Epong (50) seorang marbot masjid Al-Asy’ari Unisba sedang merapikan beberapa mukena yang telah dipakai mahasiswa, Selasa (31/12).
Epong (50) seorang marbot masjid Al-Asy’ari sedang merapikan beberapa mukena yang telah dipakai oleh para mahasiswa, Selasa (31/12). (Khalida/jobs)
PEREMPUAN yang berusia 50 tahun ini adalah sosok seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 orang anak. Anak pertamanya sudah menikah dan sudah bekerja sehingga ia tak perlu lagi membiayai kehidupan mereka. Namun, ia masih harus mengurusi suaminya yang terbaring lemah di atas kasur. Suaminya menderita penyakit diabetes yang cukup parah, sehingga tak sanggup lagi untuk mencari nafkah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Epong bekerja sebagai marbot di masjid Al-Asy’ari Unisba.
Penghasilan yang didapat memang tidak besar, untuk kehidupannya sehari-hari pun dirasa kurang. Meskipun hidup dengan kesederhanaan, Epong tak pernah mengeluh dengan keadaan. “Bersyukur aja neng ibu mah, meskipun penghasilan cuma 250.000 per bulan tapi ibu cukup-cukupin aja” ucapnya sambil merapikan mukena. Terkadang anak-anaknya ikut membantu mencukupi kehidupannya, meskipun hanya sesekali saja.
Setiap pagi menjelang, wanita yang berperawakan kecil ini selalu mengurus pekerjaan rumah tangganya, dari mulai membersihkan rumah, mengurusi suami, memasak dan mencuci. Hingga menjelang dzuhur dan Ashar, ia pergi ke Masjid Al-Asy’ari untuk merapikan mukena yang telah dipakai oleh para mahasiswi. Dengan penuh keikhlasan, ibu dari empat orang anak ini melakukan semua pekerjaannya meskipun merasa lelah. Karena ia tahu, tak ada lagi yang dapat diandalkan selain dirinya sendiri, ia tidak mau membebani orang lain.
Wanita yang berjilbab ini merasa sangat beruntung dapat mengenal sosok Wildan Yahya, yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Dakwah Unisba sekaligus ketua DKM masjid Al-Asy’ari. Selain itu di sela-sela kesibukannya wanita pekerja keras ini sering ikut aktif dalam kegiatan PKK dan mengikuti pengajian rutin.
Meskipun pekerjaannya terbilang sederhana, namun berkat kerja kerasnya mukena mesjid selalu terlihat rapi dan nyaman. Sayangnya, ada sebagian mahasiswa yang tidak memiliki kesadaran sehingga mereka menyimpan mukena bukan pada tempatnya. “Saya suka kasian kalau ngeliat ibu ngerapiin mukena, karena mahasiswanya tidak memiliki kesadaran sendiri padahal sudah jelas dihimbau bahwa jika menggunakan mukena rapikan kembali ke tempatnya” ucap Annisa salah satu mahasiswa Farmasi angkatan 2009.
Ketabahan yang dimiliki Ibu Epong, membuat dirinya selalu merasa bersyukur. Meski terkadang merasa lelah dengan semua pekerjaannya, ia tetap semangat menjalani kehidupan. Pesan yang disampaikan kepada para mahasiswa agar selalu bersemangat dalam menjalani kehidupan, jangan cepat puas dengan apa yang dimiliki, dan tak lupa umtuk selalu bersyukur. (Khalida dan Annisa/Jobs)
