Ilustrasi seseorang yang tengah mencoret BEMU dan DAMU dari bagan struktur organisasi KBMU. (Ilustrasi: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM)
Suaramahasiswa.info. Unisba- Tidak semua orang menyadari bahwa kehidupan kampus memiliki sisi lain yang berfungsi layaknya sebuah negara dalam skala yang lebih kecil. Di balik kegiatan akademik dan ruang kelas, terdapat struktur kekuasaan, pembagian peran, serta dinamika politik mahasiswa yang terus berjalan.
Di balik rancangan sistem Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di Universitas Islam Bandung (Unisba), Badan Eksekutif Mahasiswa Unisba (BEMU) dan Dewan Amanat Mahasiswa Unisba (DAMU) ditempatkan sebagai dua pilar utama dengan fungsi eksekutif dan pengawasan. Keduanya acapkali diposisikan sebagai penggerak sekaligus menjadi penghubung antara mahasiswa dengan birokrasi kampus.
Dalam struktur kemahasiswaan Unisba, BEMU berperan sebagai lembaga yang menghimpun dan menyalurkan aspirasi mahasiswa sekaligus menjadi wadah pengembangan penalaran, profesi, dan soft skills. Sementara itu, DAMU berfungsi sebagai lembaga yang mengawasi kinerja BEMU serta memastikan aspirasi mahasiswa tersampaikan dan ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan pihak universitas.
Pergeseran Minat Mahasiswa terhadap Organisasi
Di tengah derasnya tuntutan akademik dan persaingan kompetensi, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan perlahan mulai kehilangan gaungnya. Mahasiswa cenderung menilai organisasi berdasarkan manfaat praktis yang diperoleh secara langsung, seperti pengalaman kerja dan keterampilan aplikatif, dibandingkan proses organisasi yang dianggap menyita waktu.
Lebih jelas, minat mahasiswa terhadap organisasi tidak lagi seksi seperti sebelumnya. Bergeser pada fokus yang lebih pragmatis terhadap capaian akademik dan pengembangan diri secara individual. Modal yang tinggi serta effort untuk rapat tidak lagi menjadi daya tarik mahasiswa saat ini.
Kondisi tersebut tercermin dalam hasil wawancara Suara Mahasiswa dengan 15 ormawa Unisba. Sebanyak lima BEM Fakultas (BEM-F), lima DAM Fakultas (DAM-F), tiga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan dua Lembaga Kegiatan Mahasiswa (LKM) mengeluhkan sepinya minat mahasiswa terhadap organisasi.
Raisya Salsabila selaku Ketua Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) menyetujui adanya perubahan cara pandang mahasiswa terhadap organisasi. Ia melihat bahwa sebagian mahasiswa lebih menitikberatkan pada beban yang dirasakan dibandingkan manfaat jangka panjang yang dapat diperoleh.
Sabiq Ali Mazaya Jatnika selaku Ketua Umum BEM-F Teknik menilai bahwa persoalan rendahnya minat mahasiswa terhadap organisasi harus segera ditemukan. “Tantangan minat mahasiswa masih kurang tapi arus kebutuhan mahasiswa juga semakin banyak maka selaku organisasi yang paling tinggi (BEMU dan DAMU, Red) harusnya bisa menjawab semua tantangan yang ada,“ ucap Sabiq pada Kamis, (2/4).
Selanjutnya, Riza Langga selaku Ketua Paduan Suara Mahasiswa (PASUMA) memandang bahwa rendahnya minat mahasiswa juga berkaitan dengan kurang optimalnya proses internalisasi dari BEMU dan DAMU. Ia menyampaikan, selama masa jabatannya, masih terdapat kelemahan dalam keterhubungan antara organisasi tingkat universitas dengan ormawa di bawahnya.
“Dinamika ormawa sekarang flat. Flat seperti kegiatannya begitu-begitu saja sebetulnya. Kalau dilihat dari perspektif saya sendiri, semuanya terasa datar dan tidak terasa. Selain itu, kegiatan ormawa yang biasanya memang menonjol juga cenderung sepi, ditambah kurangnya fasilitas yang memadai,“ ujarnya pada Sabtu, (4/4).
Kondisi BEMU dan DAMU di Unisba
Alih-alih menjadi ruang gerak yang hidup dan partisipatif, aktivitas BEMU kini cenderung berjalan sebagai rutinitas yang kering makna. Program kerja (proker) BEMU tercatat hampir seluruhnya terlaksana, namun absennya agenda strategis seperti sekolah gerakan, sekolah advokasi, serta pemberdayaan dan pengabdian masyarakat justru menyingkap kehilangan arah dan substansi gerakan.
Sementara itu, DAMU tidak menunjukkan geliat kerja yang signifikan dengan realisasi program yang hanya pada Sidang Tengah Periode (STP) tanpa keberlanjutan yang jelas. Meskipun secara struktural memiliki fungsi sebagai pengawas dan penjaga arah organisasi kemahasiswaan, dalam praktiknya DAMU justru mengalami disfungsi yang cukup serius.
Dalam setahun terakhir, dinamika internal DAMU mengalami kecacatan terutama setelah ditinggal oleh Ketua DAMU sebelumnya pada Agustus-Februari lalu. Hingga tulisan ini diterbitkan, Ketua DAMU yang baru saja dilantik, Nabil Zufar Guniwang tidak memberikan tanggapan apapun terkait permohonan wawancara.
Selain itu, minimnya partisipasi mahasiswa aktif dan ormawa lain dalam STP tersebut menegaskan bahwa BEMU dan DAMU lebih tampak sebagai lembaga formalitas daripada wadah perjuangan yang benar-benar hidup. Menimpali pelaksanaan STP, Ketua Umum BEM-F Syariah, Ferry Anwar Musaddad ikut mempertanyakan kinerja BEMU.
“Saya sempat datang di STP BEMU, ketika saya duduk dan membaca laporan pertanggungjawaban nya, semuanya tidak ada parameter dan indikator keberhasilannya, mungkin bisa ditariknya seperti itu, hingga pada akhirnya terlihat formalitas,” ungkapnya saat diwawancarai pada Rabu, (15/4).
Presiden Mahasiswa Unisba 2025–2026, Kamal Rahmatullah, menegaskan bahwa secara aturan, BEMU memang memiliki mandat untuk mengkoordinasikan seluruh organisasi mahasiswa di lingkungan kampus “Fungsi dan perannya sudah tertera untuk akhirnya berbicara di aturan, mengkoordinir UKM ataupun 10 BEM-F juga, ya, kiranya ada di aturan lah,“ katanya saat diwawancarai Pada Rabu, (11/3).
Nyatanya, hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Umum BEM-F Psikologi, Muhammad Hilmi Bayuaji, mengatakan bahwa koordinasi yang seharusnya dilakukan oleh BEMU tidak dirasakan oleh UKM maupun BEM-F. Ia mengatakan bahwa komunikasi dengan BEMU belum terwujud dalam bentuk koordinasi proker yang konkret.
Dilihat dari sisi UKM, Muhammad Nurjana, ketua dari Unit Pengembangan Tilawatil Quran (UPTQ) mengaku bahwa pihaknya belum mendapatkan hak sebagai UKM Unisba selama delapan bulan kepengurusan. “Sama sekali tidak ada sosialisasi kayak proker BEMU itu bagaimana, BEMU itu apa dan gimana, tidak ada.” Ucapnya pada Selasa, (14/4).
Kondisi serupa datang dari DAM-F kepada DAMU. Rizal Ihza selaku Ketua DAM-F Dakwah dan Dimas Arya Wicaksana selaku Ketua DAM-F Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) merasa bahwa komunikasi dengan DAMU masih terbatas. Bahkan, cenderung berlangsung dalam forum tertentu seperti STP atau Rapat Koordinasi (Rakor) tanpa keberlanjutan yang jelas.
Senada, Ekfara Aditya Rahayu selaku Ketua Komisi C DAM-F Psikologi, merasa keterlibatan DAMU dan BEMU hanya terlihat pada kegiatan tertentu tanpa proses pembinaan serta pendampingan. Selain itu, Muhammad Akmal Kurniawan, Ketua BEM-F MIPA juga mengeluhkan koordinasi BEMU yang serba mendadak terkait adanya acara maupun kegiatan.
Berbanding terbalik dengan DAM-F lain, Ketua DAM-F Ekonomi dan Bisnis (DAM FEB), Mohamad Syahril Syabani, menuturkan jika komunikasi dengan DAMU terjalin cukup baik. “DAMU bisa dibilang cukup baik terkait info ataupun komunikasi dan mencari relasi gitu. Untuk komunikasi formal, sih baru terjalin sekali pada waktu STP. Itu juga hanya membahas tentang kegiatan DAMU yang kedepannya meminta bantuan ke DAM-F,” ungkapnya pada Jumat, (3/4).
Menilik periode sebelumnya, Edi Setiadi selaku Rektor Unisba Periode 2021-2025 menyampaikan bahwasannya hal ini memang sudah terjadi ketika dia masih menjabat menjadi Rektor. “Kalau zaman saya, keluhan saya hanya begini saja. Kurang bisa menarik kegiatan-kegiatan untuk mahasiswa. Jadi, belum sepenuhnya mendukung program saya saat masih menjabat,” ucapnya saat diwawancara pada Jumat, (13/3).
Relasi BEMU dan DAMU dengan ormawa serta birokrasi kampus masih dipandang sebatas formalitas dan situasional saja. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara fungsi normatif dan praktik di lapangan.
Krisis Relevansi BEM dan DAM Unisba
Sebagian besar ormawa di Unisba, menganggap BEMU dan DAMU tidak memberikan dampak langsung terhadap kebutuhan mahasiswa. Akibatnya, partisipasi menurun bukan hanya dalam keanggotaan tetapi juga dalam hal paling sederhana seperti kepedulian terhadap kinerja organisasi.
Kamal menegaskan bahwa peran advokasi yang dijalankan BEMU masih menjadi alasan utama relevansi organisasi, terutama dalam menjembatani permasalahan mahasiswa ke pihak rektorat. “Hasil advokasi dari setiap BEM-F dan DAM-F nanti akan dibuatkan advokasi secara keseluruhan untuk akhirnya membahas dan mewadahi permasalahan yang ada di Unisba, “ ucapnya.
Di sisi lain, Ketua dari Clean and Green (CNG), Dio Ariano Purbaya berpendapat bahwa ormawa cenderung bergerak masing-masing karena lebih berfokus pada urusan internal organisasinya sendiri. Hal serupa juga disampaikan oleh Nurjana, yang melihat bahwa berbagai persoalan di ormawa acapkali diselesaikan secara mandiri tanpa keterlibatan BEMU secara optimal.
“Kalau secara butuh dan gak butuh, kita memang butuh. Dan kemarin, sempat ada konflik juga dengan ormawa lain. Nah, itu kan peran BEMU harusnya sebagai penengah, kan. Tapi, ya, kita menyelesaikan itu dengan tangan kami sendiri juga pada akhirnya, kami tidak melibatkan mereka. “ Jelas Nurjana pada Selasa, (14/4).
Dalam memandang BEMU dan DAMU, Dimas melihat adanya jarak yang cukup nyata antara organisasi dan basis yang seharusnya mereka wakili. Ia mengatakan, keberadaan kedua lembaga ini belum sepenuhnya dipahami oleh mahasiswa, terkhusus mahasiswa Fakultas MIPA. Bukan karena tidak penting, tetapi karena aktivitas dan perannya tidak terkomunikasikan dengan baik.
Dhika Muhamad Gustiar sebagai Ketua Umum BEM-F Hukum berpendapat bahwa pada kenyataannya mahasiswa tetap menjalankan aktivitas kampus meskipun tanpa keterlibatan langsung organisasi. Ia menilik kondisi ini menjadi indikasi bahwa fungsi organisasi sebagai penggerak maupun representasi mahasiswa mulai mengalami penurunan relevansi.
Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan Unisba, Hikmat Taofiq menilai bahwa kinerja BEMU dan DAMU saat ini memang belum berjalan optimal. “Perjalanannya memang cukup tertatih-tatih, ya, terutama DAMU, kalau BEMU sebenarnya sudah berjalan tapi barangkali ada instrumen yang kurang optimal karena BEMU setengah periodenya saja itu masih merekrut kabinetnya,” tuturnya pada Jumat, (10/4).
Taofiq menyoroti cacatnya instrumen BEMU salah satunya disebabkan karena terjadi kekosongan DAMU hingga terjadi pergantian kepengurusan. Akibatnya, kontrol dan pengawasan BEMU luput dan bergerak tanpa arah yang jelas
“Saat itu saya tidak tahu apakah eksekutifnya sudah baik dan benar menjalankan kebijakan karena nggak ada yang ngontrol, kan. Sehingga saya sebagai pembina dari Kemahasiswaan turun langsung, sebetulnya tidak etis sekalipun pembina punya hak dan kewajiban pada saat itu. Tetapi kan seharusnya saya menegur terlebih dahulu DAMU nya,” ujar Taofiq.
Lebih lanjut, Taofiq menuturkan bahwa keberadaan BEMU dan DAMU masih relevan sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa diluar ranah akademik. Menurutnya, organisasi tetap dibutuhkan karena berperan dalam membentuk dan melatih kemampuan mahasiswa dalam menghadapi dinamika kehidupan.
“Bagi saya relevansinya masih dibutuhkan, organisasi itu masih dibutuhkan karena itu untuk membina kreativitas dan pola pikir dia sebagai mahasiswa. Hanya persoalannya kan tadi, the man behind the gun, bagaimana orang menggunakan organisasi itu sebagai satu kesatuan yang utuh dalam menjalankan kehidupan.” Jelasnya pada Jumat, (10/4).
Program kerja tetap berjalan, laporan tetap disusun, tetapi dampaknya seperti tidak pernah benar-benar sampai ke mahasiswa. Pendekatan organisasi dalam menarik minat mahasiswa dinilai kurang serius, bahkan terkesan seadanya.
Dampak Jika Relevansi BEMU dan DAMU Melemah
Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, maka melemahnya relevansi BEMU dan DAMU bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan. Tanpa fungsi kontrol dan representasi yang berjalan efektif, mahasiswa kehilangan ruang untuk menyuarakan aspirasi secara terstruktur.
Sejumlah ormawa menilai jika BEMU dan DAMU ditiadakan justru akan menimbulkan kekosongan lembaga yang melakukan koordinasi di tingkat universitas. Meskipun dalam realitas peran keduanya masih diperdebatkan, keberadaan lembaga ini tetap dianggap penting sebagai penghubung utama antara fakultas dan pihak universitas.
Menanggapi hal tersebut, Dhika mengatakan, meski kinerja BEMU dan DAMU belum sepenuhnya terasa oleh mahasiswa, penghapusan lembaga tersebut bukan solusi yang tepat. Sudah seharusnya lembaga eksekutif yang memiliki akses kepada pihak kampus menjalankan tugas, pokok, dan fungsi (Tupoksi) dalam mengkoordinasikan mahasiswa.
Ia menuturkan, tanpa adanya wadah koordinasi di tingkat universitas, masing-masing fakultas berpotensi berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang terorganisir. “Ah repot kalo semisal ditiadakan otomatis enggak ada wadah gitu. Jangan karena kita tiap fakultas jalan masing masing, BEMU dan DAMU ini ditiadakan.” Jelas Dhika.
Di lain pihak, Fakhriy Arsyad Lazuwardi sebagai ketua Studi Teater Unisba (Stuba) menyebut dirinya tidak merasakan dampak yang signifikan, baik dengan keberadaan maupun ketiadaan BEMU dan DAMU sendiri. Ia menilai, minimnya komunikasi antar ormawa menjadi salah satu faktor yang membuat ruang diskusi terkait proker maupun kebijakan semakin terbatas, karena kehadiran keduanya pun tidak lagi dirasakan.
Sementara itu, Dimas memberikan pandangan terkait dampak jika DAMU tidak ada dalam struktur organisasi mahasiswa. Ia menyoroti bahwa dalam proses pelantikan DAM-F, keberadaan DAMU memiliki peran administratif yang tidak bisa sepenuhnya digantikan.
“Mereka (DAMU, Red) memberikan informasi kalo mereka gabisa dateng itu pas hari H yang dimana itu ngebuat kaya pelantikannya sama presidium aja daripada gak sama sekali, terus selain dari pelantikan juga paling yang pas kumpulan aja,“ ucapnya.
Oleh karena itu, Taofiq menegaskan bahwa BEMU perlu mengoptimalkan perannya kembali dengan menghidupkan koordinasi rutin bersama seluruh UKM, khususnya dalam menjalankan fungsi pembinaan melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). “Rapat koordinasi, lah, dengan seluruh UKM mempertanyakan tentang tadi tugas dan fungsi BEMU, terutama menteri dalam negerinya,” ungkapnya.
Kedepannya, ia menyampaikan bahwa BEMU perlu mengajarkan tentang literasi kepada tiap kementrian terkait Laporan Pertanggung jawaban (LPJ) agar hal tersebut dapat diimplementasikan. Dirinya pun berencana untuk membantu personal branding organisasi melalui sosial media.
Lebih jelas, Dosen Fakultas Dakwah, Fadli Muttaqien turut memberikan solusi dengan menekankan bahwa refleksi tidak hanya ditujukan kepada BEMU, tetapi juga kepada BEM-F sebagai bagian dari sistem yang harus aktif dan kritis. Ia menilai BEM-F tidak seharusnya bersikap pasif ketika BEMU tidak menunjukkan keaktifannya, melainkan perlu hadir untuk menyuarakan kritik, saran, serta meluruskan hal-hal yang tidak berjalan semestinya.
Hal ini menunjukkan bahwa secara prosedural, BEMU dan DAMU masih memiliki fungsi formal yang tidak bisa dihilangkan begitu saja tanpa adanya penggantian struktur kepengurusan yang jelas. “Bukan BEMU atau DAMU yang harus diperbaiki, tapi orang-orang yang menjalankannya yang harus menerima evaluasi secara bersama, karena kalau secara sistem mungkin tetap sama dari berdiri sampai sekarang,“ ucapnya.
Dari sudut pandang lain, Ketua DAM Fikom, Salma Lazuardi Raisah Naimah berpendapat, pentingnya perbaikan dari sisi fondasi organisasi, termasuk pemetaan kebutuhan mahasiswa. “Harus ada evaluasi tentang bagaimana mengembalikan kepercayaan mahasiswa, lalu membangun program kerja yang fungsi dan kebutuhannya sesuai dengan mahasiswa, nah, yang bisa dilakukan yaitu riset lapangan, setelah nya bisa dilakukan perbaikan,“ jelasnya pada Kamis, (2/4).
Tidak hanya itu, Doni Zulfitrah Hasibuan sebagai mahasiswa Fakultas Teknik turut memberikan solusi untuk BEMU dan DAMU. Ia mengatakan, kepengurusan saat ini memegang janji yang dikatakan pada saat sumpah. Ia pun meyakinkan bahwasanya jika fungsi yang dijalankan berjalan dengan baik, maka akan berdampak baik.
Terlebih, Haikal Alfath Ramadhan sebagai mahasiswa Fikom menegaskan, evaluasi kinerja BEMU dan DAMU perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab mengingat ruang lingkup dan peran yang diemban. “Kalau dari kinerja tidak semakin membaik, setelah banyaknya kritikan harusnya mulai sadar, ya, mereka memang mulai tidak relevan lagi bahkan bukan orang lain yang harus membubarkan, tapi dari mereka sendiri yang harus bubar aja,” tegas Haikal pada Rabu, (15/4).
Alhasil, krisis relevansi BEMU dan DAMU bukan sekedar menurunnya kinerja, melainkan tanda hilangnya kepercayaan dan keterhubungan dengan mahasiswa. Jika terus dibiarkan, keduanya hanya akan tersisa sebagai wadah kosong yang kehilangan marwahnya.
Reporter: Wiam Fadlul Rahman,Dandi Pangestu Rusyanadi, & Kelvin Rizqi Pratama/SM
Penulis: Kelvin Rizqi Pratama/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
