Potret massa aksi memperingati International Women's Day di Jl. Dr. Ir Sukarno, Kota Bandung, pada Minggu, (8/3). (Foto: Siti Nurhalizah/Job).
Suaramahasiswa.info, Unisba–Berbagai organisasi dan elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Simpul Puan merayakan International Women’s Day (IWD) 2026 di Cikapundung River Spot, Jl. Dr. Ir. Sukarno, Kota Bandung, pada Minggu, (8/3). Aksi ini digelar untuk menyuarakan persoalan perempuan serta kelompok rentan di tengah kondisi sosial yang menekan masyarakat sipil.
Koordinator Lapangan (Korlap), Levi menuturkan, aksi kali ini dilatarbelakangi oleh perjuangan pekerja perempuan pada awal 1900-an yang memperjuangkan hak-haknya hingga kemudian diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia. Menurutnya, peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengingat perjuangan perempuan yang kerap berada dalam kelompok rentan.
“8 Maret sejarahnya adalah guru-guru perempuan pada saat itu memperjuangkan hak-haknya pada awal 1900-an, sampai akhirnya hari perempuan pekerja sedunia jadi hari perempuan sedunia. Begitu jadinya untuk memperingati juga kita mengingat perjuangan perempuan yang ada, perempuan ini di setiap isu itu menjadi kelompok yang rentan,” ujarnya pada Minggu, (8/3).
Tajuk IWD tahun ini, ‘Perempuan Bangkit Kembali, Hancurkan Jeruji Fasisme’ diangkat sebagai bentuk keprihatinan terhadap meningkatnya tindakan represif dan kekerasan terhadap masyarakat sipil yang berdampak pada perempuan. Selain itu, menjadi ajakan bagi perempuan untuk bangkit dan menolak praktik fasisme.
Salah satu peserta aksi, Nesta Pradita ungkap bahwa masih banyak hak dasar perempuan dan kelompok minoritas yang belum terpenuhi hingga saat ini. “Karena melihat kondisi sekarang, masih banyak hak dasar manusia utamanya bagi kaum perempuan, kaum minoritas dan kaum marginal yang masih tertindas oleh para penguasa,” ungkap Nesta pada Minggu, (8/3).
Nesta berharap, peringatan IWD tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan semata. Ia melanjutkan, aksi seperti ini harus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan berbagai persoalan yang masih dialami perempuan serta kelompok minoritas.
Peserta lainnya, Maye mengatakan, ia kembali mengikuti aksi IWD setelah sebelumnya menghadiri kegiatan serupa tahun lalu. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap berbagai persoalan yang terjadi saat ini.
Maye berharap, semakin banyak masyarakat dari berbagai kelompok usia yang terlibat dalam peringatan IWD di masa mendatang. “Aku berharapnya, semoga lebih banyak lagi rentan usia yang datang, kedepannya semoga banyak yang dateng, lebih banyak yang bisa sharing lagi ilmunya karena gak semua dari kita punya akses, satu pemahaman bareng,” tutup Maye saat diwawancarai pada Minggu, (8/3).
Reporter: Siti Nur Halizah/Job
Penulis: Siti Zahra Aulia/Job
Editor: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
