Suasana lenggang sekitar Gedung Hj. Kartimi Kridhoharsojo dan Gedung Rhm. Saddak Universitas Islam Bandung (Unisba), tepatnya di Jalan Tamansari 1, Kota Bandung pada Selasa, (2/9). (Foto: Sausan Mumtaz sabila/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Semenjak penembakan gas air mata oleh Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Jawa Barat dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Komando Daerah Militer (Kodam) III Siliwangi di Universitas Islam Bandung (Unisba) pada Senin, (1/9) lalu berbagai aktivitas akademik maupun organisasi menjadi terhambat. Hal tersebut disebabkan oleh kecemasan mahasiswa untuk kembali beraktivitas di lingkungan kampus.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor III Unisba, Amrullah Hayatudin memastikan kampus tetap menjadi tempat yang aman. Ia menyebut perlindungan datang dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) serta Pusat Bantuan dan Konsultasi Hukum (PBKH) Unisba.
Amrullah menambahkan, tidak ada kegiatan yang dibatalkan dan menjamin kondisi kampus tetap aman untuk beraktivitas. “Bapak nggak sampai mendengar bahwa ada kegiatan-kegiatan yang dibatalkan, alhamdulillah aman, nggak usah takut.” Ujarnya saat diwawancarai pada Selasa, (9/9).
Sama dengan itu, Kepala Bagian Akademik Unisba, Rully Nurhasan Ramadani juga mengatakan jika aktivitas akademik di kampus masih berjalan normal. “Kalau dari akademik sendiri sih, masih merasa normal-normal saja kegiatannya, baik itu untuk peminjaman ruangan juga selama ini tidak ada yang mengkonfirmasi pembatalan,” ujar Rully saat diwawancarai pada Senin, (8/9).
Rully melanjutkan, pihak akademik maupun Warek III tidak mengeluarkan informasi terkait pembatasan aktivitas kampus pascapenembakan gas air mata. Namun, ia menyebut Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) sempat mengeluarkan surat edaran perkuliahan daring untuk semester antara meski hanya berlangsung sebentar.
Sementara itu, Ketua Paduan Suara Mahasiswa (Pasuma) Unisba, Riza Langga ungkap kondisi kampus setelah insiden membuat kegiatan organisasi terhambat. Ia menuturkan sebelum terjadinya insiden, dirinya dan anggota Pasuma tidak merasa cemas selama berkegiatan di lingkungan kampus. Namun, kini kondisi kampus dinilai tidak lagi kondusif dan menimbulkan kewaspadaan.
Riza melanjutkan, latihan rutin dan program kerja pun ikut terganggu karena waktu yang berdekatan dengan aksi. “Kita tuh kebetulan mau melaksanakan 17 Agustusan. Tapi pelaksanaannya di tanggal 31 Agustus. Nah, 31 Agustus itu terjadi pas banget gitu ketika kita mau menjalankan program kerja kita, ada peristiwa yang memang kurang kondusif lah gitu.” Ujarnya saat diwawancarai pada Selasa, (9/9).
Akibat situasi tersebut, Riza menyampaikan kemungkinan jadwal latihan Pasuma akan diubah karena kondisi kampus masih dianggap kurang kondusif. Latihan yang biasanya dilakukan sore hingga malam rencananya digeser ke siang hari.
Senada dengan Riza, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Perguruan Tinggi (Hipmi PT) Unisba, Wijdan Mi’raj Zufar juga mengaku cemas setelah adanya insiden penembakan gas air mata. Ia menginstruksikan seluruh rapat atau kegiatan sementara waktu dialihkan ke luar area kampus.
Selanjutnya, Wijdan menuturkan program kerja Unisba National Business Competition (UNBC) 2025 yang dilaksanakan pada 31 Agustus tetap dilaksanakan setelah berkoordinasi dengan pihak kemahasiswaan. “Saya dapat kabar kalau insyaallah tanggal 31 itu nggak ada aksi, jadi kita tetep gelar. Tapi itupun sedikitnya kita paksakan gitu ya, karena menyangkut banyak pihak.” Ujarnya pada Selasa, (9/9).
Wildan turut menghimbau anggotanya untuk saling menjaga diri dan tetap berkomunikasi. Ia juga mengurangi kegiatan HIPMI PT di lingkungan kampus untuk sementara waktu hingga suasana dan situasi kembali kondusif.
Wijdan berharap kampus bisa menjadi ruang yang aman dan nyaman, sekaligus dapat menjadi tempat menyalurkan apa yang harus disuarakan. Di sisi lain, Riza juga berharap kampus dapat kembali kondusif dan aktivitas akademik maupun organisasi dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya kekhawatiran atau kecemasan.
Rully berharap kampus dapat kembali berjalan normal baik dari kegiatan akademik maupun organisasi. “Kalau dari saya jangan takut dari tindakan yang memang selama kita yakini itu benar. Toh juga kampus masih akan di posisi itu.” Tutup Rully.
Reporter: Dandi Pangestu Rusyanadi, Linda Puji Yanti, Siska Vania/SM
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
