Hari Kesehatan Dunia, Pentingnya Self Healing untuk Kesehatan Mental

Foto: Istimewa

Tepat pada hari ini (07/04), merupakan hari Kesehatan Dunia yang telah diresmikan oleh World Health Organization (WHO) sejak 1950. Tahun ini juga, tema yang diusung, cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC). WHO ingin semua masyarakat tanpa terkecuali dapat mendapatkan pelayanan kesehatan baik itu untuk penyakit fisik maupun psikis.

Fokus lembaga kesehatan dunia itupun pada peringatan tahun ini salah satunya yakni kesehatan psikis, depresi. Dilansir dari IDNTimes.com, depresi berada di urutan teratas sebagai penyebab utama kesehatan yang buruk, dengan jumlah lebih dari 300 juta orang di dunia. Di Indonesia, menurut penelitian Pletzer dan Pengdip, jika kelompok usia remaja 14-20 tahun menunjukkan prevalensi gejala depresi paling tinggi dibandingkan kelompok usia lain.

Gaya hidup yang perfeksionis, individualisme dan judge dari orang lain merupakan beberapa faktor depresi yang dialami bagi anak muda. Untuk terhindar dari gejala depresi tersebut, simak yuk tips dari Suara Mahasiswa.

  1. Rehat

Rutinitas yang padat dan masalah sosial yang tak kunjung selesai membuat pribadi seseorang tidak hanya lelah fisik melainkan psikis. Rehat menjadi salah satu cara terbaik saat merasa rutinitas atau masalah sudah di luar kapasitas, dan efeknya gak sehat untuk diri sendiri. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk refresh diri sendiri saat rehat, seperti tidur, menonton film atau hanya duduk di teras–sambil melihat lingkungan sekitar. Bagi pecinta olahraga, yoga merupakan jalan yang tepat untuk dilakukan ketika rehat.

  1. Music healing

Penelitian dari British Journal Of Psychiatry menunjukkan terapi musik jika dikombinasikan dengan pengobatan standar akan mensukseskan pengobatan depresi. Mekanisme neurokimia melalui music yang berefek pada empat perasaan meliputi mengatur mood, stress, kekebalan tubuh, dan bantuan ikatan sosial.

Banyak jenis music yang dapat dijadikan music healing, di antaranya: jenis music opera, instrumental bahkan jenis punkrock pun bisa membantu semangat kembali. Jika lagu dari Indonesia sendiri bisa didengarkan seluruh lagu di album mantra mantra milik Kunto Aji. Album tersebut diklaim khusus bagi yang membutuhkan music healing.

  1. “Ceritalah! Kamu tidak sendirian”

Sebagai makhluk social, sudah kodratnya manusia membutuhkan manusia lain. Begitupun saat masa masa sulit sekalipun. Kesedihan atau depresi yang hanya dipendam sendirian akan sangat membuat diri sendiri merasa sakit. Tak ada salahnya untuk bercerita apa yang sedang dirasakan kepada orang yang dipercaya. Jika tidak ada, beranilah menemui dokter jiwa untuk bercerita dan meminta bantuan pengobatan. Karena, cerita kesedihan jadi penguat untuk yang senasib dan jadi pengingat untuk yang sehat, kata Nkcthi. 

Untuk kamu mahasiswa Unisba, tenang saja, terdapat pusat layanan konseling di  Fakultas Psikologi. Untuk mahasiswa selain Psikologi, kamu bisa mendaftar terlebih dahulu ke kasie kemahasiswaan, sebelum diserahkan ke psikolog yang mengurusi permasalahan mahasiswa. 

  1. Belajar mencintai diri sendiri

Sebelum masuk pada mencintai diri sendiri, alangkah lebih baik jika mengenalnya terlebih dahulu. Hal tersebut dinamai Self-Compassion atau kemampuan untuk memahami keadaan emosi diri sendiri.  Juga respon emosi atas penderitaan yang dialami dengnan disertai keinginan untuk menolong diri sendiri. Melalui  self-compassion, seseorang dapat memahami dirinya sendiri.

Bicaralah pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya diinginkan. Jujur pada diri sendiri lebih baik ketimbang melampiaskan segala perasaan buruk kita pada sesuatu. Satu-satunya orang yang mampu berbicara dengan lubuk hati terdalam adalah diri sendiri. Saatnya mulai memahami diri sendiri untuk bisa bersyukur atas apa yang hidup ini. Karena, tiap orang adalah penyembuh terbaik bagi diri sendiri. 

Itu tadi adalah empat poin penting yang kamu bisa lakukan untuk mencegah dari depresi. Menurut Kabag Psikolog Klinis Unisba, Indri Utami Sumaryanti, menjaga kesehatan mental tak kalah penting dengan kesehatan fisik. “Bantuan kesehatan mental kini sama halnya dengan bantuan tenaga profesional seperti, orang yang sakit mendatangi dokter,” ungkapnya.  (Puteri Redha Patria/SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *