Oleh : Insan Fazrul
Hingar bingar sendu pergantian tahun masih teringat jelas dalam memori, saat itu kemeriahan menyambut 2015 dibalut kesedihan karena peristiwa pesawat AirAsia, hilang, ditelan laut kami sendiri, Indonesia. Hingga akhirnya AirAsia memang tak seutuhnya ditemukan, ia hanya menyapa kita dengan serpihan badannya yang berserekan, ditambah jenazah penumpang beserta awaknya yang tak lagi bernyawa.
Tapi Awal tahun juga tak ubahnya menjadi tonggak harapan baru, setidak-tidaknya karena negeri kaya ini mempunyai pemimpin “gres”, yang menurut kisah ia berasal dari rakyat. Joko Widodo publik akrab menyapanya dengan Jokowi, rakyat luas menaruh kepercayaan penuh pada sosok ini. Narasinya yang sukses mengubah Solo menjadi tertib membawa Joko menjadi gubernur Ibu Kota Negara. Tak selesai lima tahun (periode seorang gubernur memipin daerahnya) menjadi gubernur, Joko melesat menjadi RI-1. Meski dengan berbagai bumbu kontrovesi, cemerlang betul prestasinya. Sepakat?
Belum genap Joko 12 Bulan memimpin Indonesia, masalah bertubi-tubi silih berganti menggerayami bumi pertiwi. AirAsia, KPK VS POLRI, bencana alam, sepak bola Indonesia yang semraut, hingga kontroversi hukuman mati yang banyak menuai keceman Asing. Pusing betul jadi Presiden, makan dan tidur pun pasti tak tenang.
Sang proklamator Soekarno pernah berujar:
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”
Ucapan presiden pertama kita itu sangatlah “di-ami-ni” di zaman kontemporer ini. Indonesia mahasibuk dengan permasalahan negerinya sendiri, saling melemahkan, saling menyerang, prestasi yang hanya angan, sampai cobaan Tuhan menerjang. Media massa tak pernah habis membahas segala permasalahan, bukan hanya dalam negeri, akhir-akhir ini tanah air tercinta diusik oleh berbagai intervensi “yang sangat tak hormat” dari Australia, PBB, dan Negeri Samba Brazil. Mereka mencoba melobi Indonesia, agar para tahanan narkoba yang berasal dari negara mereka, bisa terlepas dari hukuman tembak kepala. Namun dua jempol (bukan dua jari) harus kita berikan pada sang Presiden yang menolaknya. Prok, prok, prok.
Australia mempunyai dua warganya yang tak akan lama lagi diregang nyawanya oleh hukum Indonesia. Tony Abbott sang Perdana Menteri tak lelah untuk melobi, bernegosiasi dengan Jokowi agar warganya diberi grasi dan dilepas dari jeratan hukum. Beberapa hari yang lalu bahkan ia menyinggung bantuannya pada Aceh saat terjadi musibah ombak besar Tsunami. Seolah ingin budinya dibalas, seakan bantuanya adalah pamrih. Sontak warga Aceh tak tinggal duduk dengan perlakuan Australia, Aceh lalu menggebrak dengan #KoinUntukAustralia demi mengganti segepok uang yang pernah diberi negeri Mark Viduka itu.
Tak hanya Australia, Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Sekjennya Ban Ki Moon mendesak Indonesia untuk menghentikan eksekusi mati. Masih hangat dalam pemberitaan, Brazil lewat presidennya Dilma Rouseff juga melakukan hal yang sama, dengan menolak surat kepercayaan duta besar Indonesia yang diwakili oleh Toto Riyanto. Semua tindakan yang dilakukan negara luar adalah melecehkan tanah air, tidak hormat dan patuh hukum Indonesia.
Sesiapun yang melanggar, apalagi membawa barang haram “pil atau serbuk menerbangkan” dengan jumlah besar, setidak-tidaknya tak ada kata selain hukum dia dengan tembak kepala, Head Shoot! Matikan dia! Bangsa kita sudah cukup kotor dengan para warga dan wakil-wakilnya, jangan kau tambah kotori lagi! Intervensi yang dilakukan berbagai negeri luar merupakan bentuk pelecehan akan bumi pertiwi, sejengkal saja kau lecehkan, ribuan nyawa para pahlawan di alam kubur akan terusik. Bukan hanya mereka, kita yang masih hidup tentu tak akan duduk, lipat tangan dan diam. NKRI Harga Mati!
Bangsa ini dibangun oleh tetesan darah para pejuang, yang rela dibeli nyawa dan raganya oleh tanah beta, negeri Indonesia. Tak akan rela jikalau hukum kami diobok-obok oleh yang bukan pembangun bangsa. Jika ada kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang benar-benar kasar dan melankolia, akan saya pilih diksi itu, karena tersinggunya dengan berbagai singgungan Asing. Sudahlah, diamkan sungutmu, nikmatilah tetesan darah kepala para gembong narkotik yang berasal dari bangsamu.
Kedaulatan kami bukan disekat dalam batas tanah dan laut negara saja, tapi Hukum kami pun punya kedaulatan!
Terakhir, mari kita renungkan kata per kata dari salah satu pendiri Tempo, Goenawan Mohammad :
“Sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika.
Mencitai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hari untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati.”
