Suasana malam hari di Taman Cikapayang Dago dengan dua orang yang tengah duduk sambil membaca buku di samping gerobak cilok pada Selasa, (21/7). (Foto: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Malam di Taman Cikapayang tak selalu ramai. Di tengah suasana yang berubah-ubah, Raja Saut Martua Sinaga tetap menjajakan cilok dengan deretan bacaan di samping gerobaknya.
Buku-buku itu ikut menetap ketika Raja berhenti berkeliling saat bulan Ramadan 2026. Ia memilih berjualan di Taman Cikapayang dan mengeluarkan buku-buku yang memang biasa ia bawa.
Pos polisi yang berada di depannya bukan bagian dari rencana. Raja hanya berhenti di tempat yang biasa ia lewati untuk berjualan. Dari sana, ia mulai berinteraksi dengan orang-orang di sekitar taman, termasuk polisi.
Salah seorang polisi bahkan pernah meminjam buku milik Raja dan hingga kini buku tersebut masih bersamanya. Menurut Raja, polisi yang berada di sekitar taman juga tidak pernah mempermasalahkan keberadaan lapaknya.
“Untuk polisinya sendiri sama seperti masyarakat pada umumnya. Dalam skala angka pun sama, dari mereka pun banyak yang baca, banyak juga yang nggak,” ujar Raja sambil bersila di antara tangga Taman Cikapayang.
Bagi Raja, membaca bukan perkara seragam atau pekerjaan seseorang. Meski kepolisian masih menjadi sorotan publik, ia tetap melihat polisi yang datang ke lapaknya sama seperti pengunjung lainnya.
Raja juga tak ingin membatasi lapaknya hanya untuk kelompok tertentu. Kebiasaannya membawa buku saat berjualan bahkan beberapa kali membuat orang mengira dirinya mahasiswa.
Dari anggapan itu, muncul kegelisahan Raja bahwa kegiatan membaca seolah memiliki ruang dan kelompoknya sendiri. “Saya nggak mau ada kotak di dalam literasi, maksudnya ilmu pengetahuan itu hak siapa pun dan nggak ada batasan atau dinding yang memisahkan,” ucap Raja dengan penuh keyakinan.
Kini, Raja memiliki lebih dari 100 buku. Pengunjung boleh membacanya secara gratis tanpa harus membeli cilok.
Alghiffara, pengunjung asal Tasikmalaya, merasakan kemudahan itu ketika datang karena penasaran dengan lapak tersebut. Menurutnya, keberadaan buku di Taman Cikapayang membuat suasana membaca terasa lebih dekat dan tidak terpaku pada ruang-ruang tertentu.
“Lebih mempermudah akses untuk baca buku di mana aja, apalagi kita tahu stigma orang Indonesia yang jarang baca buku, kayak kalau baca buku harus di perpustakaan,” tuturnya sembari menyantap cilok yang ia beli.
Bukan hanya soal akses, suasana lapak juga membuat pengunjung memiliki pengalaman membaca yang berbeda. Faisal Al Zaki, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mengetahui lapak buku tersebut melalui media sosial dan tertarik mencoba membaca di tengah suasana taman yang ramai.
Tempat yang tidak biasa itu justru membuatnya bertahan lebih lama. “Saya yang biasanya baca buku 20 halaman kan ngantuk kalau di rumah, sekarang jadi bisa baca 60 halaman lebih,” katanya sambil memegang buku yang ia baca.
Pertemuan yang bermula dari lapak itu kemudian berkembang menjadi Insomnia Book Club, yang Raja bentuk bersama temannya. Komunitas tersebut menjadi ruang untuk membaca, berdiskusi, atau sekadar berbincang ketika malam mulai larut.
Namun, Raja tetaplah penjual cilok. Di Taman Cikapayang, buku-buku itu hanya menjadi bagian dari kesehariannya berjualan dan bertemu dengan orang-orang yang datang.
Reporter: Siti Nur Halizah/SM
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM
