Sejumlah warga menyaksikan letusan awan panas Gunung Kelud dari Kota Kediri, Jawa Timur, pada Jum’at (14/2). (Juni Kriswanto/AFP)
Suaramahasiswa.info, Bandung – Gunung Kelud kembali menorehkan sejarah lutusan gunung api aktif di Indonesia –dengan tinggi lontaran material vulkanik lebih dari 17 kilometer– pada pukul 22.50 WIB, Kamis (13/2). Akibatnya, ribuan orang terpaksa mengungsi.
Secara letak gunung api ini termasuk ke dalam sabuk Cincin Api Fasifik, lokasinya berada pada 7,93 derajat Lintang Timur dan 112,308 derajat Bujur Timur –yang masuk dalam wilayah perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang dengan ketinggian 1.731 mdpl.
Gunung Kelud termasuk dalam tipe strato dengan karakteristik letusan eksplosif –kecuali tahun 2007 letusan efusif. Sejak tahun 1000 masehi, gunung api ini tercatat aktif memuntahkan material vulkanik ke angkasa –menjadikan Gunung Kelud berbahaya bagi makhluk hidup. Berikut rangkuman sejarah letusannya dari tahun 1586 hingga 2007.
Tahun 1586
Berdasarkan karakteristik letusan eksplosif, efek yang ditimbulkan tidak separah Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat ataupun Gunung Krakatau di Selat Sunda yang menghebohkan dunia. Meski begitu, Gunung Kelud adalah salah satu gunung api aktif yang merenggut lebih dari 10.000 korban jiwa dalam sejarah letusannya.
Tahun 1901
Tepat tengah malam di penghujung Mei 1901. Bunyi letusan terdengar hingga ke Pekalongan. Awan panas menyerang Kediri dan hujan abunya menerpa hingga ke wilayah Bogor. Diperkirakan banyak korban jiwa dalam peristiwa itu, namun tidak tercatat secara pasti.
Tahun 1919
Kala itu letusan vulkaniknya termasuk yang paling buruk lantaran menelan korban sebanyak 5.160 jiwa. Banjir lahar dingin seluas 38 kilmoter dari erupsi Gunung Kelud menyapu ribuan pemukiman warga dan lebih dari 15.000 lahan produktif rusak parah. Akibat letusan itu, pemerintah kolonial membangun tujuh terowongan pembuangan air danau kawah –yang rampung tahun 1926.
Tahun 1951
Pagi di penghujung tahun kemerdekaan, Selasa, 28 Agustus 1951. Gunung Kelud memuntahkan material vulkanik yang menyebabkan tujuh orang tewas dan melukai 157 orang. Hujan batu sebesar buah mangga menerpa sebagian wilayah di Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Bahkan, hujan abu vulkaniknya mencapai Bandung, Jawa Barat.
Tahun 1966
Sekitar pukul 20.15 WIB, Selasa, 26 April 1966. Letusan material vulkanik disertai lava panas mengalir ke sejumlah sungai di sekitar Gunung Kelud. Akibatnya, 216 orang tewas dalam peristiwa tersebut.
Setelah letusan itu, Pemerintah Indonesia membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan baru itu rampung dibangun pada tahun 1967, diberi nama Terowongan Ampera –berfungsi untuk menjaga volume air danau kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik.
Tahun 1990
Sabtu, 10 Februari 1990 silam. Geliat vulkanik Gunung Kelud mengguncang Jawa Timur selama 45 hari –sebanyak 57,3 juta meter kubik material vulkanik dimuntahkan gunung api ini. Banjir lahar dingin menjalar hingga radius 24 kilometer. Akibatnya, ribuan orang terpaksa mengungsi. Terowongan Ampera sempat tersumbat, namun revitalisasinya baru rampung pada tahun 1994.
Tahun 2007
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengeluarkan status “awas” atas aktivitas Gunung Kelud pada 16 Oktober 2007 lalu. Terhitung, lebih kurang 135.000 jiwa harus mengungsi –menjauhi radius 10 kilometer– dari puncak gunung.
Akibat aktivitas tinggi yang terjadi di tahun 2007 lalu, mengakibatkan munculnya asap putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava selebar 100 meter. Letusan efusif itu telah menyurutkan air di danau kawah –menyisakan kolam kecil yang nyaris kering– di sisi selatan kubah lava. (Sugiharto Purnama/SM)
