Hiruk piruk suasana Unisba di penghujung tahun yang dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan mahasiswa, Senin (30/12). (Agam Rachmawan/Job)
Hiruk pikuk suasana Unisba di penghujung tahun yang dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan mahasiswa, Senin (30/12). (Agam Rachmawan/Job)
Suaramahasiswa.info-Unisba, Kicauan burung yang merdu mengawali pagi hari, langit yang masih berselimut kabut pun ikut menyambutnya. Pagi ini tampaknya matahari masih enggan menampakkan dirinya. Detik demi detik mahasiswa pun mulai berdatangan dari berbagai penjuru kampus, sepertinya mereka bersemangat untuk mengawali aktivitasnya di senin terakhir penghujung tahun 2013.
Bukan saja mahasiswa yang berlalu-lalang di sekitaran tangga batu kampus biru ini, dosen pun terlihat ikut sibuk untuk mengajar, sesekali terdengar suara percikan air dari sebelah kanan tangga batu. Ternyata para petugas cleaning service mulai melakukan aktivitasnya dalam membersihkan kampus. Meskipun udara sangat dingin, tapi mereka tetap bersemangat untuk memulai aktivitas.
Waktu berjalan begitu cepat, saat matahari berada di puncak cakrawala, juga suhu panas yang sangat menyengat, dimana suasana di akhir tahun sangat cocok untuk dipakai bersantai di rumah. Namun, hal ini tidak berlaku untuk mahasiswa Unisba. Karena mereka masih disibukkan dengan persiapan menuju UAS. Persiapan ini membuat mahasiswa memiliki konflik dengan dirinya sendiri, sehingga fokus akan UAS menjadi terpecah.
Suasana kampus biru pun semakin siang semakin ramai. Hal ini disebabkan oleh mahasiswa yang terlalu sibuk akan aktivitasnya. Entah itu untuk mengerjakan tugas, belajar bersama teman, maupun kepentingan pribadi. Suasana seperti ini berbeda dengan kampus Unpas Lengkong. Menurut salah seorang mahasiswa disana, suasana kampus itu sangat sepi dikarenakan masih dalam suasana minggu tenang. “Kalau di Unpas sih suasananya sepi soalnya pada libur, paling yang datang hanya yang berurusan dengan administrasi kampus,” ujar Neng Nuryani (19) Mahasiswa FISIP, Jurusan Administrasi Negara 2013.
Penghujung tahun 2013 ini, digunakan mahasiswa Unisba sebagai ajang penuntasan persyaratan untuk naik ke tahap selanjutnya, yakni semester genap. Kesibukan mahasiswa yang dialami adalah pengambilan kartu UAS, pengisian kuisioner dan pengumpulan tugas akhir yang diberikan dosen. Tidak hanya itu, mahasiswa pun harus mengisi absensi, hingga persiapan untuk UAS yang akan dimulai tanggal 6 Januari 2013.
Meskipun Unisba berbeda dengan kampus lainnya yang tak merasakan adanya minggu tenang. Namun mahasiswa tampak antusias dan fokus terhadap rutinitasnya itu . Hal ini terlihat pada beberapa kelas yang masih dipenuhi oleh para mahasiswa. Selain itu, terlihat dari banyaknya civitas yang masih memenuhi Kopma dan cafetaria. Lalu tangga batu, Pelataran, dan juga tempat-tempat lainya yang sering dijadikan tempat nongkrong bagi mahasiswa, masih terlihat ramai.
Tidak adanya minggu tenang di Unisba dikarenakan kalender Akademik Unisba yang sudah terstruktur dari tahun ke tahun. Karena hal ini berkaitan dengan adanya program Semester Pendek (SP) yang dilaksanakan ketika kenaikan tingkat. SP ini bertujuan untuk membantu mahasiswa agar dapat membantu ketepatan kelulusan dan memperbaiki nilai.
Sebelum tahun 1993, Unisba pernah mengadakan minggu tenang dan ketika itu tidak ada program SP. Dampak dari hal ini, membuat nilai mahasiswa kurang baik, juga tingkat angka kelulusan tidak sesuai harapan. Namun pada saat itu, hal ini tidak menjadi masalah besar bagi pihak kampus.
Kala matahari mulai turun dari titik puncak tertingginya, Aris Widiarso mengungkapan masalah tidak adanya minggu tenang di Kampus Biru ini. Ia mengatakan mahasiswa Unisba tidak memerlukan minggu tenang, karena hal ini hanya akan disalahgunakan oleh mahasiswa. “Kalau ada minggu tenang, mahasiswa bukannya memanfaatkan waktu itu buat santai yang ada malah main, jadi gak fokus UAS,” papar Aris saat ditemui di ruang kemahasiswaan.
Hal ini diamini oleh salah satu mahasiswi Fakultas MIPA Unisba, dia menyatakan kurang setuju jika ada minggu tenang. Ia menganggap hal itu akan mengurangi konsentrasi untuk UAS yang disebabkan oleh terlalu enjoy bermain. “Minggu tenang buatku sih ga usah, kalau ada ntar jatah libur pas puasa di korting dong. Lagian kalau sekarang wisata penuh dan penginapan mahal,” tukas Jane (20) mahasiswi Prodi Farmasi tersebut.
Saat senja mulai menyambut, Aris Widiarso memberikan pesan untuk mahasiswa Unisba dalam mengatur waktu karena tidak adanya minggu tenang. Menurutnya semua mahasiswa yang menentukan waktu, meskipun tidak ada minggu tenang ia yakin bahwa mahasiswa Unisba mampu mengatur waktu. “Gak perlu minggu tenang, soalnya pasti dipakai main, nantikan dikasih libur panjang 3 bulan, itu sudah cukup menurut saya. Minggu tenang baiknya diatur sendiri dan mahasiswa juga harus menyusun strategi,” tutup Aris. (Intan Silvia Dewi, Agam Rachmawan/Jobs)
