Adew Habtsa selaku perwakilan majelis Bandoung sedang memberikan sambutan dan memotivasi para pengunjung untuk rajin menulis dan menghargai kelahiran sebuah karya
Suaramahasiswa.info, Bandung – Kalderaklab Collaboration Project, adalah sebuah komunitas penulis dan juga penggambar, yang mempunyai basecamp di Hutan Kota Bandung (Baksil). Kamis (29/5) komunitas ini menyelenggarakan Peluncuran Buku dan Pameran “Metamorfosa”, di basecamp mereka. Kalderklab sendiri pada awalnya memiliki suatu karya berbentuk zine. Hingga akhirnya mereka memiliki karya antologi puisi dan visualisasi dari hasil nongkrongnya selama ini. Dalam acara ini 200 buku dibagikan secara cuma-cuma kepada pengunjung.
Berbicara mengenai judul yang diberikan yaitu “Metamorfosa”, hal ini dikarena kata tersebut dapat menggambarkan proses perjuangan membuat launching buku ini. Dimulai dari mengorbankan pikiran, waktu, hingga berkembang pesat sampai hasilnya maksimal. Esadewow menambahkan alasan mengenai judul tersebut, “Karena di buku tersebut ada cerita mengenai kelahiran tumbuhan dan ini baru langkah kecilnya saja,” Ujarnya.
Dalam acara tersebut turut hadir Adew Habtsa selaku perwakilan dari Majelis Sastra Bandung. Ia mengunggkapkan bahwa sebuah buku yang lahir patut dirayakan. Hal ini dikarenakan tulisan tersebut menjadi anak dari pikiran kita. Agustina Iskandar, ikut memaparkan cara merayakan kelahiran sebuah buku, “Caranya dengan dibuka, dibaca, diresapi, lalu dihayati,” Papar wanita yang merupakan dosen sekaligus penulis.
Menurut Adew dalam buku Metamorfosa ini memiliki tiga kegelisahan. Pertama kegelisahaan eksistensial, terdapat dalam tulisan karya MWM dengan judul Sajak Kepergian “Kemana tuan-tuan hendak berkelana? Tanpa tujuan apalah guna,” Adew mengakui bahwa kutipan ini sangat jernih dari segi bahasanya.
Kegelisahan yang kedua yaitu metafisika (Alam semesta, tuhan) terdapat pada puisi karya Irlandi, “ Suatu hari aku pergi ke ladang. Tiada pohon, hanya penggembala gersang. Mengejar puluhan hewan teka-teki. Apa yang ia cari? Kehidupan abadi….”. kepekaan dalam puisi ini sangat baik. Dan kegelisahan yang ketiga adalah kultural (Sistem yang terjadi dan politik hari ini). (Intan Silvi dan Winda Rahma Nelli/SM)
