Kolase foto Arno Zarror Vokalis Dongker sedang Meramaikan acara Tanjung Angin di Java Sumedang Coffee Shop, Jl. Raya Tanjungsari, Jatisari, Kabupaten Sumedang, pada Sabtu, (14/3). (Foto: Muhammad Chaidar Syaddad/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Gema takbir biasanya menandai kemenangan dan kebahagiaan di malam menjelang lebaran. Namun, bagi sebagian orang yang tak bisa pulang atau tetap bekerja di hari raya, hal tersebut terasa sunyi bahkan terdengar kejam seperti single berjudul, “Takbir Terdengar Kejam” yang baru dirilis oleh Grup Musik Dongker dari Bandung.
Single tersebut dirilis menjelang akhir Ramadan oleh Dongker dengan menangkap suasana hari raya yang tak selalu dirasakan sama oleh setiap orang. Vokalis Dongker, Arno Zarror menceritakan bahwa perilisan lagu itu memang sengaja dikebut agar bertepatan dengan momentum Ramadan dan Lebaran.
“Takbir terdengar kejam emang bisa dibilang dipaksakan terbit di momen yang pas. Itu momen puasa, Ramadan, dan lebaran. Makanya kami kebut rekaman, misi mastering, MV (Music Video, Red), rilis dalam kurang sebulan.” Ujar Arno di acara Tanjung Angin pada Sabtu, (14/3).
Lagu “Takbir Terdengar Kejam” sendiri ditulis oleh Delpis Suharyanto dengan mengangkat persoalan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Terkhusus, bagi orang-orang yang berada di lingkungan scene punk.
Bagi Arno, alunan lagu tersebut sengaja ditujukan untuk mewakili perasaan orang-orang yang tidak dapat merayakan hari kemenangan secara utuh. “Mewakili perasaan itu, ya, sebagai perantau ataupun orang-orang yang punya job desc kerja di hari kemenangan, mau itu kemenangan Idul Fitri, kemenangan Konghucu, Paskah, apapun pasti ada aja yang gak bisa pulang.” Tutur Arno pelan, diakhiri helaan napas.
Di balik itu, Lagu “Takbir Terdengar Kejam” tidak hanya menyinggung utopis tentang mereka yang terpaksa tetap kerja di tengah suasana Lebaran. Rasa getir itu justru semakin terasa ketika lirik-liriknya yang politis ikut menggaung.
Aku benar-benar kebingungan
Masa sulit imanku negeriku ini
…
Sepenggal bait lagu “Takbir Terdengar Kejam” dari grup asal Bandung ini menyinggung tabu sekaligus kegamangan dalam menjalani kehidupan di Indonesia. Lagu tersebut menggambarkan betapa sulitnya memadukan iman dengan sikap politis di tengah realitas sosial yang ada.
Melalui liriknya, Arno menyoroti kontradiksi yang kerap muncul pada para pejabat yang mengenakan atribut keagamaan, seperti kopiah. “Realitanya, berpolitis dengan beriman agak sulit di Indonesia. Banyak yang mengingkari iman dalam konteks politis, pejabat-pejabat dengan kopiahnya tapi banyak mengingkari juga.” Tuturnya.
Kontradiksi tersebut semakin menegaskan, merayakan malam takbir atau berkumpul dengan keluarga di hari Lebaran kerap menjadi bayangan utopis bagi sebagian masyarakat Indonesia. Melalui single ini, Arno menghadirkan gagasan fundamental untuk mengingatkan pendengar bahwa inilah wajah lagu punk politis yang memotret kehidupan urban dengan nada pesimis dan penuh kegelisahan.
Reporter: Muhammad Chaidar Syaddad/SM
Penulis: Muhammad Chaidar Syaddad/SM
Editor: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
