Pada 27 Juli – 4 September 2025, Aisyatur Rahma, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung memperoleh kesempatan berharga untuk mengajar sekaligus belajar lintas budaya melalui program Global Volunteer x Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diselenggarakan oleh AIESEC in Bandung. Selama kurang lebih satu setengah bulan, ia menjalani proyek Global Classroom di Bishkek, Kyrgyzstan, dengan mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak setempat sekaligus mengenal budaya dan kehidupan masyarakat secara langsung.
Keinginan untuk belajar di luar ruang kelas menjadi alasan Aisyatur mengikuti program ini. Sebagai mahasiswi pendidikan, ia ingin melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung di negara lain sekaligus mengembangkan kemampuannya beradaptasi di lingkungan baru. Baginya, pembelajaran tidak hanya diperoleh melalui teori tetapi juga dari pengalaman hidup dan interaksi dengan budaya yang berbeda.
Selama program berlangsung, Aisyatur menghabiskan pagi hingga siang harinya untuk mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak setempat. Dalam proses pembelajaran, ia menerapkan berbagai metode kreatif, seperti permainan, kerja kelompok, ice breaking, dan pertukaran budaya antara Indonesia dan Kyrgyzstan. Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran tidak hanya berfokus pada tata bahasa, tetapi juga mendorong siswa untuk lebih nyaman, antusias, dan percaya diri menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi.
Perjalanan ini tentu tidak lepas dari tantangan, terutama dalam hal adaptasi makanan dan bahasa, di mana Aisyatur sebagai orang Indonesia yang terbiasa dengan cita rasa rempah yang kuat membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan menu sehari-hari di Kyrgyzstan. Hal tersebut menjadi bagian dari pengalaman berkesan yang ia jalani selama program berlangsung.
Sementara itu, anak-anak yang ia ajar menggunakan bahasa Kyrgyz dan Rusia dalam keseharian mereka, sehingga Aisyatur harus terlebih dahulu mempelajari kalimat-kalimat dasar dalam bahasa Rusia agar proses komunikasi di kelas dapat berjalan lebih lancar. Hasilnya, suasana belajar kerap menjadi perpaduan yang unik antara bahasa Inggris, Rusia, dan gerakan tangan yang saling melengkapi. “Saya menyadari bahwa komunikasi bukan selalu soal bahasa, tetapi ketulusan dan usaha juga sudah cukup untuk menyatukan orang-orang,” ujar Aisyatur.

Di luar jam mengajar, Aisyatur menjalani keseharian yang tak kalah bermakna. Dirinya menjelajahi sudut-sudut Kota Bishkek, menghabiskan waktu bersama host family, dan berbaur dengan relawan internasional dari berbagai negara. Salah satu momen yang paling ia kenang adalah saat berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kyrgyzstan serta bertemu dengan warga negara Indonesia di sana yang ia gambarkan seperti menemukan rumah kecil di negara yang jauh. Ia juga memanfaatkan kesempatan untuk melakukan solo travel guna mengenal budaya lokal lebih dalam serta bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang.
Program ini memberikan dampak yang melampaui sekadar pengalaman mengajar. Aisyatur mengaku perspektifnya terhadap dunia berubah secara nyata—ia kini lebih terbuka terhadap perbedaan, lebih menghargai cara pandang orang lain, dan lebih berani menghadapi situasi yang asing. Ia juga semakin menyadari bahwa perbedaan budaya bukan hambatan melainkan hal yang justru memperkaya kehidupan. “Saya pikir, saya datang akan mengajar orang lain, tapi ternyata saya yang banyak belajar,” ungkapnya.
Selain itu, Aisyatur juga berpesan kepada mahasiswa yang tengah mempertimbangkan pengalaman serupa, untuk tidak ragu melangkah meski tantangan di awal terasa menakutkan. Menurutnya, program Global Volunteer x KKN AIESEC in Bandung ini bukan hanya tentang menjadi relawan atau pergi ke luar negeri, melainkan tentang proses pendewasaan diri yang membuat seseorang tumbuh lebih luas, tidak hanya secara geografis tetapi juga bagaimana cara memandang dunia.

