Potret mahasiswa Fakultas MIPA tampak menunggu kelas dan mengerjakan tugas di Bangku Korea (Bangkor) Gedung Fakultas MIPA, Jl. Ranggagading No.8, Tamansari, Kota Bandung, pada Rabu, (11/3). (Foto: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Di tengah pelaksanaan bulan Ramadan, aktivitas perkuliahan di Universitas Islam Bandung (Unisba) tetap berlangsung seperti biasa. Namun, pihak kampus melakukan penyesuaian waktu belajar dengan mengurangi durasi perkuliahan di kelas.
Melalui Surat Edaran Nomor 247/A.18/Bak-k/II/2026, Unisba menyampaikan imbauan penyesuaian durasi perkuliahan yang semula lima puluh menit menjadi empat puluh menit per-Satuan Kredit Semester (SKS). Imbauan ini diterapkan selama bulan Ramadan sebagai bentuk penyesuaian kegiatan akademik.
Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Warek Belmawa) Unisba, Asnita Frida B. R. Sebayang menjelaskan bahwa imbauan tersebut dilakukan untuk memberikan ruang bagi sivitas akademika dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadan. “Resmi dari Warek bidang Belmawa ke seluruh fakultas untuk disebarluaskan. Pertemuan tatap mukanya diperkecil, jadi penyesuaian ya bukan pengurangan, “ ucapnya saat diwawancarai pada Senin, (9/3).
Asnita menambahkan, monitoring menjadi langkah yang dilakukan agar proses pembelajaran tetap berjalan selama bulan Ramadan. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan e-kuliah seperti penyediaan materi dan forum, kuesioner mahasiswa, serta kanal whistleblower yang bisa diakses oleh siapapun melalui Direct Message (DM) atau ke bagian kemahasiswaan.
Di sisi lain, efektivitas penyesuaian jam kuliah juga dipantau melalui aktivitas di e-kuliah dan masukan dari mahasiswa, seperti melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di setiap fakultas. “Sepanjang semuanya dilakukan dengan inovasi, insyallah. Jadi tidak mengandalkan bertatap muka, ya,” jelas Asnita.
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), Rita Gani menilai penyesuaian tersebut cukup efektif karena mahasiswa tetap dapat mengikuti perkuliahan dengan baik selama bulan Ramadan. “Jadi anaknya nggak ngantukan, materinya juga jadi lebih cepat tersampaikan dan padatnya itu berasa, dari segi fisik dosen yang mengajar juga membantu karena kalau kita puasa ngajar, harus ngomong dan interaksi juga cukup melelahkan, ya,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa, (3/3).
Rita menambahkan, penyampaian materi olehnya di kelas pun dibuat lebih ringkas, seperti meniadakan toleransi waktu keterlambatan mahasiswa, pengurangan jumlah contoh dari dua menjadi satu serta pertanyaan dari empat menjadi dua. Ia juga mengharapkan agar dosen dan mahasiswa dapat lebih tepat waktu serta fokus pada inti materi agar pembelajaran tidak melebar ke pembahasan yang tidak relevan.
Sementara itu, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Program Studi (prodi) Farmasi, Kiki Mulkiya Yuliawati, menyetujui adanya penyesuaian tersebut agar mahasiswa dan dosen dapat lebih fokus menjalankan ibadah puasa. “Jangan sampai gara-gara aktivitas belajar mengajar, padahal tadi sudah kuliah gitu jadi batal,” ujar Kiki saat diwawancarai pada Kamis, (5/3).
Senada dengan Rita, Kiki menyebut pengurangan durasi kuliah membuat dosen perlu menyesuaikan metode penyampaian pembelajaran di dalam kelas, termasuk dalam mengatur interaksi antar mahasiswa serta kesempatan mahasiswa untuk maju ke depan kelas. “Jadi mau efektif atau tidak, mah, itu akan tergantung banyak faktor, bukan karena lagi bulan puasa jadi kurang fokus,“ katanya.
Menanggapi hal tersebut, mahasiswa FMIPA Prodi Farmasi angkatan 2024, Rafi Muhammad Fazlullah berpendapat, jika pembelajaran menjadi kurang efektif karena adanya pengurangan durasi perkuliahan. “Lumayan juga lagi bulan puasa menghemat energi, tapi kaya mata kuliahnya jadi terburu buru, dosen menyampaikan materi jadi nggak efektif, lah, karena waktunya dipotong,” tuturnya saat diwawancarai pada Rabu, (4/3).
Tak hanya itu, mahasiswa Fikom angkatan 2022, Muhammad Nadhif Aryaputra Fajar mengatakan dirinya sempat mengikuti perkuliahan yang dipersingkat satu jam lebih cepat dari total tiga SKS. “Sepertinya efektif, ya, kalau menurut aku. Kan, kalau puasa lemes, jadi kurang efektif kalau belajar di kampus atau kelas, fokusnya bakal berkurang,” jelasnya saat diwawancarai pada Kamis, (5/3).
Meski demikian, Muhammad berharap dosen dapat memberikan informasi yang lebih jelas kepada mahasiswa terkait pelaksanaan perkuliahan. Sehingga, mahasiswa dapat mengetahui apabila kelas akan dilaksanakan secara luar jaringan (luring) atau dalam jaringan (daring).
Terakhir, Asnita pun berharap Ramadan dapat menjadi momentum bagi sivitas akademika Unisba untuk meningkatkan ibadah sekaligus memperdalam ilmu pengetahuan. “Sehingga tadi, ada capaian di pembelajaran metodenya harus inovatif, dosennya harus fokus untuk mengembangkan keilmuan dan mahasiswanya juga merespon dengan baik.” Harapnya.
Reporter: Kelvin Rizqi Pratama & Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
