Pengusiran terhadap mahasiswa bernama Arie Nugraha tersebut diakibatkan ia hanya menggunakan kaos dan sandal jepit karena kemejanya yang menjadi persyaratan pakaian UTS basah kuyup kehujanan. Melihat Arie yang tidak memenuhi aturan berpakaian, seorang tatib UTS Fikom Unisba bernama Nur’Rahmawati menegurnya. “Kemana kemejanya? Kenapa cuma pake kaos aja, sepatu juga gak dipake?”
Pada saat itu juga Arie mencoba menjelaskan, “Ini bu, tadi kan hujan besar, pakaian dan sepatu semua basah. Jadi kemeja di lepas, takutnya lembar jawaban ikut basah,” tukas Arie coba meyakinkan. Namun Nur’Rahmawati kekeuh pada keputusannya. “Ya itu kan resiko kamu, disini kamu harus ikut aturan yang sudah ada, mau soal dan jawaban kamu rusak juga bukan urusan saya,” jawabnya. “Kamu sekarang maunya gimana kalau gak nurut?,” tambah Nur’Rahmawati sembari menyodorkan buku sanksinya.
Merasa tidak terima, Arie lebih memilih meninggalkan ruangan itu sebagai bentuk protesnya. “Saya kesal, sudah jelas kemeja saya basah kuyup, tapi Ibu Nur tidak mau mengerti. Memang saya salah, tapi saya sudah meminta izin ke Pak Dadi (pengawas ujian-red) dan membolehkan saya gak pakai kemeja,”
Sebelum melepaskan kemeja, ia mengaku sempat meminta ijin kepada pengawas ujian untuk melepas kemejanya, “Pak, saya boleh lepas kemejanya? Jadi saya pake kaos aja. Soalnya ini basah, takut kena lembar jawaban,” pintanya kepada Dadi Akhmadi.
Setelah itu suasana di ruangan itu semakin gaduh, ada juga beberapa mahasiswa yang ikut memprotes dengan keputusan Tatib Ujian yang tidak mau memberikan toleransi kepada Arie.
Askur Rifai yang turut menjadi pengawas saat itu ikut angkat bicara. “Memang benar Arie datang dengan keadaan basah kuyup, kebetulan disaat itu yang memberi izin itu pak Dadi, nah disaat Ibu Nur datang dan menegur Arie, Pak Dadi sedang sholat. Tapi, bu Nur tidak bilang juga kepada pengawas,” tutur Askur. ia juga menambahkan bahwa seharusnya, Tatib bilang dulu pada pengawas agar tidak terjadi kesalahan komunikasi antara pengawas dan pihak Tatib Ujian.
Kejadian itupun diamini oleh E. Fuady selaku ketua pelaksana Ujian. ”Ya seharusnya itu tidak terjadi, memang benar aturan harus dijalani, tapi kalau melihat kondisinya seperti itu harusnya dari pihak Tatib Ujian ada empati agar bisa memberikan toleransi,” kata pria berkaca mata ini. E. Fuady juga menambahkan kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi buat semuanya agar hal ini tidak terulang lagi. Disisi lain, Nur’Rahmawati tidak bersedia diwawancari dengan alasan sudah ada janji dengan rekannya sesama dosen.
Pada akhirnya, Arie tetap dianggap hadir saat ujian tersebut. Untuk masalah hasil ujian, E. Fuady akan melihat dulu lembar jawaban milik Arie untuk menentukan apakah Arie harus mengulang ujian tersebut atau tidak.
