Foto seorang mahasiswa yang tengah menggunakan Smart Water Station (SWS) di area kampus Universitas Islam Bandung (Unisba) Jl. Tamansari No. 1, Kota Bandung pada Selasa, (8/7). (Foto: Linda Puji Yanti/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Smart Water Station (SWS) yang tersebar di lingkungan Universitas Islam Bandung (Unisba) sering kali mengalami ketiadaan ketersediaan air di beberapa titik. Pengelolaan fasilitas tersebut kini menjadi perhatian mahasiswa yang kerap mengeluhkan kerusakan SWS dan ketersediaan air untuk dikonsumsi.
SWS merupakan fasilitas yang disediakan oleh kampus sebagai upaya memenuhi kebutuhan air bersih bagi mahasiswa yang beraktivitas di lingkungan Unisba serta mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Inovasi ini merupakan hasil kerja sama antara Unisba dan PT Yipu Teknologi Alami untuk mendukung kenyamanan serta menjaga kesehatan seluruh sivitas akademika.
Kepala Seksi (Kasie) Urusan Rumah Tangga (URT) bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Administrasi Umum Unisba, Aminudin mengatakan bahwa pemeliharaan SWS yang tidak berjalan dengan baik akibat dari kurangnya sinkronisasi antara pihak kampus dengan teknisi PT Yipu Teknologi Alami. “Kemarin kelemahannya itu pengontrolan ke pihak PT Yipu nya setelah pengecekan tidak ada report, tidak ada tanda buktinya gitu,” ucapnya saat diwawancarai pada Senin, (7/7).
Aminudin melanjutkan, PT Yipu Teknologi Alami telah menerapkan 10 Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk menjaga kualitas dan stabilitas unit SWS di lingkungan kampus. Salah satu prosedur yang diterapkan mencakup upaya memastikan standar operasional unit SWS sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, Anisa Dian selaku Account Manager PT Yipu Teknologi Alami menjelaskan, sistem pemeliharan SWS dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, maintenance rutin selama satu sampai dua minggu sekali dengan cakupan pemeriksaan secara menyeluruh pada body mesin dalam skala ringan. Kedua, maintenance sedang yang dilakukan tiga sampai enam bulan sekali termasuk pemeriksaan kepada seluruh body mencangkup luar dan dalam mesin. Terakhir, troubleshoot dilakukan ketika ada laporan kerusakan.
Sebagai langkah antisipatif, PT Yipu Teknologi Alami juga memasang stiker pada setiap unitnya untuk tidak membuang apapun pada tray untuk meminimalisasi kerusakan pada SWS. “Jadi kalau antisipasi, kalau tidak salah pada 2024 sudah menempelkan untuk Unisba dan beberapa instansi pendidikan. Kita meletakkan stiker di atas tray nya, dilarang membuang sampah apapun disitu,” jelasnya pada Selasa, (1/7).
Tidak hanya itu, Anisa juga menyampaikan bahwa SWS di beberapa titik Unisba memang disiapkan menggunakan chip khusus yang telah diberikan kepada mahasiswa dan ada yang tidak. “Seiring berjalannya waktu ada juga entah dari sarpras (Sarana dan Prasarana-Red) atau dari teknisi Unisba juga mengusulkan ini jangan di kunci (menggunakan chip-Red) seperti itu jadi ini sebenarnya kita juga masih dalam tahap koordinasi seperti yang untuk mesin mana yang di kunci, mesin mana yang enggak seperti itu,” ujarnya.
Meski begitu, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi PT Yipu karena unit yang digunakan belum menggunakan fitur online untuk pengecekan secara menyeluruh terutama bila kerusakan terjadi jauh dari tanggal pemeriksaan oleh petugas. Pihaknya masih dalam proses mengembangkan sistem pemantauan jarak jauh untuk mempercepat respon perbaikan dan menjaga stabilitas unit.
Anisa menambahkan, perlu ada kerjasama antara pihak penyelenggara dengan mahasiswa untuk menjaga stabilitas unit SWS. Mahasiswa dapat melaporkan jika terjadi kerusakan pada unit kepada petugas melalui nomor telepon di setiap unit yang ada di lingkup kampus. Sehingga, jika terjadi kerusakan teknisi dapat segera melakukan penanganan.
Menanggapi hal tersebut, Afifatun Najwa selaku mahasiswa Fakultas Syariah Unisba, menilai keberadaan SWS menjadi penting karena dapat menunjang kebutuhan air bersih bagi mahasiswa. Menurutnya, SWS dapat membantu mahasiswa untuk menghemat pengeluaran terutama dalam pembelian air kemasan.
Ia berharap, SWS dapat menjadi perhatian utama pihak kampus karena banyaknya mahasiswa membutuhkan air yang layak untuk di minum. “Lebih diperhatikan lagi, apalagi kalo misalnya ada yang rusak tolong di benerin begitu,” ucapnya saat diwawancara pada Jumat, (4/7).
Senada dengan Afifatun, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Akhdan Rafi Naufali merasa bahwa SWS merupakan fasilitas kampus yang harus diadakan untuk menunjang kebutuhan mahasiswa. Menurutnya, biaya kuliah yang tinggi pun menuntut universitas menyediakan fasilitas tersebut.
Akhdan berharap, pihak kampus dapat menambah jumlah unit SWS, mengingat kebutuhan air minum mahasiswa yang kian meningkat. “Harapannya, diperbaiki dulu karena melihat yang sekarang ada banyak (Smart Water Station–Red) yang rusak, diperbanyak dan diperbaiki kualitasnya,” ujarnya pada Jumat, (4/7).
Aminudin berharap kerusakan pada SWS tidak kembali terjadi di kemudian hari karena hal tersebut berkaitan dengan fasilitas yang ada sekitaran kampus. Sehingga, segala bentuk fasilitas yang ada di kampus kedepannya dapat digunakan dengan baik oleh seluruh sivitas akademika.
Terakhir Anisa mengharap, SWS ini bisa memberikan dampak yang lebih positif kedepannya. “Harapan saya, bisa memberikan dampak yang lebih positif yang lebih luas lagi karena kalau di Unisba kita cukup bagus ya kak untuk kerja samanya cukup lancar juga,” pungkasnya.
Reporter: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM & Linda Puji Yanti/SM
Penulis: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
