Oleh : Arfian Jamul Jawaami
“Saya tidak ingin menjadi pohon bambu, saya ingin menjadi pohon oak yang berani menentang angin.” Oleh Soe Hok Gie.
Sore ini datang lagi. Sore dimana sebagian jejaka mendadak menjadi seorang pejuang kasih tanpa tepi. Jalan-jalan warnanya kelabu namun tidak penuh debu. Lantas seorang kawan yang pantas di hormati layaknya orang tua, mengerut rupa dan berujar, “jika mereka sibuk menghadapi berbagai ragam pergulatan ini, maka silahkan galau diganyang sepi.”
Persoalan galau, bukan melulu beranjak dari ranah sendu serupa kisah diatas . Birokrasi pelayanan fakultas yang tidak prima beserta sempitnya waktu dan ruang aktifis berpolah, terkadang menghadirkan rasa galau nan menyebalkan. Akibatnya adalah diam dan krisis kritik. Maka jangan sepenuhnya salahkan mahasiswa jika nyatanya mereka adalah para generasi yang kebingungan.
Katanya Unisba adalah kampus Islam yang mengedepankan pembelajaran bersifat soft skill. Namun itu katanya para pembaca yang rupawan, nyatanya harmonisasi antara slogan dan realisasi cuman berhenti sampai areal jidat. Soft skill sendiri bisa berarti keterampilan manusia dalam berhububungan dengan orang lain dan dirinya sendiri, dimana erat kaitannya dengan kemampuan bakat dan keterampilan yang bersifat non teknis. Hal tersebut dapat dicapai jika saja kebijakan fakultas lebih membebaskan mahasiswanya untuk aktif berorganisasi. Tapi lagi-lagi apa jadinya kalau sebagian dari hidup mahasiswa ditasbihkan dalam ruang kelas, tanpa adanya keserasian dengan kehidupan berorganisasi. Jika begitu, maka mahasiswa kembali galau dan biarkan wacana soft skill tetap menjadi mitos murni kemarin sore.
Dalam Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 10 dijelaskan : (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa : “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”
Surat diatas mengkisahkan sebiji kasus heroik para pemuda ashabul kahfi yang dengan tegas dan cergas menentang kesewenangan raja atas penolakan terhadap pemusrikan. Jelas ini adalah perintah untuk tidak diam meratapi merdunya kegalauan. Jadilah sebatang oak yang berfikir lain dari kebiasaan, agar kelak mahasiswa saat ini, bukan generasi penerus prinsip “pantang menyerah membela yang membayar. “
Sebuah kutipan motivasi tertuang lugas oleh Thomas Alva Edison, “banyak orang yang percaya bahwa suatu hari kala mereka bangun dari tidur, mereka sudah menjadi kaya. Sesungguhnya mereka sudah separuh benar karena mereka memang telah bangun dari tidur.” Alangkah manisnya jika ini tidak berhenti sampai kata separuh, maka lakukan sesuatu sejenak setelah terbangun dari tidur.
