Suasana Lapangan Teuku Umar, Jl Teuku Umar, Kota Bandung, yang sedang digunakan untuk bermain sepak bola pada Jumat, (6/11). (Foto: Muhammad Chaidar Syaddad/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Lapangan Teuku Umar pada Jumat, (6/11) tampak ramai oleh sejumlah pemuda yang tengah bermain sepak bola. Namun, suasana ramai itu diiringi kekhawatiran akan nasib lapangan tersebut ke depannya.
Kekhawatiran itu bermula dari beredarnya kabar bahwa Lapangan Teuku Umar akan diubah menjadi skatepark. Jerynaldy Irfan, perwakilan dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Teuku Umar Soccer Club, menyebut kabar tersebut memicu keresahan komunitas sepak bola yang selama ini menggunakan lapangan.
Padahal, Lapangan Teuku Umar telah lama menjadi ruang bagi masyarakat bermain sepak bola. Dulu, sekitar 70 persen area tersebut digunakan sebagai lapangan sepak bola lalu sisanya merupakan tempat bermain anak-anak seperti seluncuran dan guha-guhaan.
Jauh sebelum dikenal sebagai Teuku Umar Soccer Club, komunitas ini awalnya menggunakan nama Teuku Umar, Imam Bonjol, dan Raden Patah (Teimer). Menurut Jerynaldy, Teimer bermula dari kumpulan sepak bola yang dibentuk generasi terdahulu karena saat itu belum tersedia lapangan sepak bola di wilayah tersebut.
Seiring berjalannya waktu, lapangan ini terus digunakan dan dibenahi bersama. Kepin (bukan nama sebenarnya), salah satu warga yang telah lama bermain di sana mengenang kondisi lapangan yang dahulu masih sederhana dengan gawang kayu dan tanah yang belum tertata.
Oleh karena itu, kabar mengenai perubahan fungsi lapangan menimbulkan kekecewaan bagi masyarakat serta komunitas sepak bola. Selain itu, Kepin mengungkapkan bahwa kesedihan tidak hanya dirasakan komunitas sepak bola, tetapi juga anak-anak SSB dan orang tua mereka.
“Anak-anak kecil yang kita bikin SSB-nya ini Teuku Umar pada nangis mau dibuat lapang skate tuh nangis ke ortunya.” Kata Kepin.
Warga sekitar sampai kolektifan sepak bola juga turut mendukung bertahannya lapangan sepak bola ini. Jerynaldy bahkan telah bertanya langsung kepada temannya di komunitas skatepark, mereka justru menginginkan revitalisasi fasilitas skatepark yang biasa mereka gunakan saja bukan pembangunan fasilitas baru di Lapangan Teuku Umar.
Menurut informasi yang didapat Jerynaldy, Lapangan Teuku Umar diurus oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP). Namun, hingga kini warga sekitar belum mendapat ruang untuk berdialog secara terbuka mengenai rencana itu.
Bagi Jerynaldy, revitalisasi lapangan bukanlah hal yang ditolak. Dirinya justru setuju untuk revitalisasi tapi harus tetap mempertahankan fungsi lapangan sebagai tempat bermain sepak bola, tanpa banyak mengurangi luas area yang tersedia.
“Misalkan ini kan lapangan ibaratnya ukurannya nyampai lah 57 meter gitu, kalau misalkan ibaratnya menyusut sedikit menjadi 50 meter x 30 meter sesuai standar nasional, itu yang kita minta.” Jelas Jerynaldy.
Lapangan ini menjadi wadah bagi pemuda, orang tua, hingga anak-anak untuk berkumpul. Jerynaldy dan Kepin berharap lapangan tersebut tetap berfungsi seperti sekarang dan tidak dialihfungsikan.
Reporter: Muhammad Chaidar Syaddad/SM
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
