Mahasiswa Pendidikan Seni Tari angkatan 2011 Universitas Pendidikan Indonesia menggelar pagelaran dramatari yang bertajuk “Nyi Pohaci Sanghyang Sri” Di Taman Budaya Jawa Barat Dago Tea House Bandung,, Rabu Malam (22/5). Dalam Pagelaran ini dimeriahkan pula oleh Ohang pelawak asal JawabBarat dengan banyolan khasnya .
Satu lagi persembahan yang disuguhkan oleh tangan-tangan kreatif mereka, sebuah dramatari yang mengisahkan keyakinan purba masyarakat agraris Nusantara. Sri Pohaci adalah sebuah nama berpredikat Sang Hyang “Sri”. Siapakah gerangan yang namanya kerap terucap dalam lantunan doa dan mantera? Ataukah symbol belaka untuk mengejawantahkan rasa syukur atas panen raya? Dewi Sri yang identik dengan Dewi Padi senantiasa hadir dalam keyakinan para petani. Namun kini sang dewi lengang dari perhatian tapi dirindukan keberkahannya. Petaka karena lupa. Lupa akan ritual memuliakannya. Memelihara hutan tanah dan air sebagai sumber kehidupan manusia. Memelihara hutan tanah dan air sebagai sumber kehidupan manusia. Dewi Sri kini dijebakan dalam ruang nostalgia. Hanya pernah ada dalam kebenaran transedental masyarakat lama.
“Pagelaran ini merupakan kreativitas mahasiswa jurusan pendidikan seni tari angkatan 2011, sebagai puncak kara kreatifnya selama menempuh pendidikan di jurusan ini. Dengan kehadiran apresiator mala mini semoga sajian ini dapat memberikan manfaat dan teladan bagi para penikmat semua.”, ujar Dr Frahma Sekarninngsih, S. Sen, M.Si, Ketua Jurusan Pendidikan Seni Tari. Pagelaran “Nyi Pohaci Sanghyang Sri” bersumber dari wawacan Sulanjana dan merupakan implementasi kuliah manajemen pertunjukan dan pagelaran tari UPI angkatan 2011.
Kian malam alur yang disuguhkan kian mengentalkan suasana khas daerah Jawa Barat dengan menggunakan dialek sunda. Penonton pun sukses dibuat berdecak kagum dengan gesture yang senada dengan lantunan music bercita rasa budaya sunda tersebut.
Singkatnya drama tari ini merupakan implementasi untuk menjunjung kembali keyakinan lawas, menggambarkan Dewi Sri dimana kehidupan yang memberikan pertolongan. Cahayanya memberikan kehangatan. Parasnya menaklukan. Bahkan kematiannya memberikan kesejahteraan. Bagai diciptakan dari berkah maka akan kembali memberi keberkahan. Dewi Sri merupakan Dewi lambing kesejahteraan.
Pagelaran ini pun dihadiri oleh Bupati Purwakarta, beliau pun memberi sambutan diakhir acara. Beliau mengatakan adanya suatu bentuk gradasi dalam dunia seni karena untuk masyarakat yang tradisional kini tak hanya mengenal organ tunggal saja namun seni tari ini pun dapat diapresiasi oleh mereka.
Sebagai pamungkas Ketua Pelaksana dramatari ini menyampaikan rasa terimakasihnya atas apresiator yang telah hadir dan semua pihak yang terlibat dalam pagelaran drama tari ini. “ Tidak ada kata yang dapat terucap dari lubuk hati yang paling dalam kecuali Terimakasih dan SemangArt !” Ujar Asep Hadi Prayoga.(Rimma A./SM)
