Potret seekor tikus yang berlari dari tumpukan sampah menuju gorong-gorong di lingkungan Universitas Islam Bandung (Unisba) pada Senin, (13/7). (Foto: Siti Nur Halizah/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Menjelang senja, Universitas Islam Bandung (Unisba) perlahan memasuki suasana yang berbeda. Aktivitas mahasiswa mulai mereda, lorong-lorong kampus semakin lengang, dan ketika sebagian warga kampus beranjak pulang, penghuni lain justru mulai keluar dari persembunyiannya.
Di balik gorong-gorong, selokan, hingga rumpun tanaman di sekitar tempat pembuangan sampah, tikus tampak berlarian mencari makan. Kemunculannya bukan lagi pemandangan asing bagi sebagian warga kampus. Di beberapa sudut Unisba, hewan pengerat itu seolah telah menjadi bagian dari keseharian.
Fenomena tersebut sudah menjadi rutinitas bagi Solihin, petugas Zero Waste yang mengelola sampah organik kampus selama dua tahun terakhir. Hampir setiap hari dirinya menjumpai tikus berkeliaran di sekitar tempat pengolahan sampah, terutama saat malam mulai tiba.
Bagi Solihin, keberadaan tikus bukan sekadar pemandangan yang berlalu begitu saja, tetapi juga membawa kerugian dalam pekerjaannya. Ia menceritakan, kantong sampah kerap berlubang akibat gigitan tikus, bibit cabai, kangkung, dan pakcoy yang ditanam berulang kali rusak, bahkan budidaya maggot serta kolam lele yang dikelolanya pernah gagal karena kawanan tikus masuk mencari makan.
“Pas saya masuk juga udah banyak, menguranginya juga susah mau gimana. Sekarang alhamdulillah agak berkurang,” ucap Solihin saat menceritakan kondisi tempat pengolahan sampah ketika pertama kali ia bekerja.
Bagi Rivaldo Fajar Aditama, mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Pertambangan, kawasan sekitar Teknik Pertambangan menjadi salah satu sudut kampus yang kerap didatangi tikus terutama karena lokasinya berdekatan dengan tempat pengelolaan sampah. “Kalau siang paling satu dua, tapi kalau malam pasti banyak banget,” kata Rivaldo menggambarkan pemandangan yang hampir setiap hari ia temui di lingkungan kampus.
Bukan hanya jumlahnya yang mencolok, ukuran tikus yang ditemui Rivaldo pun tidak kecil. Beberapa di antaranya bahkan hampir sebesar anak kucing dan kerap muncul dari gorong-gorong, sela tanaman, maupun saluran air di sekitar gedung perkuliahan.
Pemandangan serupa juga akrab bagi Fahad Nurholis, Ketua Mahasiswa Pecinta Alam (Mapenta), ia mengatakan kemunculan tikus di sekitar sekretariat Mapenta bukan lagi hal yang mengejutkan. Hewan pengerat itu kerap datang dari arah selokan dan kawasan Fakultas Teknik menuju sekretariat organisasinya meski area tersebut rutin dibersihkan.
Menurut Fahad, lingkungan yang lembab, selokan, serta sisa makanan yang masih sering tercecer menjadi alasan tikus betah bertahan di kampus. Ia menilai, upaya membasmi tikus tidak akan menyelesaikan persoalan apabila sumber makanan mereka masih tersedia.
“Kalau misalkan terus dibasmi, tapi kitanya masih kayak gitu lagi, ya, percuma. Menurut saya pasti tikus bakal ada lagi,” tuturnya menilai kebersihan lingkungan menjadi salah satu kunci untuk mengurangi kemunculan tikus.
Meski begitu, kondisi pengelolaan sampah perlahan mulai berubah. Solihin menjelaskan bahwa sejak sampah organik langsung dicacah dan diolah menjadi kompos, sisa makanan tidak lagi menumpuk terlalu lama. Jumlah tikus memang belum hilang sepenuhnya, tetapi menurutnya sudah mulai berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu.
Bagi sebagian warga kampus, tikus mungkin hanya terlihat sesekali melintas. Namun, bagi mereka yang beraktivitas di sejumlah sudut Unisba, hewan pengerat itu telah menjadi penghuni lain yang muncul ketika kampus mulai lengang. Di balik selokan, gorong-gorong, dan tumpukan sampah, jejak mereka masih menjadi bagian dari keseharian Kampus Unisba.
Reporter: Siti Nur Halizah/SM
Penulis: Siti Nur Halizah/SM
Editor: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM
