Potret kolase yang menampilkan beberapa poin pembahasan dalam buku akar dan dalang, dari penggulingan Soekarno hingga pengangkatan Soeharto setelah G30S. (Ilustrasi: Wiam Fadlul Rahman/SM)
Suaramahasiswa.info, Unisba- Akar dan Dalang lahir dari pengalaman Suar Suroso sebagai penyintas pergolakan politik 1965. Pengalaman tersebut menjadi pijakan Suroso untuk tidak sekadar mengulang cerita Gerakan 30 September (G30S), tetapi berusaha membongkar apa yang berada di balik peristiwa itu, kepentingan yang bekerjasama di dalamnya, serta dampaknya terhadap para korban.
Sebagai penulis yang banyak membahas Marxisme, gerakan komunis, dan politik internasional, Suroso membaca G30S dalam konteks yang lebih luas. Konflik politik Indonesia ditempatkannya dalam pusaran Perang Dingin, ketika pertarungan antara ideologi blok Barat dan blok Timur turut memengaruhi dinamika politik di berbagai negara, termasuk indonesia.
Sudut pandang itu membuat Suroso mempertanyakan narasi yang selama ini menempatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai satu-satunya dalang G30S. Ia mengarahkan perhatian pada kekuatan lain yang menurutnya memiliki kepentingan terhadap perubahan politik Indonesia, termasuk Amerika Serikat dan jaringan Perang Dingin.
Akar di Balik G30S
Dalam buku Akar dan Dalang, Suroso melihat G30S sebagai bagian dari pertarungan politik yang lebih panjang bukan peristiwa yang muncul begitu saja. Ia menyoroti kepentingan Amerika Serikat dan kekuatan anti-komunis dalam membendung pengaruh PKI dan Soekarno di tengah Perang Dingin.
Suroso pun berpandangan bahwa Angkatan Darat menjadi kekuatan penting dalam pertarungan tersebut. Ia mengaitkan adanya peningkatan kekuatan kelompok anti-komunis di tubuh militer dengan sejumlah perwira dan jaringan Amerika, termasuk Central Intelligence Agency (CIA) yang menurutnya turut membentuk kondisi politik sebelum dan sesudah G30S.
Baginya, dampak G30S tidak berhenti pada peristiwa 30 September 1965. Penumpasan kekuatan kiri, melemahnya posisi Soekarno, hingga naiknya Soeharto dilihat sebagai rangkaian perubahan yang mengakhiri kekuasaan Soekarno dan membuka jalan bagi Orde Baru.
Membaca Kembali Sejarah 1965
Kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya mengusik cerita sejarah yang sudah lama dianggap mapan. Suroso menggeser pertanyan dari sekadar “siapa pelakunya?” menjadi “kepentingan siapa yang bekerja di baliknya?”.
Namun, keberanian itu juga menjadi alasan buku ini perlu dibaca dengan sikap kritis. Perspektif Marxis yang digunakan Suroso membuat pembaca perlu memilah mana fakta yang disajikan, mana tafsir penulis, dan bagaimana keduanya digunakan untuk bermuara pada kesimpulan.
Hal baru yang disuguhkan Akar dan Dalang bukan semata jawaban lain tentang siapa dalang G30S. Buku ini membuka ruang untuk melihat bahwa di balik suatu peristiwa sejarah terdapat pertarungan kepentingan, perubahan kekuasaan, dan manusia yang harus menanggung akibatnya.
Pada akhirnya, Akar dan Dalang mengajak pembaca tak berhenti pada tanggal 30 September. Sebab, untuk memahami 1965, pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang terjadi malam itu, tetapi apa yang terjadi setelahnya dan kepada siapa sejarah akhirnya berpihak.
Penulis: Wiam Fadlul Rahman/SM
Editor: Siska Vania/SM
