari pertama Ujian Tengah Semester (UTS), Senin (6/4).
Suaramahasiswa.info, Unisba – Polemik ‘Hitam putih’ Fikom terus berlanjut. Masalah mengenai pemakaian seragam hitam putih saat ujian yang melibatkan pihak Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) dan mahasiswanya kini mulai menemukan titik terang. Setelah melakukan perbincangan bersama Wadek 1, Oji Kurniadi dan Lima lembaga Fikom antara lain BEM, DAM, KMJ, Hima PR, KMMK pada tanggal 2 April 2015 lalu telah menemukan jalan tengahnya.
Saat ditemui di pelataran, Fakhrizatul Ulum menceritakan perbincangan antara 5 lembaga dan Wakil Dekan 1 yang berujung pada penetapan pemakaian seragam hitam putih saat ujian hanya dilaksanakan oleh angkatan 2014. Sedangkan angkatan 2013, 2012, 2011, dan seterusnya memakai kemeja rapih dan baju almamater. Ia pun menjelaskan perbedaan pemakaian pakaian antar angkatan itu disebut-sebut masa transisi, karena angkatan 2014 sudah terlebih dahulu mendapat sosialisasi mengenai penyeragaman tersebut.
“Kita sudah mempertanyakan penyeragaman untuk semua angkatan dengan memakai kemeja dan almamater saat ujian, tetapi kata Pak Oji hasil mediasi tahun kemarin mengenai usulan tersebut sudah disampaikan oleh Pak Hasbi ke pihak Rektorat jadi sekarang lagi proses nego dan menunggu keputusan disana,“ tutur ketua BEM Fikom tersebut.
Farhan Pamula menuturkan pendapatnya mengenai polemik ‘Hitam putih’ tersebut. “Angkatan muda termakan kebijakan karena belum bisa bergerak bebas, kita terombang-ambing karena terkekang oleh sikap pengawas. Setiap kali yang datang ke ruangan mencatat mahasiswa yang tidak memakai seragam hitam, sanksinya intimidasi nilai mau ga mau ngikut aturan, ” ucap mahasiswa baru Fikom angkatan 2014 ini. (Reza/SM)
