Foto: Dokumentasi Pribadi
Suaramahasiswa.info, Unisba – Betapa menyebalkannya perjalanan ini: dengan kedua tangan kedinginan menggenggam rem agar tak terkena dampak gravitasi, kacamata yang terus meloncat keluar dari orbitnya, dan buff yang tak mampu melindungi hidung dari pekatnya debu. 4 jam perjalanan bukanlah hal yang baik untuk pantat kami, yang telah lama bersenggama dengan syahdunya kemenangan persib, menunggu datangnya salah satu rekan kami, N. Istihsan yang hilang dari tempat seharusnya, dan jarak yang berkelok nan ‘nuhun’ karena sekian kalinya menghantam mesin motor tercinta.
Dan ketika kami telah melewati hutan yang pekatnya menutupi cahaya rembulan, secercah harapan pun tiba; bersit cahaya senter menerangi 5 motor kami. Dengan semangat, kami menancapkan gas motor tanpa peduli kondisi jalan dan mengikuti alur sinar tersebut. Namun ketika kami sampai di sumber cahaya dan hendak memarkir kendaraan disana, mereka berkata. “Naon, ini mah pos bayangan tiga, parkiran di sana,” katanya menunjuk sumber cahaya yang lebih besar laiknya lampu Batman.
Ternyata, kami mengambil jalan memotong. Mesin bercodet dan ban yang penuh lumpur merupakan hadiah yang cukup manis atas kekonyolan ini. Kitsch yang benar-benar kampung bila bermain ke pedesaan, memang.
***
“Mangga, hatur nuhun udah datang. Sok weh santai-santai,” ujar Faris, ketua KMJ yang menyambut hangat kami ketika sampai di tempat parkiran. Sejenak terdengar jangkrik mengaduh, berpadu bersama gemercik air yang diucapkan sungai. Pasir Jambu tengah malam tampak sexy dengan kemegahannya. Bukit yang terpancang kokoh, sungai yang mengalir dibawahnya bersama tenda peserta dan panitia merupakan bukti shahih. Malam menusuk kuduk. Ah, cocok sekali bila kopi mengalir meneduhkan kerongkongan kala itu.
Setelah bersalam-salaman bersama seluruh insan yang berada di kawasan tenda dan membekali termos dengan kopi, kami pun meminta izin untuk mengikuti track. Boleh saja, katanya. Maka, dengan segera kami melangkahkan jejak di pasir yang kering dengan tujuan Pos 3. Rembulan tidak penuh, namun cukup ranum untuk menelanjangi langkah kami, meskipun kelompok peserta hampir semuanya telah menunaikan ‘ibadah’nya dan kembali ke tenda.
Setelah menggapai pos satu yang mengulas kejurnalistikan dan dua yang mengulas kekeluargaan, kami pun bergerak terus menuju Pos 3: menyampaikan kepada Om Aris bahwa alumni SM cum mahasiswa jurnalistik era milenia awal, Bang Frino dan Bang Fauzan tidak bisa ikut menghadiri acara ini. Setelah melewati persimpangan kebun teh yang teduh dan saling beradu, kami turun menuju kesana. Entah kenapa aura mengerikan turut menyelimuti saya, padahal saya masih di atas. Brutal dan menantang. Ah, saya suka itu. Dan setelah sejenak beristirahat disana, kami hijrah dan singgah di pos terakhir sebelum upacara sakral terakhir berdendang: Api Unggun.
Dalam tumbukan alami yang dicipta api, nampak pula 48 kawanan pejuang yang baru, berbahagia. Disaksikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang, puluhan tubuh yang menggigil hening, dan flare merah, yang menurut Om Aris, merupakan flare kadaluarsa. (Hasbi Ilman/SM)
