Skip to content
Suaramahasiswa.info

Suaramahasiswa.info

Nakal, Tajam, Menggelitik

  • Berita
  • E-Magz
  • Varian
  • Alternatif
    • Artikel
    • Kontributor
    • Curhat
    • Opini
    • Sastra
    • Release
    • Review
    • Advertorial
  • Galeri
  • Editorial
  • Ketentuan Menulis
  • Tentang Kami
SMTV
  • Home
  • Berita
  • Berita Kampus
  • Pisau Berlian pun Dapat Retak
  • Berita Kampus

Pisau Berlian pun Dapat Retak

 

 percakapan antara Daeng dan istrinya, Muli

Oleh : Arfian Jamul Jawaami



“Jangan lagi mengadahkan tangan kecuali kepada Tuhan,” ungkap Daeng dalam dialog.

 

Suara Mahasiswa Desember 14, 2011

 

            Sore itu, Kamis, 8 Desember 2011, STUBA (Studi Teater Unisba) menjadikan Student Center Unisba nampak indah dengan pesona lampu sorot dan kemajemukan sebuah seni peran yang kritis, dalam gelaran resital STUBA yang berjudul “Sang Mandor” karya Alfa Alfonso.

            Acara yang berlangsung sejak Kamis, (8/12) hingga Sabtu, (17/12) ini, terbagi dalam 5 waktu pergelaran, yaitu pada pukul 13.00 dan 15.00 WIB di tanggal 8 dan pukul 15.00 dan 19.00 esok harinya, serta  17 Desember di STKIP Garut.

            Pementasan ini sendiri bercerita perihal kehidupan seorang mantan mandor kapal bernama Daeng, yang tumbuh tua  kemudian terkulai lemah dan tak berdaya layaknya pisau berlian yang retak. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan masa muda Daeng, yang dilewatinya beserta keangkuhan dan wanita. Namun keangkuhan serta keserakahan masa mudanya, masih tersisa ketika tua, dan terselip dalam pribadi anak-anaknya. Persoalan muncul ketika anak-anak Daeng menjual sebagian hartanya, yang di dapatkan Daeng muda berkat kerja kerasnya menyambangi samudera. Sampai pada akhirnya sebuah simbol tahta berupa kursi kembali dapat ditempati Daeng. Sebuah kursi yang hanya boleh diduduki oleh Daeng seorang.

            “Kursi ini melambangkan kekuasaan sang mandor, sang pemimpin lautan, karena simbolik dari sebuah kursi, menandakan lambang kekuasaan.” Ungkap Alfa.       

             Dalam pementasan, tersimpan banyak pesan sosial yang coba diangkat sutradara, dengan menyelipkannya pada wacana dialog yang kritis. Fenomena poligami dan keserakahan adalah sebagian pesan yang tercium legit dalam pementasan. “Kami memegang teguh motto STUBA, ibadah dan dakwah, dakwah lewat seni peran.” Tambah Alfa.

            Acara yang disiapkan selama tiga bulan ini, mendapat berbagai respon positif, baik dari penonton maupun civitas penghuni Unisba, salah satunya adalah Reza Vahlevi, mahasiswa Jurnalistik Unisba 2008, “ketika bicara mahasiswa, maka jawabannya ada dua, intelektualitas dan kritik sosial, STUBA bagian dari itu,” ungkapnya.

             


Continue Reading

Previous: Perspektif Halal dalam kacamata Farmasi
Next: Strategi Pengembangan Karir Bersama Telkomsel

Hal Terkait

Unisba Lantik 1.536 Wisudawan pada Gelombang II TA 2025/2026
  • Berita
  • Berita Kampus

Unisba Lantik 1.536 Wisudawan pada Gelombang II TA 2025/2026

Agustus 23, 2026
Unisba Kembali Aktifkan Gate Parkir Secara Bertahap
  • Berita
  • Berita Kampus

Unisba Kembali Aktifkan Gate Parkir Secara Bertahap

Agustus 21, 2026
Aktivasi Semester Ganjil Unisba Kini Wajibkan NIK Orang Tua
  • Berita
  • Berita Kampus

Aktivasi Semester Ganjil Unisba Kini Wajibkan NIK Orang Tua

Agustus 16, 2026

Zine Lawan Edisi April 2025

You may have missed

Kabel Semrawut, Pejalan Kaki Ikut Kalut
  • Curhat

Kabel Semrawut, Pejalan Kaki Ikut Kalut

Agustus 24, 2026
Unisba Lantik 1.536 Wisudawan pada Gelombang II TA 2025/2026
  • Berita
  • Berita Kampus

Unisba Lantik 1.536 Wisudawan pada Gelombang II TA 2025/2026

Agustus 23, 2026
Unisba Kembali Aktifkan Gate Parkir Secara Bertahap
  • Berita
  • Berita Kampus

Unisba Kembali Aktifkan Gate Parkir Secara Bertahap

Agustus 21, 2026
Di Sela Riuh Kemerdekaan
  • Feature

Di Sela Riuh Kemerdekaan

Agustus 20, 2026
Copyright © 2025 Pers Suara Mahasiswa Unisba, All rights reserved. Dari Mahasiswa Untuk Kemanusiaan | DarkNews by AF themes.