Ilustrasi tiga orang dengan mata tertutup kain dan tubuhnya dikendalikan oleh sebuah tangan mengartikan organisasi yang dikendalikan oleh pihak tertentu sehingga kehilangan independensinya. (Ilustrasi: Siti Nur Halizah/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Organisasi Mahasiswa (Ormawa) kerap menjadi ruang bertemunya gagasan, aspirasi, serta proses pembelajaran demokrasi. Namun, di balik idealisme yang dibangun, tak sedikit organisasi yang perlahan terseret kepentingan sekelompok orang hingga menjauh dari arah perjuangan organisasi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian ketika organisasi yang seharusnya menjadi ruang belajar justru kehilangan independensinya dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan. Kepentingan tertentu yang masuk terlalu jauh dapat membuat organisasi tidak lagi sepenuhnya berpihak pada kepentingan mahasiswa.
Organisasi sendiri dipahami sebagai kesatuan sosial yang dibentuk dan dikoordinasikan secara sadar. Di dalamnya terdapat sistem kerja sama yang terstruktur, di mana sekelompok individu saling berkoordinasi dan berbagi peran demi mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam jurnal Pemahaman terhadap Teori-Teori Organisasi dijelaskan organisasi tanpa tujuan diibaratkan seperti ular tanpa kepala. Analogi ini menunjukkan bahwa kejelasan tujuan menjadi dasar agar organisasi dapat menjalankan fungsinya secara efektif, termasuk dalam membangun kemandirian, kerja sama, dan kemampuan mahasiswa.
Masuknya Kepentingan Eksternal
Selain organisasi yang berada dalam struktur kampus, terdapat pula Ormawa dengan lingkup di luar kampus yang dikenal sebagai organisasi eksternal. Organisasi ini merupakan organisasi yang berada di luar struktur kelembagaan perguruan tinggi, namun melibatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam berbagai kegiatannya.
Organisasi eksternal kampus ada yang berdasarkan agama, partai politik, golongan, maupun lokalitas. Kehadirannya di lingkungan kampus dapat menjadi ruang untuk memperluas wawasan, membangun relasi, dan pengambilan keputusan yang penuh pertimbangan.
Artinya, persoalannya bukan terletak pada keberadaan organisasi eksternal, melainkan ketika kepentingan eksternal mulai memengaruhi independensi Ormawa. Keputusan internal yang seharusnya diambil secara objektif dapat dipengaruhi oleh kepentingan pihak tertentu.
Dalam kondisi tersebut, independensi dapat melemah hingga Ormawa mulai bergantung pada akses kekuasaan atau pendanaan dari pihak tertentu. Akibatnya, organisasi dapat bergeser dari wadah perjuangan menjadi arena perebutan pengaruh dan posisi politik.
Dampaknya tak hanya dirasakan oleh organisasi tetapi juga mahasiswa secara lebih luas. Ketika ruang organisasi dianggap telah dikuasai kelompok tertentu, mahasiswa lainnya dapat merasa tidak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara setara.
Menjaga Kemandirian Organisasi
Contohnya dapat dilihat pada Pemilihan Raya (Pemira) ketika kepanitiaannya didominasi oleh satu organisasi eksternal tertentu. Kondisi seperti ini dapat memunculkan pertanyaan mengenai netralitas penyelenggara dan membuat mahasiswa meragukan apakah proses pemilihan benar-benar berjalan secara adil.
Persoalannya bukan hanya mengenai siapa yang terpilih, tetapi juga bagaimana proses tersebut berlangsung. Dalam demokrasi, legitimasi tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh mekanisme yang dianggap adil dan dapat dipercaya. Kepercayaan terhadap penyelenggara menjadi bagian penting agar hasil pemilihan dapat diterima oleh mahasiswa.
Upaya menjaga independensi perlu dimulai dari sistem yang mencegah dominasi satu kelompok. Hal ini dapat dilakukan melalui rekrutmen panitia yang terbuka, pengawasan dari lembaga intra kampus, serta transparansi mengenai prosedur hingga alur pelaksanaan Pemira.
Pada akhirnya, independensi Ormawa perlu dijaga agar tetap sejalan dengan tujuan awal berdirinya. Kehadiran organisasi eksternal tetap dapat diterima selama tidak menggeser kemandirian organisasi.
Penulis: Siti Nur Halizah/SM
Editor: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
