Seorang mahasiswi melewati pintu toilet di pelataran Fakultas Ilmu Komunikasi (30/12). Keadaan toilet yang dirasa jauh dari layak, terpaksa harus dinikmati para masyarakat kampus biru.
Seorang mahasiswi melewati pintu toilet di pelataran Fakultas Ilmu Komunikasi (30/12). Keadaan toilet yang dirasa jauh dari layak, terpaksa harus dinikmati para masyarakat kampus biru.
Suasana pengap mulai terasa ketika kita memasuki Toilet. Sampah yang bertebaran dimana-mana dan juga bau yang menyengat muncul dari pembuangan yang tidak berfungsi terlalu baik membuat wc di Unisba terasa kurang nyaman. Apalagi ruangan ini tidak mempunyai ukuran yang pas untuk dimasuki banyak orang. Kecuali toilet kawasan Mesjid yang memang mempunyai ukuran yang besar. Mungkin hal ini dimaksudkan agar wc tersebut bisa cukup banyak untuk menampung mahasiswa/i yang akan mengambil air wudhu.
Jika boleh dibilang salah satu tempat yang vital di suatu bangunan adalah wc. Ada kutipan yang mengatakan apabila mau melihat sebuah rumah itu bersih atau tidaknya, cukup lihat dari toiletnya saja, dari sanalah akan tercermin sifat si penghuninya. Sedangkan di Unisba sendiri, keadaan wc masih jauh dari kata bersih. Jadi artinya? Penghuni Unisba masih belum terlalu peka terhadap kebersihan kampusnya.
Terjadi keganjilan di sini, dimana wc pria lebih bersih dibandingkan dengan wanita. Menurut Isma Nabilah (18) seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi 2013 mengungkapkan fasilitas toilet masih belum baik. “Kalau menurut saya wc yang paling better sih di masjid buat wc cewe, kalau masalah fasilitas masih kurang dan belum memadai,” paparnya sembari asik menikmati makanan.
Iwan Hermawan selaku bagian kebersihan Kamtiber menuturkan bahwa kesadaran mahasiswa sendiri merupakan salah satu hal yang penting. Hal ini ditujukan untuk menjaga kebersihan di lingkungan wc maupun Universitas. “Sebenarnya itu merupakan tanggung jawab bersama, kita tidak bisa menyerahkan semua kebersihan kepada cleaning service saja tapi kita juga harus turut menjaga kebersihan itu sendiri,” ungkapnya saat dijumpai di Gedung Rektorat.
Banyak dana yang dikeluarkan untuk menunjang kebersihan di kampus biru ini. Menurut sumber, kampus ini mempunyai delapan puluh satu cleaning service yang bekerja dari pukul enam pagi sampai pukul enam sore. Unisba mengeluarkan uang sebesar satu milyar per tahunnya hanya untuk menggaji mereka saja. Ironis memang apabila melihat nominal angka yang dikeluarkan pihak Universitas untuk menggaji cleaning service dengan hasil kerja yang tidak terlalu baik. Pihak Universitas pun mengamini hal itu.
Perekrutannya sendiri masih mengusung cara ala dinasti cina, yang artinya cleaning service diambil dari keluarga karyawan Unisba sendiri. Jadi ketika dia melakukan kesalahan, ada rasa tidak enak untuk menegur. Hal ini membuat kesalahan yang dilakukan oleh petugas kebersihan dibiarkan begitu saja tanpa ditegur, maka dari itu hal yang salah akan terus menjadi salah tanpa adanya pembenaran.
Miris memang apabila melihat kondisi kebersihan di kampus biru ini. Pihak Kamtiber pun merasa sedih dengan keadaan toilet maupun lingkungan di Universitas. Mereka merasa bahwa mahasiswa/i belum bisa menjaga kebersihan. Padahal kebersihan itu tanggung jawab dari semua civitas Unisba bukan hanya tanggung jawab cleaning service saja. (Winda R., Riska Novianti W./Job)
