suaramahasiswa.info, Unisba- Perselisihan antar netizen Asia Tenggara dan Korea Selatan di media sosial sempat viral pada Februari 2026 lalu. Konflik bermula ketika seorang fansite boy group Korea POP (K-POP) asal negri gingseng membawa kamera profesional yang dinilai jelas melanggar peraturan konser yang terlaksana di Malaysia.
Perdebatan yang awalnya terjadi antar penggemar K-POP malah berujung memanas ketika fansite tersebut enggan meminta maaf dan meninggalkan komentar negatif kepada netizen Asia Tenggara. Ujaran kelompok netizen Korea Selatan yang disebut K-Netz dan kelompok Asia Tenggara yang dihimpun sebagai ‘SEAblings’ menjadi viral di platform X dan komentar Youtube.
Ujaran kebencian yang dilontarkan pun malah berujung pada ujaran rasisme antar dua kelompok netizen. Menurut survei BeData Technology, tren menunjukkan perdebatan dimulai dalam lingkup kecil pada (11/2) dan semakin meningkat hingga (18/2).
Pada platform X, tanggapan publik mengenai perdebatan ini didominasi oleh kritik negatif mencapai 57,9% sedangkan komentar positif hanya 17,2%. Hal ini menunjukan banyak dari respon netizen yang memberikan reaksi negatif daripada pembahasan positif maupun netral.
Komentar negatif tersebut diungguli dengan kata ““korea”, “knetz” dan “seablings” yang menegaskan diskusi berpusat pada konflik netizen Korea Selatan dan Asia Tenggara. Selain itu, istilah seperti “rasis”, “menghina”, dan “war” mencerminkan tuduhan masif meski tetap berakar pada konteks idol dan budaya K-pop.
Lain halnya dengan komentar di YouTube, tanggapan negatif terlihat jauh lebih besar mencapai 67,7% diungguli dengan kata “orang”, “korea”, dan “indonesia”. Sementara komentar positif hanya berkisar 10,8% dan diungguli dengan kata “indonesia” dan “korea”. Inilah yang menggambarkan komentar yang berisi perasaan emosional dibandingkan percakapan yang lebih santai.
Perkembangan percakapan di X dan YouTube menunjukkan pola yang serupa karena diawali dengan respon yang relatif sepi, lalu meningkat tajam dan memuncak ketika isu semakin tersebar luas terutama melalui retweet pada platform X. Tidak hanya itu, sentimen negatif tumbuh paling dominan dan cepat, menandakan mayoritas merespons emosional dengan kemarahan dan kritik antar dua kelompok.
Sumber: BeData Technology
Penulis: Raisa Aleyda Nurunnisa/Job
