Ilustrasi meletusnya gunung api di tengah aktivitas warga yang tinggal di lereng gunung serta dua orang yang memakai masker sambil meilhat rambu jalur evakuasi. (Ilustrasi: Kelvin Rizqi Pratama/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Indonesia kembali dihadapkan pada bencana alam gunung api beberapa hari terakhir. Erupsi tak hanya menghadirkan kolom abu dan luncuran lava pijar, tetapi juga berdampak pada kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Salah satu peristiwa terbaru terjadi pada Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026. Erupsi tersebut menghasilkan abu vulkanik yang terbawa hingga ke sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra.
Mengapa Indonesia Memiliki Banyak Gunung Api?
Negara Indonesia memiliki banyak gunung api karena berada di wilayah pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif. Kondisi ini membuat Indonesia disebut sebagai Pacific Ring of Fire atau cincin api Pasifik.
Dilansir dari Global Volcanism Program Smithsonian Institution, Indonesia memiliki sekitar 101 gunung api holosen yang aktif dalam 12.000 tahun terakhir. Sementara pada 2025 tercatat sebanyak 127 gunung api aktif di Indonesia.
Sejumlah gunung api juga terus dipantau karena aktivitasnya. Beberapa diantaranya, yaitu Gunung Merapi, Semeru, Anak Krakatau, Lewotobi Laki-Laki, dan sejumlah gunung api lainnya.
Secara ilmiah, gunung api terbentuk melalui proses geologi dan aktivitas magma di dalam bumi. Proses tersebut berkaitan dengan pergerakan tiga lempeng tektonik, yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.
Ketika tekanan magma dan gas di dalam bumi meningkat, material tersebut dapat muncul ke permukaan dalam sebuah proses yang disebut erupsi. Erupsi tersebut tidak selalu berarti ledakan besar, tetapi juga dapat berupa keluarnya abu vulkanik, gas, lava, lontaran batu pijar, maupun awan panas.
Bagi sebagian orang, gunung api mungkin menjadi ancaman yang harus dihindari. Namun, mengapa masyarakat tetap tinggal di kawasan yang memiliki risiko bencana?
Keunikan Warga Lereng Gunung
Sikap bertahan ini bukan semata-mata karena mereka buta terhadap bahaya. Bagi mereka, kawasan tersebut justru telah menjadi sumber penghidupan utama.
Dampak dari gunung api pun tidak selalu berhenti pada kehancuran. Dalam jangka panjang, material vulkanik bahkan dapat menyuburkan tanah dan mendukung kegiatan pertanian.
Kondisi ini kemudian melahirkan berbagai bentuk adaptasi, salah satunya Ilmu Titen yang dianut warga Desa Balerante, Klaten. Mereka meyakini adanya bukit yang dapat menjadi pelindung dari Gunung Merapi. Selama awan panas belum melewati bukit tersebut, warga merasa masih berada di zona yang aman.
Adaptasi juga terlihat dari bentuk rumah yang tidak menghadap langsung ke arah puncak gunung serta penggunaan kentongan sebagai alat komunikasi ketika tanda bahaya muncul.
Selain itu, ada Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1982. Di sana warga bahkan lebih mempercayai dirinya dibanding imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait terjadinya erupsi.
Masyarakat Perlu Terbuka terhadap Mitigasi Modern
Pengetahuan lokal kemudian dapat berjalan berdampingan dengan mitigasi modern. Masyarakat perlu mengetahui status gunung, mengenali wilayah rawan, menyiapkan jalur evakuasi, dan mengikuti arahan ketika aktivitas gunung meningkat.
Di Tengah perkembangan teknologi, pemantauan gunung api kini dapat dilakukan melalui pengamatan visual, aktivitas kegempaan, deformasi permukaan, hingga berbagai sistem pemantauan lainnya. Informasi tersebut dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam menentukan langkah mitigasi.
Pada akhirnya, memahami erupsi bukan hanya soal kapan sebuah gunung akan mengeluarkan abu dan lava. Lebih dari itu, erupsi adalah cerita tentang bagaimana alam membentuk dan berdampingan dengan kehidupan manusia.
Penulis: Kelvin Rizqi Pratama/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
